Â
Liputan6.com, Jakarta - Pada akhir Bagian I, saya meninggalkan sebuah pertanyaan. Bayangkan dua tokoh alegoris: Pupuk dan Benalu. Setelah sepuluh tahun, keduanya sama-sama memiliki kekayaan sebesar US$1 juta. Dalam rekening bank, nilainya sama. Tetapi, apakah US$1 juta milik Pupuk dan US$1 juta milik Benalu mempunyai arti yang sama bagi perekonomian?
Untuk menjawabnya, kita harus melihat bagaimana keduanya memperoleh uang tersebut. Sebab, uang tidak hanya memiliki jumlah, tetapi juga mempunyai jejak. Dari jejak itulah kita dapat melihat masa depan seperti apa yang sedang dibangun.
Advertisement
Perjalanan Pupuk
Sepuluh tahun sebelumnya, Pupuk memulai sebuah usaha kecil. Ia menyewa tempat, membeli beberapa mesin, mempekerjakan lima orang, lalu mencari pelanggan. Tahun pertama berjalan buruk. Produknya terlalu mahal, kualitasnya biasa saja, sementara pesaing menjual barang yang lebih baik. Beberapa pelanggan pun pergi.
Pupuk memiliki dua pilihan: mencari jalan pintas atau memperbaiki dirinya. Ia memilih menjadi lebih baik. Ia mengganti mesin, mempelajari teknologi baru, melatih pekerjanya, memperbaiki produk, menekan biaya, dan mendengarkan keluhan pelanggan. Setelah itu, ia mencoba lagi. Sedikit demi sedikit, usahanya berkembang.
Lima pekerja menjadi dua puluh, kemudian lima puluh. Pemasok lokal mulai memperoleh pesanan, pekerja mendapatkan keterampilan baru, dan bank mulai mempercayainya. Perusahaan pun membayar pajak lebih besar. Sebagian keuntungan tidak dibawa pulang, melainkan ditanamkan kembali untuk membeli mesin baru dan melatih pekerja. Produktivitas meningkat, produknya semakin mampu bersaing dengan barang impor, bahkan sebagian mulai diekspor. Devisa yang sebelumnya keluar dapat dihemat, sementara devisa baru mulai masuk.
Setelah sepuluh tahun, Pupuk berhasil mengumpulkan kekayaan sebesar US$1 juta. Namun, jangan hanya melihat angka tersebut. Lihatlah apa yang tertinggal di belakangnya: perusahaan yang sebelumnya tidak ada, pekerjaan baru, pekerja yang lebih terampil, pemasok yang berkembang, mesin, teknologi, pelanggan, pajak, serta kemampuan ekspor. Ada pula sebuah organisasi yang sekarang mampu menghasilkan lebih banyak daripada sepuluh tahun sebelumnya.
US$1 juta milik Pupuk bukan sekadar uang. Kekayaan itu merupakan hasil dari sebuah proses yang sekaligus membangun kemampuan. Pupuk menjadi kaya, tetapi dalam proses menjadi kaya, orang lain ikut menjadi lebih produktif. Itulah ekonomi produktif.
Sekarang Kita Ikuti Benalu
Benalu tidak mempunyai pabrik. Ia tidak menciptakan produk, tidak mengembangkan teknologi, dan tidak mempunyai laboratorium. Namun, Benalu memiliki aset yang sangat berharga dalam ekosistem yang salah, yaitu akses. Ia tahu siapa yang harus ditelepon, siapa yang memiliki kewenangan, dan pintu mana yang harus diketuk.
Namun, akses saja belum cukup menjelaskan kekuatan Benalu. Akses menjadi sangat bernilai ketika bertemu dengan kolusi. Ada kepentingan bisnis, ada pejabat yang memiliki kewenangan, ada Benalu yang menghubungkan, dan ada rente yang dapat diciptakan serta dibagi bersama.
Suatu pagi, Benalu datang menemui seorang pejabat. Ia membawa pesan dari seseorang yang kita sebut saja Big Boss: "Barang ini yang kita pakai."
Pejabat itu mengerti. Barang tersebut akan diimpor, meskipun kualitasnya sebenarnya biasa-biasa saja dan harganya mahal. Padahal, produsen dalam negeri mungkin mampu menghasilkan barang serupa dengan harga dan kualitas yang kompetitif. Namun, mereka tidak mempunyai sesuatu yang dimiliki Benalu, yaitu jaringan.
Spesifikasi disusun, dokumen dilengkapi, rapat dilakukan, dan proses administratif berjalan. Dari luar, semuanya terlihat normal. Namun, dalam cerita kita, keputusan substantif sebenarnya telah dibuat. Barang impor dibeli, Benalu memperoleh bagian, dan pihak-pihak dalam jaringan mendapatkan bagiannya masing-masing. Setelah transaksi semacam itu berlangsung berulang kali, Benalu pun mengumpulkan kekayaan sebesar US$1 juta.
Angkanya sama dengan Pupuk, tetapi jejaknya tidak.
Harga Sebenarnya dari US$1 Juta Benalu
Barang tadi dibeli dari luar negeri sehingga devisa keluar dan produsen domestik kehilangan pasar. Sebuah perusahaan lokal yang sebelumnya mempertimbangkan untuk memperluas pabrik mulai menghitung ulang rencananya. Untuk apa membeli mesin, merekrut insinyur, atau mengembangkan produk jika yang menentukan kemenangan bukan kualitas dan harga, melainkan siapa yang mempunyai akses? Untuk apa bersusah payah meningkatkan kemampuan jika persaingan sudah tidak berlangsung secara sehat?
Akhirnya, investasi dibatalkan. Mesin tidak jadi dibeli, insinyur tidak direkrut, pekerja baru tidak dibutuhkan, dan pemasok lokal kehilangan calon pesanan. Teknologi yang seharusnya dikembangkan tidak pernah lahir. Tidak ada berita mengenai semua itu, sebab pekerjaan yang tidak pernah tercipta tidak masuk dalam statistik PHK.
Konsumen pun ikut membayar. Mereka memperoleh barang dengan kualitas biasa, tetapi dengan harga lebih mahal. Negara atau perusahaan membayar lebih besar daripada yang seharusnya, sementara selisih harga itulah yang menyediakan ruang bagi rente. Benalu memperoleh US$1 juta, tetapi perekonomian dapat kehilangan jauh lebih besar daripada jumlah tersebut untuk menghasilkan kekayaan itu.
Yang Tidak Masuk Koper Barang Bukti
Jika Benalu tertangkap, penyidik mungkin menemukan uang, rekening, rumah, mobil, dan emas. Semuanya dapat dihitung. Namun, bagaimana kita menghitung pabrik yang tidak pernah dibangun, pekerjaan yang tidak pernah tercipta, teknologi yang tidak pernah dikembangkan, atau perusahaan yang seharusnya tumbuh besar tetapi menyerah karena persaingan tidak lagi adil?
Itulah biaya peluang (opportunity cost) dari korupsi. Korupsi tidak hanya mengambil kekayaan yang sudah ada, tetapi juga mengambil sebagian kekayaan yang seharusnya dapat kita ciptakan.
Pupuk Menciptakan, Benalu Mengekstraksi
Sekarang perbedaannya menjadi lebih jelas. Pupuk memperoleh kekayaan dengan memperbaiki produk, sedangkan Benalu memperolehnya dengan mengatur akses. Pupuk harus mengalahkan pesaing, sementara Benalu membutuhkan jaringan yang dapat mengondisikan keputusan. Pupuk menurunkan biaya, sedangkan Benalu menambahkan biaya. Pupuk menciptakan pekerjaan, sementara Benalu memperoleh rente dari transaksi yang belum tentu menciptakan pekerjaan domestik.
Pupuk membangun kemampuan produksi. Sebaliknya, Benalu dapat membuat pembangunan kapasitas produksi menjadi tidak menarik. Pupuk membantu menghemat atau menghasilkan devisa, sedangkan Benalu, dalam contoh kita, mendorong devisa keluar melalui impor yang tidak lahir dari persaingan sehat.
Pupuk membuat perusahaan lain berpikir, "Kita harus menjadi lebih baik." Sementara itu, Benalu membuat mereka berpikir, "Kita harus mengenal orang yang tepat."
Yang satu menciptakan nilai, sedangkan yang lain mengekstraksi nilai. Yang satu memperbesar kolam, sementara yang lain mengambil dari kolam.
Dua Lingkaran yang Berlawanan
Pengaruh keduanya tidak berhenti pada US$1 juta. Keuntungan Pupuk ditanamkan kembali sehingga produktivitas meningkat, teknologi berkembang, dan kemampuan produksi bertambah. Terbentuklah sebuah lingkaran yang saling memperkuat: produktivitas menghasilkan keuntungan, keuntungan mendorong investasi, investasi mengembangkan teknologi, dan teknologi meningkatkan produktivitas.
Benalu juga menciptakan lingkaran, tetapi dengan arah berbeda. Rente menghasilkan kekayaan, kekayaan memperkuat jaringan, jaringan memperbesar akses, dan akses menciptakan rente berikutnya. Dengan demikian, terbentuklah rangkaian akses, kolusi, rente, kekayaan, dan akses yang semakin kuat.
Keduanya sama-sama dapat tumbuh, tetapi hal yang mereka perbesar berbeda. Pupuk memperbesar kemampuan produktif, sedangkan Benalu memperbesar kemampuan ekstraktif. Yang satu menghasilkan energi produktif (productive energy), sementara yang lain menghasilkan energi destruktif (destructive energy).
Di sinilah keterbatasan PDB terlihat. PDB dapat mencatat transaksi keduanya, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan bagaimana kemampuan ekonomi berubah setelah transaksi tersebut terjadi. Jika meminjam bahasa fisika, besarannya dapat sama, tetapi arahnya berlawanan.
Ketika Pupuk Bertemu Benalu
Sejauh ini, Pupuk dan Benalu berjalan di jalur berbeda. Namun, suatu hari jalan mereka bertemu. Perusahaan Pupuk semakin besar, produknya semakin baik, dan harganya kompetitif. Ia mulai mampu menggantikan barang impor yang selama ini menjadi sumber rente jaringan Benalu.
Secara ekonomi, ini kabar baik. Produksi domestik meningkat, lapangan kerja bertambah, devisa dihemat, teknologi berkembang, dan penerimaan pajak bertambah. Namun, bagi Benalu, keberhasilan Pupuk memiliki arti lain. Jika produk Pupuk digunakan, impor berkurang. Jika impor berkurang, rente ikut berkurang. Pupuk tidak lagi sekadar pesaing, melainkan ancaman bagi ekosistem rente.
Benalu tidak perlu membuat produk yang lebih baik, menurunkan harga, atau berinovasi. Dalam skenario alegoris kita, bayangkan jaringannya dapat memengaruhi perizinan, pengadaan, pembiayaan, bahkan penegakan hukum. Tiba-tiba, perusahaan Pupuk menghadapi masalah. Izin yang sebelumnya tidak bermasalah mulai dipersoalkan, kontrak tertunda, pemeriksaan datang, dan bank mulai khawatir. Kemudian muncul persoalan hukum.
Dalam negara hukum, setiap dugaan pelanggaran tentu harus diperiksa berdasarkan bukti dan melalui proses yang adil. Namun, bayangkan apabila instrumen hukum sendiri telah masuk ke dalam jaringan kolutif. Benalu tidak perlu mengalahkan Pupuk dalam persaingan. Ia cukup membuat Pupuk tidak dapat bertanding.
Membunuh Ayam yang Bertelur Emas
Akibatnya berantai. Bank memperketat kredit, pemasok meminta pembayaran lebih cepat, pelanggan mencari alternatif, dan investasi dibatalkan. Pekerja dirumahkan, insinyur terbaik pergi, mesin berhenti, dan perusahaan yang dibangun selama bertahun-tahun perlahan kehilangan kemampuan untuk bertahan.
Akhirnya, Pupuk kalah dan Benalu menang. Barang kembali diimpor, transaksi kembali berjalan, dan rente kembali dibagi. PDB bahkan masih dapat mencatat aktivitas ekonomi tersebut. Namun, sebuah perusahaan produktif telah mati. Pekerjaan hilang, teknologi hilang, pengetahuan organisasi hilang, pemasok kehilangan pasar, pajak masa depan hilang, dan devisa kembali keluar.
Benalu tidak hanya mengambil telur emas. Benalu membunuh ayam yang bertelur emas.
Di sinilah ekonomi koruptif mencapai bentuknya yang paling destruktif. Ia tidak lagi sekadar gagal menciptakan kemampuan baru, tetapi mulai menghancurkan kemampuan produktif yang sudah ada.
Antitesis Schumpeter
Ekonom Joseph Schumpeter terkenal dengan gagasan penghancuran kreatif (creative destruction). Dalam ekonomi yang dinamis, inovasi baru menggantikan teknologi, perusahaan, dan cara produksi lama yang kurang efisien. Yang kurang produktif digantikan oleh yang lebih produktif. Dari proses penghancuran itu, lahir kemampuan baru.
Dalam ekosistem koruptif, prosesnya dapat berbalik. Yang produktif justru disingkirkan karena mengganggu rente. Yang efisien dikalahkan oleh pihak yang memiliki akses. Yang inovatif dikalahkan oleh pihak yang mempunyai jaringan. Sementara itu, pihak yang menciptakan nilai disingkirkan oleh pihak yang menguasai pembagian nilai.
Ini adalah antitesis Schumpeter. Bukan penghancuran kreatif, melainkan sesuatu yang dapat kita sebut penghancuran produktif (productive destruction): ketika yang dihancurkan justru sumber produktivitasnya.
Roller Coaster Tanpa Sabuk Pengaman
Yang membuat keadaan ini semakin berbahaya adalah ekonomi koruptif tidak selalu terlihat seperti ekonomi yang sedang runtuh. Proyek tetap berjalan, barang tetap dibeli, properti tetap terjual, restoran tetap penuh, uang tetap berputar, dan PDB tetap dapat tumbuh. Dari luar, semuanya terlihat hidup.
Namun, di bawah permukaan, kapasitas baru tidak cukup dibangun, kapasitas lama dapat terkikis, talenta bergerak menuju rente, dan institusi kehilangan kredibilitas. Sekarang bayangkan ekonomi seperti itu bergerak semakin cepat. Anggaran semakin besar, proyek semakin banyak, konsesi semakin bernilai, dan pengadaan semakin masif.
Dalam ekonomi produktif, pertumbuhan memperbesar kemampuan. Namun, dalam ekonomi koruptif, pertumbuhan juga dapat memperbesar rente yang diperebutkan. Di sinilah metafora roller coaster tanpa sabuk pengaman menjadi relevan. Kereta melaju semakin cepat dan penumpang mungkin bersorak melihat angka pertumbuhan. Namun, bagaimana relnya? Bagaimana remnya? Bagaimana pengawasannya?
Dalam sebuah negara, semua itu bernama institusi. Jika institusinya rapuh, persaingannya rusak, dan jaringan rente semakin kuat, kecepatan tidak selalu membawa kita lebih cepat menuju kemakmuran. Ia justru dapat mempercepat kerusakan.
Karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan hanya, "Seberapa cepat kita melaju?" Melainkan, "Kita sedang menuju ke mana?"
Pertumbuhan yang Memakan Masa Depannya Sendiri
Sekarang kita dapat menjawab pertanyaan di awal tulisan. US$1 juta milik Pupuk dan US$1 juta milik Benalu memang memiliki angka yang sama, tetapi makna ekonominya berbeda.
US$1 juta milik Pupuk lahir bersama pekerjaan, keterampilan, teknologi, pajak, produksi, dan kemampuan menghasilkan nilai berikutnya. Sebaliknya, US$1 juta milik Benalu dapat lahir bersama biaya yang lebih tinggi, rente, impor yang tidak kompetitif, investasi yang tidak terjadi, pekerjaan yang tidak tercipta, dan persaingan yang rusak.
Yang satu memperbesar kemampuan, sedangkan yang lain dapat menggerogotinya. Ketika Benalu mampu menyingkirkan Pupuk, kerusakannya menjadi lebih besar lagi. Sebab, yang mati bukan hanya sebuah perusahaan, melainkan mesin pencipta nilai.
Bayangkan jika hal itu tidak terjadi pada satu Pupuk, melainkan seratus, seribu, bahkan puluhan ribu perusahaan. Berapa banyak pabrik yang tidak pernah lahir? Berapa banyak pekerjaan yang tidak pernah tercipta? Berapa banyak teknologi yang tidak pernah ditemukan? Berapa banyak pengusaha yang akhirnya menyerah? Dan berapa banyak anak muda yang akhirnya belajar bahwa menjadi Benalu lebih menguntungkan daripada menjadi Pupuk?
Sebuah bangsa tidak kehilangan masa depannya hanya ketika uangnya habis. Sebuah bangsa kehilangan masa depan ketika kemampuannya untuk menciptakan nilai ikut dihancurkan. Itulah bahaya pertumbuhan yang memiliki energi destruktif.
Sebuah Pertanyaan Berikutnya
Namun, masih ada satu pertanyaan. Bagaimana jika Benalu tidak hanya satu? Bagaimana jika mereka menjadi jaringan, menguasai akses, dan membuat rente terus berputar di kelompok yang sama? Dia lagi. Dia lagi.
Apa yang kemudian terjadi pada distribusi kekayaan, kelas menengah, kemiskinan, kesempatan untuk naik kelas, dan stabilitas sosial sebuah bangsa?
Jawabannya ada pada bagian berikutnya.
Bersambung..
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360712/original/030827900_1790662146-cek_fakta_--_BLT_UMKM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490698/original/095003200_1770021594-bea_cukai_facebook.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4949090/original/063678200_1726832428-Apel1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4878682/original/015534800_1719648934-260529_opini_Laksamana_Sukardi___.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5185637/original/024575800_1744455939-250410_OPINI_PRI_AGUNG_RAKHMANTO_200x-100.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367983/original/082517100_1791369150-Senyum_Pakar_Keuangan_dalam_Opini_Liputan6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382230/original/022195000_1792983669-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_09.59.00.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375098/original/062454200_1792126881-WhatsApp_Image_2026-10-16_at_11.10.16_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374284/original/042107100_1792044096-WhatsApp_Image_2026-10-15_at_12.58.31_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5465690/original/016658800_1767773884-WhatsApp_Image_2026-01-07_at_14.34.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5290464/original/056522900_1753113336-WhatsApp_Image_2025-07-21_at_20.06.02_c2d8139b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4878682/original/015534800_1719648934-260529_opini_Laksamana_Sukardi___.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8232741/original/004224000_1783939713-WhatsApp_Image_2026-07-13_at_17.47.45.jpeg)