Film Lobang Buaya Rilis 1 Oktober 2026, Ungkap Alasan di Balik Tanggal Penayangan

Film Lobang Buaya sebelumnya sudah tayang lebih dulu di Festival Film Rotterdam dan Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN).

Diterbitkan 29 Agustus 2026, 15:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Film horor terbaru karya sutradara Hanung Bramantyo, Lobang Buaya, kian dekat dengan tanggan penayangannya pada 1 Oktober 2026. Sebagai pemanasan, Adhya Pictures dan Dapur Film yang berada di balik proyek ini, resmi merilis official trailer dan final poster pada Jumat (28/8/2026) kemarin. 

Aroma teror dan kengerian ditampilkan, sesuai tema film yang mengangkat misteri pembunuhan berantai berlatar Indonesia tahun 1964.

Posternya menampilkan visualisasi sebuah tangan misterius yang menembus punggung berlubang seorang wanita. Adapun trailer resmi mengajak penonton mengikuti penyelidikan Letnan Soegeng, anggota militer yang ditugaskan membongkar motif di balik pembunuhan berantai setiap tanggal 30 di Desa Lobang Buaya.

Jadwal tayang 1 Oktober yang berdekatan dengan momen peringatan G30S/PKI ternyata muncul tanpa perencanaan khusus dari pihak produksi. "Saya tidak minta tanggal tayang khusus sebetulnya untuk film ini. Tiba-tiba dikasih sama XXI, 'Mas 1 Oktober bagaimana?' Saya bilang oke," ungkap Hanung dalam konferensi pers yang dihelat di XXI Senayan City, Jumat (28/8/2026) kemarin.

Perwakilan Adhya Pictures pun mengutarakan hal serupa. Hal ini berkaitan dengan pemutaran Lobang Buaya di Festival Film Rotterdam pada Februari lalu, menyusul Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) pada bulan Juli.

"Tiba-tiba dapat Rotterdam. Seharusnya kita tayang di pertengahan tahun tapi tiba-tiba dapat BIFAN, jadi mundur, mundur, mundur ternyata dapetnya di 1 Oktober," jelasnya. 

 

Kaget Lobang Buaya Masuk 2 Festival Internasional

Keikutsertaan Lobang Buaya di ajang festival internasional turut menjadi kejutan tersendiri bagi Hanung. Undangan dari International Film Festival Rotterdam datang di luar dugaannya meski karya sebelumnya, Gowok: Kamasutra Jawa, pernah tampil di festival yang sama.

Begitupun dengan kesempatan tayang di BIFAN. 

"Pihak BIFAN bilang saya suka sekali sama film kamu, sepertinya ini ada perspektif baru dari film kamu. Tadinya habis Festival Rotterdam kita tayang, tapi karena ada BIFAN enggak jadi," ujar Hanung menirukan tanggapan pihak festival.

 

Bukan Film tentang G30S PKI

Hanung menegaskan Lobang Buaya bukan merupakan film yang mengangkat peristiwa sejarah G30S PKI, meski latar waktu cerita berdekatan dengan periode tersebut. Penonton yang berharap menyaksikan kisah seputar peristiwa 30 September diminta bersabar karena situasi saat ini belum memungkinkan pembuatan film dengan tema tersebut.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

"Sabar, ini bukan film tentang 30 September, atau refresh angle, atau remake-nya G30S/PKI. Bukan itu. Kalau pengen nonton film itu sabar, karena situasinya belum memungkinkan untuk bikin film itu," tegas Hanung. Latar cerita "Lobang Buaya" mengambil momen setahun sebelum peristiwa 1965 meletus, dengan fokus pada desa bernama Lobang Buaya. Pendekatan horor dipilih Hanung secara sadar untuk membedah rasa takut kolektif masyarakat terhadap topik yang selama ini dianggap tabu dibicarakan. "Dari saya kecil sampai sekarang, seakan-akan ada satu topik yang dianggap tabu untuk dibicarakan. Saya berpikir kembali, perasaan apa yang kita rasakan ketika mendengar peristiwa '65? Jawabannya adalah horor. Saya memilih horor bukan hanya karena ingin membuat penonton merasakan ketakutan yang ada di dalam cerita, tetapi juga horor yang kita rasakan dari persoalan kekuasaan, korupsi, dan bagaimana manusia bisa saling menindas," tutur Hanung dalam keterangan tertulisnya.

Halaman
Show All
Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan