Kalya Mahiya dan Misi Budaya Al-Izhar Pondok Labu Raih Penghargaan di International Contest Festival Dancing Italy 

Kalya Mahiya mengaku bahagia dengan pencapaian ini.

Diperbarui 14 Juli 2025, 19:52 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Prestasi bukan semata-mata soal memenangkan penghargaan, tetapi tentang bagaimana generasi muda Indonesia mampu menyuarakan identitas bangsanya melalui seni dan budaya. 

Inilah kiprah membanggakan dari SMP dan SMA Al Izhar Pondok Labu, Jakarta Selatan, yang sukses mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional lewat torehan dua penghargaan tertinggi dalam ajang International Contest Festival “Dancing Italy” yang digelar di Riminy, Italy, Juli 2025.

Bersaing dengan 20 grup dari 17 negara Eropa dan Asia, serta lebih dari 200 peserta internasional, Al Izhar tampil memukau dan berhasil meraih 1st Prize Place of Folk Dance untuk tarian Colours of Indonesia, Grand Prix of Folk Dance untuk Ramphak Geulumbang asal Aceh.

Pasca kemenangan ini, saya memiliki kesempatan berbincang dengan penari, guru pendamping, pelatih, orangtua dan founder dari Kiny Cultura Indonesia. 

Kalya Mahiya Pravina, siswi kelas XI MIPA 3 dari SMA Al Izhar Pondok Labu, mengaku bahagia dengan pencapaian ini. “Hasil yang diperoleh ini tidak mengkhianati usaha kami selama ini. Hal ini juga memotivasi saya agar terus berprestasi,” kata Kalya.

Diceritakan Kalya, sebelum mengikuti pertandingan ini, latihan dilakukan hingga 50 kali. Setiap latihan selama 2 jam. “Latihan semakin intens ketika semakin dekat dengan keberangkatan, karena untuk melatih keluwesan sekaligus kekompakan dalam gerakan,” ucap remaja berbakat ini. “Sebelum berangkat juga dilakukan Gelar Pamit di Kementrian Kebudayaan,” sambungnya.

 

Sambutan Hangat

Penampilan para siswa Al Izhar di Rimini juga mendapat sambutan hangat dari penonton internasional. Mereka menampilkan sejumlah tarian tradisional seperti Nagekeo Bangkit (NTT), Muda Mudi Papua, Tari Mirah (DKI Jakarta) dan Ramphak Geulumbang (Aceh).

Sambutan antusian dari penonton ini, karena para penari mampu menampilkan penampilan yang istimewa. Kalya mengaku saat tampil semua berjalan dengan baik.

“Salah satu tantangannya adalah sorotan lampu yang ada di stage bisa mengganggu saat tampil tetapi penari tetap fokus menari dan akhirnya berbuah kemenangan,” tukas Kalya.

Bagi Kalya yang menguasai puluhan tari tradisional ini, misi budaya ke Rimini, Italy merupakan misi budaya ke-9 yang telah diikutinya. “Rasanya bahagia dan bersyukur bisa membawa nama Indonesia di panggung dunia,” cetusnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Dalam setiap misi budaya yang diikutinya, selalu meraih juara. Apakah pencapaian ini sudah diduga? “Tentunya tidak diduga, tetapi saya selalu berusaha untuk menampilkan yang terbaik dan berdoa agar mendapatkan juara,” kata Kalya tersenyum. Tak hanya Kalya yang bahagia, Ira Intasari, guru pendamping dari perguruan Al Izhar menyatakan kebanggaan atas apa yang diraih para murid dari SMP dan SMA Al-Izhar Pondok Labu. “Mereka dapat mengharumkan nama bangsa di ajang internasional melalui tarian dan musik tradisional. Mereka juga sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia,” kata Ira.

Halaman
Show All
Aditia Saputra, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan