Alasan Sektor Manufaktur Beralih ke PLTS Atap demi Efisiensi

Sektor industri Indonesia kian gencar mengadopsi energi bersih, salah satunya PLTS atap.

Diterbitkan 05 Agustus 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sektor industri Indonesia kian gencar mengadopsi energi bersih sebagai bagian dari strategi efisiensi biaya operasional dan komitmen keberlanjutan.

Tren transisi energi ini salah satunya ditandai oleh peresmian instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di kawasan industri PT Multi Nitrotama Kimia (MNK), Cikampek, Jawa Barat, hasil kolaborasi dengan Modena Energy.

Fasilitas PLTS Atap berkapasitas 307,5 kWp tersebut diproyeksikan mampu memproduksi sekitar 400.000 kWh energi listrik per tahun, sekaligus memangkas emisi karbon hingga 360.000 kg COâ‚‚ setiap tahunnya.

Mengusung skema on-grid yang terintegrasi dengan jaringan PLN, sistem ini memungkinkan pemenuhan kebutuhan listrik secara mandiri dari energi surya pada siang hari, tanpa mengorbankan keandalan operasional pabrik.

"Kolaborasi bersama PT Multi Nitrotama Kimia menjadi langkah strategis kami mendukung pemanfaatan energi surya di sektor industri dan percepatan transisi energi bersih di Indonesia," ujar Head of Modena Energy, Agiya Fersya, dalam blog resmi perusahaan, dikutip Kamis (5/8/2026).

Ia menilai semakin banyak pelaku industri mulai beralih ke PLTS karena tidak hanya memperkuat komitmen keberlanjutan, tetapi juga memberikan efisiensi biaya operasional dalam jangka panjang serta mendukung pasokan energi yang lebih stabil.

Langkah MNK, yang merupakan anak perusahaan PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS), mengaitkan langsung antara efisiensi biaya operasional dengan pencapaian target emisi nol bersih (Net Zero Emission).

 

Sektor Industri Jadi Motor Utama Transisi Energi

Pemasangan PLTS Atap di kawasan pabrik MNK menjadi cerminan dari potensi masif transisi energi surya di sektor manufaktur dan industri nasional.

Pemanfaatan energi berbasis surya kini tidak lagi sekadar pemenuhan aspek keberlanjutan (sustainability), melainkan telah bergeser menjadi kebutuhan strategis untuk menjaga daya saing bisnis dan menekan pengeluaran energi dalam jangka panjang.

Prospek pesat ini tercermin dalam laporan Indonesia Solar Energy Outlook (ISEO) 2025, yang mencatat bahwa sektor industri menjadi penyumbang penambahan kapasitas PLTS Atap terbesar sepanjang tahun 2024.

Hingga akhir Juli 2024, tercatat sekitar 104 MWp kapasitas baru PLTS Atap telah terpasang di berbagai kawasan industri tanah air.

General Manager Manufacture PT Multi Nitrotama Kimia, Susilo Yuwono, menegaskan bahwa adopsi energi terbarukan ini memberikan manfaat ganda bagi operasional manufaktur.

"Proyek ini memberikan manfaat nyata melalui peningkatan efisiensi penggunaan energi dan pengurangan biaya listrik operasional. Kami berharap inisiatif ini memperkuat daya saing perusahaan sekaligus menjadi fondasi bagi implementasi solusi energi bersih di seluruh unit usaha Ancora," ujar Susilo.

 

Tekan Hambatan Aksesibilitas

Meskipun potensi pasarnya besar, hambatan pembiayaan dan kompleksitas teknis kerap menjadi tantangan bagi pelaku industri yang ingin beralih ke energi surya. Menjawab kendala tersebut, penyedia solusi energi seperti Modena Energy mulai menawarkan layanan end-to-end guna mempermudah aksesibilitas industri.

Layanan terpadu ini mencakup:

  • Studi Kelayakan & Perancangan: Penyesuaian kebutuhan daya dengan kondisi kawasan industri.
  • Perizinan & Instalasi: Pengurusan izin resmi hingga pemasangan perangkat secara presisi.
  • Skema Pembiayaan Fleksibel: Opsi performance-based rental di mana pembayaran disesuaikan dengan penggunaan energi bulanan, mengurangi biaya investasi awal (Capital Expenditure) perusahaan.
  • Digital Monitoring: Pemantauan real-time produksi energi, konsumsi listrik, hingga reduksi emisi karbon melalui aplikasi dan dashboard berbasis situs web.

Integrasi teknologi pemantauan digital ini memungkinkan pengelola pabrik mendeteksi gangguan secara dini, sehingga keandalan pasokan listrik industri tetap terjaga optimal tanpa mengganggu proses produksi.

Melihat tren adopsi yang terus meningkat serta dukungan skema pembiayaan yang kian adaptif, transisi ke PLTS Atap diprediksi akan terus menjadi tulang punggung percepatan bauran energi terbarukan di sektor industri Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.