Belanja Rokok Warga RI Kalahkan Daging dan Susu

Data BPS mengungkap pengeluaran warga RI untuk rokok menembus Rp 94 ribu sebulan, mengalahkan total belanja daging, telur, dan susu.

Diterbitkan 11 Oktober 2026, 12:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah upaya pemerintah menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, pola konsumsi rumah tangga Indonesia masih menunjukkan ironi yang memprihatinkan. Alokasi anggaran untuk membeli rokok dan tembakau ternyata jauh melampaui belanja bahan pangan bergizi tinggi seperti daging, telur, hingga susu.

Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) bertajuk 'Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026', rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk Indonesia untuk kelompok rokok dan tembakau mencapai Rp 94.180. Angka ini porsinya mencapai 11,57% dari total pengeluaran makanan masyarakat Indonesia, menjadikannya komoditas terbesar kedua setelah kelompok makanan jadi. 

Jika dibandingkan dengan komoditas pangan sumber protein dan nutrisi penting, anggaran yang dikeluarkan masyarakat untuk rokok berada di tingkat yang jauh lebih tinggi.

"Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk Indonesia untuk mengonsumsi daging hanya sebesar Rp 40.352, sedangkan untuk telur dan susu sebesar Rp 44.915," tulis BPS dalam publikasinya, dikutip Minggu (11/10/2026).

Secara kumulatif, gabungan belanja daging, telur, dan susu yang bernilai Rp 85.267 per bulan masih belum mampu menandingi belanja rokok masyarakat yang menembus Rp 94.000 lebih per bulan.

Bahkan jika dibandingkan dengan alokasi belanja buah-buahan yang rata-rata nasionalnya sebesar Rp 48.784 per kapita sebulan, anggaran untuk kepulan asap rokok masih hampir dua kali lipat lebih besar.

Konsumsi Masyarakat Desa

Ketimpangan alokasi ini semakin tajam ketika melihat pola konsumsi masyarakat di daerah perdesaan. Di wilayah desa, pengeluaran untuk rokok dan tembakau mencatatkan angka yang lebih tinggi dibandingkan masyarakat perkotaan. 

"Penduduk di daerah perdesaan mencatatkan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk rokok dan tembakau sebesar Rp 100.951," jelas BPS dalam laporan yang sama.

Sebagai pembanding, masyarakat desa rata-rata hanya mengalokasikan pengeluaran untuk daging sebesar Rp 26.046 per kapita sebulan, serta pengeluaran untuk telur dan susu sebesar Rp 38.016, dan buah-buahan sebesar Rp 37.563 per kapita sebulan.

Artinya, di daerah perdesaan, belanja rokok sebulan hampir empat kali lipat dari belanja daging, serta jauh melampaui total gabungan belanja protein dan vitamin keluarga.

Tingginya porsi pengeluaran rokok di tingkat rumah tangga miskin dan perdesaan ini menjadi penegasan atas tantangan berat dalam pengentasan masalah gizi buruk, karena sebagian daya beli keluarga teralihkan untuk konsumsi non-produktif.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6