Rupiah Melemah Bikin Komponen AI Mahal, Industri Teknologi Didorong Beralih ke Solusi Ini

Lonjakan harga komponen AI seperti memori yang terus meroket menjadi tantangan berat bagi kebutuhan infrastruktur digital nasional.

Diterbitkan 21 Mei 2026, 17:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian menekan industri teknologi tanah air, khususnya pada sektor pengadaan perangkat keras.

Lonjakan harga komponen vital seperti memori yang sempat meroket dari kisaran Rp 400.000 hingga Rp 1,1 juta menjadi Rp 4 juta per unit, serta hilangnya sejumlah tipe prosesor di pasaran menjadi tantangan berat bagi pemenuhan kebutuhan infrastruktur digital nasional.

Merespons situasi tersebut, produsen teknologi lokal PT Tera Data Indonusa Tbk (Axioo Indonesia) mengambil langkah strategis dengan mendorong lokalisasi infrastruktur Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Vice President of Business Development & Strategic Partnership Axioo, Timmy Theopelus, mengungkapkan ketergantungan pelaku industri dalam negeri terhadap layanan komputasi awan (cloud) global berbasis luar negeri secara tidak langsung terus menguras devisa karena transaksi yang menggunakan mata uang asing.

"Setiap kali kita melakukan prompting atau inference prompting ke cloud luar negeri, itu artinya kita membeli dolar di sana. Kata kunci untuk mengatasi ini adalah efisiensi. Kita harus mulai memproyeksikan pembentukan local AI di Indonesia," ujar Timmy dalam diskusi bertajuk 'Menjembatani Gap AI untuk Kedaulatan Data Indonesia' di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Menurut Timmy, meski inisiasi ini memerlukan investasi awal dari pelaku industri, nilai pengeluaran tersebut diproyeksikan akan jauh lebih murah dalam jangka panjang berkat efisiensi operasional yang dihasilkan. Guna mengakomodasi berbagai skala bisnis, Axioo menyediakan fleksibilitas lini produk server yang adaptif.

"Harganya sangat scalable, mulai dari kepala 20-an juta rupiah hingga yang menyentuh miliaran rupiah, tinggal disesuaikan dengan skala kebutuhan perusahaan," ia menambahkan.

 

Investasi Berkala

Pada kesempatan yang sama, Managing Director Indo Mega Vision, Sugianto Sutikno, menjelaskan bahwa pendekatan investasi infrastruktur ini dirancang secara bertahap.

Perusahaan tidak diwajibkan menggelontorkan modal besar secara instan di awal, melainkan dapat meningkatkan kapasitas server secara berkala seiring dengan pertumbuhan volume data bisnis pengguna.

"Investasi ini sifatnya scalable. Kita bisa memulai dari kapasitas interkoneksi seribu user, naik ke dua ribu, tiga ribu, dan seterusnya. Dengan fleksibilitas ini, pelaku usaha dapat mengoptimalkan anggaran mereka tanpa mengganggu arus kas secara drastis," jelas Sugianto.

 

Axioo Gandeng AMD

Meskipun potensi pasar pusat data (data center) nasional saat ini diperkirakan mencapai kisaran nilai USD 500 ribu, perusahaan memilih bersikap realistis pada tahap awal operasional ekosistem ini.

"Kami menargetkan dapat mengamankan 1 hingga 2 persen pangsa pasar terlebih dahulu seraya berfokus melakukan edukasi pasar," ungkap Timmy.

Komitmen penetrasi pasar ini juga diperkuat lewat kemitraan strategis bersama produsen semikonduktor global, AMD. Untuk membuktikan keandalan sistem, Axioo mengonfirmasi bahwa seluruh operasional internal perusahaan kini telah disokong secara penuh oleh lini produk server ringer buatan mandiri.

Langkah hilirisasi ini diharapkan mampu memangkas biaya modal industri lokal sekaligus mempercepat kemandirian kedaulatan data nasional di tengah ketidakpastian makroekonomi global.