6 Cerita Seru Joko Anwar di Balik Layar Nightmares and Daydreams, soal Menara Jam Raksasa hingga Legenda Agartha

Joko Anwar’s Nightmares and Daydreams sendiri terdiri dari tujuh cerita yang terjadi dalam rentang waktu 1985-2024, mengenai kejadian ganjil yang dialami sejumlah orang.

Diterbitkan 19 Juni 2024, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Joko Anwar rupanya mempresentasikan ide mengenai Nightmares and Daydreams ini kepada pemainnya, satu demi satu.

3. Asal Muasal Tokoh Panji

Joko Anwar’s Nightmares and Daydreams menyimpan banyak jejak personal sang sineas. Termasuk mengenai karakter Panji, sopir taksi yang diperankan Ario Bayu. 

“Di awal karier dulu, saya sempat tinggal di rumah susun. Ada sopir taksi yang sering bercerita ke saya tentang kisah hidupnya, dan dari sana karakter Panji muncul,” tutur Joko Anwar.

4. Muncul Sebentar, tapi Pengerjaannya Rumit

Dari seluruh adegan Joko Anwar’s Nightmares and Daydreams, ada satu cuplikan yang hanya muncul sekilas tapi pengerjaannya begitu rumit. Adegan tersebut tak lain adalah kilasan tentang dunia Agartha, yang dilihat oleh Rania (Marissa Anita).

"Tampilnya bisa jadi cuma sebentar, tapi pengerjaannya cukup lama karena ingin kami sesuaikan dengan visi Abang (Joko Anwar),” kata Abby Eldipie, koordinator efek visual serial ini.

5. Tentang Agartha dan Hollow Earth

Agartha tak hanya khayalan Joko Anwar semata, tapi legendanya juga ada di dunia nyata dan terkait teori hollow earth alias bumi yang kopong. Bagi yang memercayainya, konon di bawah bumi terdapat peradaban yang dihuni makhluk dengan julukan Agarthan.

Ide cerita Nightmares and Daydreams memang berasal dari Joko Anwar yang tertarik dengan kisah soal makhluk dari perut bumi. Proses penulisannya digarap bareng dengan penulis lain, Tia Hasibuan dan Rafki Hidayat.

“Semuanya berawal dari Abang (Joko Anwar). Kami diberikan beberapa rujukan bacaan tentang Agartha, lalu menggodok karakter dan cerita yang dipilih bareng-bareng,” ungkap Tia.

6. Practical Effect Sama Pentingnya dengan Visual Effect

Seperti sinema fiksi-ilmiah pada umumnya, Nightmares and Daydreams juga sangat bergantung pada efek visual. Namun, Joko Anwar dan dua sutradara lainnya, yakni Ray Pakpahan dan Tommy Dewo tak mau meninggalkan practical effect atau efek praktis.

Untuk episode "Encounter" misalnya, tim produksi membangun set rumah yang dipasangi mesin untuk membuatnya tergoncang hebat. Sementara dalam episode "Hypnotized," dibangun menara jam ukuran jumbo.

"Itu benar-benar kami bangun. Kami membangun menara jam dengan ukuran sesungguhya sehingga dalam adegan di mana sang aktor bergantung pada jarum jam, itu terasa nyata," tutur Joko Anwar, dalam video obrolan bersama sutradara Parasyte: The Grey yang dirilis Netflix pada April lalu.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Wayan DianantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan