Nukila Evanty Hadiri Hari Budaya Rempang, Mengingatkan Pentingnya Pelestarian Tradisi

Nukila Evanty hadir untuk mendukung perayaan Hari Budaya Rempang yang diselenggarakan pada Sabtu, 7 September 2024.

Diperbarui 12 September 2024, 22:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Berdasarkan aturan ini, jika pemerintah merencanakan proyek pembangunan, wilayah Rempang dan sekitarnya tidak boleh diganggu karena merupakan kawasan yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan agama yang penting.

Kesamaan Budaya

Masyarakat Melayu Rempang, sebagai penduduk asli, memiliki kesamaan budaya dengan masyarakat Melayu di Riau, Kepulauan Riau, dan Johor, Malaysia. Mereka terdiri dari kelompok Orang Darat, yaitu penduduk asli Pulau Rempang, Melayu Galang, dan Orang Laut yang hidup nomaden di pesisir laut. Sejak zaman Kesultanan Melayu Lingga, mereka telah hidup berdampingan dan mempertahankan tradisi leluhur. 

IMA bertujuan menjaga keberlanjutan budaya Melayu di Rempang, dengan mendahulukan kebutuhan dan keinginan masyarakat adat setempat. Salah satu tradisi yang dilestarikan adalah Gurindam Dua Belas yang dikarang oleh Raja Ali Haji dari Riau. Gurindam Dua Belas terdiri dari 12 bait yang berisi nilai-nilai kehidupan, kewajiban anak terhadap orang tua, budi pekerti, serta cara hidup bermasyarakat.

Selain Gurindam, tarian tradisional seperti Tari Persembahan dan Tari Zapin Penyengat juga merupakan bagian penting dari budaya Melayu di Kepulauan Riau. Nukila menjelaskan, "Tari Persembahan, atau yang dikenal juga sebagai Tari Makan Sirih, digunakan sebagai penghormatan untuk menyambut tamu kehormatan. Tarian ini biasanya dibawakan oleh lima hingga sembilan penari perempuan, dengan penari utama yang membawa tempat berisi sirih, kapur, gambir, pinang, dan tembakau."

Tarian ini bukan hanya sekedar hiburan, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai filosofis seperti adab sopan santun dan rasa malu yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Melayu. Tradisi lisan seperti gurindam, puisi, cerita rakyat, dan nyanyian juga masih dipertahankan sejak abad ke-19.

 

Dokumentasi

Nukila menekankan pentingnya pendokumentasian dan pementasan budaya Melayu agar generasi muda, terutama generasi Z, dapat memahami, menghargai, dan melanjutkan tradisi ini.  

“Saya berharap pemerintah juga menyadari bahwa di atas tanah dan laut Rempang terdapat budaya dan seni yang indah, yang menyatu dengan masyarakat asli yang telah menjaga warisan ini. Kita harus bangga dengan Masyarakat Rempang,” tegasnya.

Nukila mengingatkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat adat, tetapi juga seluruh bangsa. “Kalau bukan kita yang menjaga budaya ini, siapa lagi?” ujarnya penuh semangat.

Hari Budaya Rempang menjadi momentum penting untuk kembali menegaskan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya yang telah ada sejak berabad-abad lalu. Dengan dukungan dari lembaga seperti IMA dan individu seperti Nukila Evanty, tradisi dan budaya Melayu di Rempang dapat terus hidup dan menjadi bagian dari identitas bangsa Indonesia yang kaya akan keberagaman budaya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Aditia Saputra, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan