Review Film Drive My Car: Indahnya Mampir ke Masa Lalu Orang Lain Untuk Tebus Resep Sakit Hati

Drive My Car, film Jepang peraih empat nominasi Oscar 2022 termasuk Best Picture telah tayang di Indonesia. Berikut resensi filmnya.

Diterbitkan 06 Maret 2022, 14:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Di sisi lain, ada sejumlah tanda tanya yang dibiarkan mengambang. Siapa pihak ketiga, apa motif perselingkuhan, mengapa cinta tetap ada padahal main serong terjadi di sana, dan setumpuk pertanyaan soal rasa dibiarkan menganga.

Ruang dan Waktu

Ini film perjalanan. Maka, ruang, waktu, dan pertemuan dengan orang tak terduga membuka sejumlah kemungkinan berikut perubahan perspektif dalam memandang masalah. Belakangan terkuak bahwa ini bukan soal cinta dan perselingkuhan semata.

Ini soal mengapa orang-orang hidup masih saja memikirkan mereka yang meninggal. Padahal, yang meninggal telah melangkah ke babak baru. Sudah semestnya yang ada di alam fana menguatkan hati dan menyalakan semangat karena hidup terus berjalan.

Hingga 120 menit berlalu, penonton terus dihantui rasa penasaran soal bagaimana ini akan berakhir. Lalu, perjalanan dengan mobil ke suatu tempat, simbol masalah dan masa lalu, yang akhirnya membebat luka. Memaniskan pahitnya hati. Membuat kepingan hidup tersusun lagi.

 

Kecepatan di Bawah Rata-rata

Drive My Car dikemudikan Ryusuke Hamaguchi dengan kecepatan di bawah rata-rata agar penonton menikmati perjalanan, memahami kehilangan dan cinta yang ternoda dulu, lalu “mampir” sejenak ke masa lalu orang lain untuk menebus “resepnya.”

Menampilkan performa Hidetoshi Nishijima yang dingin di luar namun bergejolak di dalam plus Toko Miura yang hopeless tapi ogah menyerah. Pertentangan batin dan upaya keduanya membobol “tembok pembatas” lewat interaksi (yang sebagian besar dilakukan di dalam mobil) adalah sumbu ledak. Ia meletus di waktu yang tepat.

 

Performa Masaki Okada

Jangan lupa, ada Masaki Okada ganteng (cihuy!) yang di luar dugaan tampil tanpa beban sebagai Takatsuki. Ia salah satu karakter pendukung yang berkembang dengan cantik.

Fungsinya, memancing tokoh utama memahami mengapa cinta kadang bercabang dan yang kita kira sebagai satu-satunya ternyata tak demikian akhirnya. Mayoritas emosi tokoh kunci terbentuk di mobil.

Sebagian besar dialog dan interaksi penting menempatkan setir berikut jok sebagai saksi. Tak salah jika judulnya Drive My Car, karena mobil merah itu sendiri sejatinya benda mati yang menjelma pemeran utama.

 

Haruskah Hampir 3 Jam?

Pertanyaan yang kemudian muncul, haruskah drama model begini dituturkan dalam waktu hampir 3 jam? Rasanya, harus. Perhatikan baik-baik. Semua tokoh dalam film ini punya latar yang jelas.

Jernih, dengan latar belakang dan motif masing-masing. Alurnya sepintas minim gejolak. Konsentrasi dan pemahaman memungkinkan penonton menemukan gemuruh yang tersimpan dalam lapisan dialog bersama tata musik yang dinamis.

Musik kadang senyap lalu muncul lagi buat menuntun kita ke emosi berikutnya. Di Oscar 2022, Drive My Car akan menang mudah di kategori Film Fitur Internasional Terbaik. Bagaimana dengan tiga kategori lain?

 

 

Pemain: Hidetoshi Nishijima, Toko Miura, Reika Kirishima, Park Yu-rim, Jin Dae-yeon, Sonia Yuan, Ahn Hwitae, Perry Dizon, Satoko Abe, Masaki Okada

Produser: Teruhisa Yamamoto

Sutradara: Ryusuke Hamaguchi

Penulis: Ryusuke Hamaguchi, Takamasa Oe

Produksi: C&I Entertainment, Culture Entertainment, Bitters End

Durasi: 179 menit

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan