Liputan6.com, Jakarta - Nama panggung kerap menjadi identitas yang melekat pada seorang seniman, bahkan lebih dikenal daripada nama yang diberikan orang tuanya saat lahir. Di Indonesia, sejumlah seniman memiliki nama populer yang berbeda dari nama lahir, baik karena pemilihan nama untuk berkarya maupun perubahan nama dalam perjalanan hidup mereka.
Nama-nama tersebut kemudian identik dengan karya, karakter, dan perjalanan karier masing-masing seniman. Mulai dari budayawan, maestro tari, sastrawan, hingga musisi legendaris, ada cerita menarik di balik nama yang membuat mereka dikenal luas oleh masyarakat.
Beberapa seniman memilih nama yang lebih singkat dan mudah diingat, sementara yang lain menggunakan nama yang berkaitan dengan keluarga atau perjalanan kariernya. Berikut tujuh seniman Indonesia yang memiliki nama panggung atau nama populer berbeda dari nama lahirnya, dilansir Liputan6.com dari berbagai sumber, Senin (26/10).
Advertisement
1. Sujiwo Tejo
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/3031728/original/030143200_1579861119-IMG_7803.JPG)
Nama lahir: Agus Hadi Sudjiwo
Sujiwo Tejo lahir di Jember, Jawa Timur, pada 31 Agustus 1962 dengan nama Agus Hadi Sudjiwo. Ia dikenal sebagai budayawan, dalang, penulis, pelukis, sekaligus pemusik yang kerap menghadirkan pandangan kritis dan pendekatan kreatif dalam karya-karyanya.
Namanya semakin dikenal melalui kiprahnya dalam seni pertunjukan dan dunia kepenulisan yang memadukan tradisi dengan pemikiran kontemporer. Sebagai dalang, Sujiwo Tejo juga dikenal berani mengolah kembali kisah pewayangan dengan sudut pandang berbeda, sehingga pertunjukannya tidak sekadar mengikuti pakem yang sudah ada.
Advertisement
2. Didik Nini Thowok
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3161133/original/005872200_1592980706-hl.jpg)
Nama lahir: Kwee Tjoen Lian, kemudian Kwee Tjoen An; nama resmi: Didik Hadiprayitno
Didik Nini Thowok merupakan maestro tari tradisional Indonesia yang dikenal melalui kepiawaiannya menggabungkan unsur tari Jawa, Bali, serta komedi dalam pertunjukan. Ia lahir di Temanggung pada 13 November 1954 dengan nama Kwee Tjoen Lian, yang kemudian diubah menjadi Kwee Tjoen An karena dirinya kerap sakit saat kecil.
Setelah peristiwa G30S 1965, ia mengganti nama Tionghoanya menjadi Didik Hadiprayitno dalam konteks kebijakan dan tekanan sosial pada masa itu terhadap warga keturunan Tionghoa. Sementara itu, nama Didik Nini Thowok menjadi identitas yang dikenal luas melalui perjalanan panjangnya sebagai penari dan koreografer yang memperkenalkan seni tari Indonesia kepada penonton di dalam maupun luar negeri.
3. Buya Hamka
Nama lahir: Haji Abdul Malik Karim Amrullah
Buya Hamka memiliki nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah dan lahir di Sumatera Barat pada 1908. Ia merupakan ulama, sastrawan, ahli filsafat, sekaligus tokoh penting dalam perkembangan pemikiran Islam dan kesusastraan Indonesia.
Nama Hamka merupakan singkatan dari nama lengkapnya yang kemudian melekat kuat dalam dunia kepengarangan. Ia dikenal melalui berbagai karya sastra, termasuk novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, yang mengangkat persoalan cinta, adat, dan kehidupan sosial masyarakat.
Advertisement
4. Nh. Dini
Nama lahir: Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin
Nh. Dini merupakan salah satu sastrawan perempuan Indonesia yang dikenal melalui karya-karya yang menyoroti kehidupan perempuan dan persoalan sosial. Ia lahir di Semarang pada 29 Februari 1936 dengan nama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin dan kemudian dikenal luas melalui nama singkat Nh. Dini.
Sepanjang kariernya, Nh. Dini menulis puisi, drama, cerita pendek, dan novel, meskipun namanya paling dikenal melalui karya-karya novel. Pengalaman hidup serta pengamatannya terhadap hubungan antarmanusia menjadi bagian penting dalam karya sastra yang membuatnya diperhitungkan dalam perkembangan sastra Indonesia modern.
5. Butet Kartaredjasa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2988021/original/029529400_1575588416-6_Desember_2019-1_ok.jpg)
Nama lahir: Bambang Ekoloyo Butet Kartaredjasa
Butet Kartaredjasa dikenal sebagai aktor teater, budayawan, penulis, dan seniman monolog asal Yogyakarta. Ia lahir pada 21 November 1961 sebagai Bambang Ekoloyo Butet Kartaredjasa, putra pelukis sekaligus koreografer Bagong Kussudiardja dan kakak dari seniman Djaduk Ferianto.
Nama Butet yang melekat pada dirinya kemudian menjadi identitas yang lebih dikenal publik, terutama melalui kiprahnya di dunia teater. Ia juga dikenal lewat pertunjukan monolog dan satire sosial yang kerap menyampaikan kritik terhadap kehidupan masyarakat maupun situasi politik dengan gaya khasnya.
Advertisement
6. Didi Kempot
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2917177/original/033475700_1568969131-ibunda_presiden_jokowi_didi_kempot-4.jpg)
Nama lahir: Didik Prasetyo
Didi Kempot merupakan penyanyi dan pencipta lagu campursari yang dikenal luas berkat lagu-lagu bertema patah hati dan kerinduan. Nama lahirnya adalah Didik Prasetyo, sedangkan nama Didi Kempot melekat sejak ia merintis karier musik, termasuk saat menjadi pengamen di Jakarta.
Sebutan Kempot berkaitan dengan Kelompok Penyanyi Trotoar, kelompok pengamen yang pernah menjadi bagian dari perjalanan kariernya. Nama tersebut akhirnya menjadi identitas yang sangat populer, terutama setelah lagu-lagunya mendapat tempat istimewa di hati para pendengar dan ia dijuluki The Godfather of Broken Heart.
7. Iwan Fals
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/9331932/original/001775400_1787587338-0L5A4334.jpg)
Nama lahir: Virgiawan Listanto
Iwan Fals lahir di Jakarta pada 3 September 1961 dengan nama Virgiawan Listanto. Ia dikenal sebagai penyanyi, pencipta lagu, dan musisi legendaris Indonesia yang banyak menghasilkan karya dengan tema kehidupan sosial, kritik terhadap ketidakadilan, serta persoalan yang dekat dengan masyarakat.
Nama Iwan Fals kemudian menjadi identitas panggung yang dikenal lintas generasi melalui lagu-lagu seperti Bento, Bongkar, dan Ibu. Karya-karyanya tidak hanya populer sebagai hiburan, tetapi juga dikenal karena liriknya yang tajam dalam menggambarkan realitas sosial dan menyuarakan keresahan masyarakat.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Seniman Indonesia yang Memiliki Nama Panggung Berbeda dari Nama Lahirnya
1. Siapa saja seniman Indonesia yang memiliki nama panggung berbeda dari nama lahirnya?
Beberapa di antaranya adalah Sujiwo Tejo yang bernama lahir Agus Hadi Sudjiwo, Buya Hamka dengan nama lahir Haji Abdul Malik Karim Amrullah, Nh. Dini yang bernama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin, serta Iwan Fals yang lahir dengan nama Virgiawan Listanto.
2. Siapa nama asli Didi Kempot?
Didi Kempot memiliki nama lahir Didik Prasetyo. Ia dikenal sebagai penyanyi dan pencipta lagu campursari yang populer dengan lagu-lagu bertema patah hati dan kerinduan.
3. Mengapa Didik Nini Thowok mengganti namanya menjadi Didik Hadiprayitno?
Didik Nini Thowok mengganti nama Tionghoanya menjadi Didik Hadiprayitno dalam konteks kebijakan dan tekanan sosial terhadap warga keturunan Tionghoa setelah peristiwa G30S 1965. Sementara itu, nama Didik Nini Thowok dikenal luas sebagai identitasnya di dunia seni tari.
4. Mengapa seniman menggunakan nama panggung yang berbeda dari nama lahirnya?
Nama panggung dapat digunakan untuk membangun identitas artistik, memudahkan publik mengingat nama seorang seniman, atau mencerminkan perjalanan hidup dan kariernya. Namun, alasan di balik penggunaan nama tersebut berbeda-beda pada setiap seniman.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382785/original/072637300_1793009878-cek_fakta_-_bantuan_pupuk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361587/original/019138200_1790739278-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-30T103330.320.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8805424/original/032384700_1782904857-Cek_fakta_-_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339870/original/093361500_1788432663-WhatsApp_Image_2026-09-03_at_5.47.40_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3161134/original/008008100_1592980706-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354844/original/017602300_1790065258-RqaO57LLJOkemQW9XubLnrnYNQgCJ50CvosbFDYf.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7149996/original/040795700_1779938391-5778176752468672576.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5376579/original/096328600_1760009341-Ilustrasi_perbedaan_kepribadian_introvert_dan_ekstrovert_dalam_hal_preferesnsi_lingkungan_kerja.jpg)