Dave Hendrik - Iwet Ramadhan Angka Tema Mengurus Diri in This Economy di Stage of Mind 2.0

Dave Hendrik - Iwet Ramadhan mengungkap alasan di balik pemilihan tema, dan konsep acara ini yang terasa cair dan penuh gelak tawa.

Diterbitkan 17 September 2026, 09:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Iwet Ramadhan mengungkap bahwa ia memang sengaja menjaga konsep acara ini agar tidak terkesan menggurui penontonnya.

"Acara ini bukan hanya menjadi ruang publik, melainkan platform diskusi yang jujur dan tidak menggurui, mengangkat percakapan isu-isu yang membumi dan relate bagi kehidupan sehari-hari generasi muda Indonesia tanpa jargon yang terasa jauh dari realita," tutur Iwet.

Deretan Pembicara

Rangkaian acara diisi sejumlah tokoh yang membawakan sesi diskusi berbeda sepanjang malam. Marco Randy dan Marlo Ernesto menyoroti peran besar pasangan hidup bagi generasi muda agar tetap waras menghadapi dinamika kehidupan, sementara Ika Natassa membahas cara menjadi pribadi mindful tanpa mengorbankan sisi kreatif dan produktif.

Raditya Dika melanjutkan sesi dengan menekankan pentingnya fokus pada skill atau hal yang diminati bagi para pelaku kreatif. Penampilan musik dari RAN menutup rangkaian diskusi, membawa suasana lebih ringan dan menghibur usai sesi-sesi yang penuh wawasan sepanjang malam.

Dave Hendrik dan Iwet Ramadhan turut mengumumkan program baru bertajuk #DVETSiaranSore dalam kesempatan yang sama malam itu. Zio Kunta dan Astry Ovie dipercaya memandu program yang akan tayang setiap Senin hingga Jumat sore di platform TikTok.

Tentang Stage of Mind dan DVET

Stage of Mind sendiri merupakan bagian dari program tahunan Rumah Intellectual Property Indonesia (RIPIN) yang dijalankan lewat IP bernama DVET.

Lebih dari 75 ribu anggota komunitas dari berbagai kota besar di Indonesia telah bergabung dalam DVET hingga saat ini, dengan jumlah yang terus meningkat. Nadya Yapto selaku Group Chief Marketing Officer LINK Group International menyebut IP menjadi salah satu output yang semakin membuka peluang besar di industri kreatif.

"Terutama karena Terlebih dengan proyeksi pertumbuhan audiens yang mampu membentuk komunitasnya sendiri, komunitas tersebut berpotensi menjadi brand advocate yang memperkuat share of voice sebuah brand. Di sinilah DVET hadir sebagai touchpoint yang terukur untuk mencapai dampak yang diharapkan oleh setiap brand,” ia menjelaskan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan