Free Float Mitratel Melonjak ke 18,9%

PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel mendapatkan restu dari BEI kalau kepemilikan saham GIC dikategorikan sebagai free float.

Diterbitkan 03 Juli 2026, 18:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel memastikan telah memenuhi ketentuan minimum kepemilikan saham publik (free float) sebesar 15% sebagaimana diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Mengutip keterbukaan informasi BEI, Jumat (3/7/2026) Perseroan menyampaikan bahwa peningkatan porsi free float tersebut terjadi setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) menyetujui pengelompokan kepemilikan saham milik Government of Singapore Investment Corporation (GIC) sebagai bagian dari free float.

Dengan demikian, posisi free float MTEL kini mencapai sekitar 18,9%. Vice President Investor Relations Mitratel, Alif Bajara, mengatakan, perseroan sebelumnya memiliki porsi free float di bawah ketentuan minimum yang ditetapkan regulator. Namun, per Juni 2026, BEI telah memberikan persetujuan agar kepemilikan saham GIC dikategorikan sebagai bagian dari free float MTEL.

"Per Juni 2026, MTEL telah memperoleh persetujuan dari Bursa Efek Indonesia (IDX) bahwa kepemilikan saham GIC (Government of Singapore Investment Corporation) - telah dikategorikan sebagai bagian dari free float," kata Alif.

"Per Juni 2026, MTEL telah memperoleh persetujuan dari Bursa Efek Indonesia (IDX) bahwa kepemilikan saham GIC (Government of Singapore Investment Corporation) telah dikategorikan sebagai bagian dari free float," Alif menambahkan.

Tak Perlu Tambah Pelepasan Saham ke Publik

Alif menegaskan, dengan posisi free float yang telah mencapai 18,9%, Mitratel kini telah memenuhi ketentuan minimum free float sebesar 15% yang ditetapkan OJK. Artinya, perseroan tidak lagi berada di bawah ambang batas minimum yang diwajibkan regulator untuk perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia.

"Dengan persetujuan tersebut, porsi free float MTEL per Juni 2026 meningkat menjadi sekitar 18,9%, sehingga telah memenuhi ketentuan minimum free float sebesar 15%," pungkasnya.

 

 

Mitratel Siapkan Belanja Modal Rp 2,9 Triliun

Sebelumnya, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp 2,9 triliun untuk mendukung pertumbuhan organik perseroan sepanjang tahun ini. Pendanaan capex tersebut akan dilakukan secara fleksibel dengan mengombinasikan kas internal dan fasilitas pinjaman, bergantung pada skema yang dinilai paling efisien.

Direktur Utama Mitratel, Theodorus Ardi Hartoko, mengatakan perseroan memiliki posisi kas yang kuat serta tingkat leverage yang masih rendah. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi Mitratel untuk mengoptimalkan berbagai sumber pendanaan, termasuk memanfaatkan pinjaman apabila memperoleh suku bunga yang kompetitif.

"Jadi, kita sebetulnya kombinasikan begitu ya. Jadi, kas kita kuat, leverage kita juga masih rendah. Intinya sebetulnya jika kita dapat komitmen pinjaman dengan rate pinjaman yang bagus, kita pasti akan maksimalkan begitu ya,” ujarnya dalam Public Expose, Selasa (30/6/2026).

 

 

Topang Pertumbuhan Laba

Menurut Theodorus, strategi tersebut telah terbukti mampu menopang pertumbuhan laba bersih perseroan. Biaya pendanaan yang rendah membuat kinerja bottom line Mitratel tumbuh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan EBITDA maupun pendapatan.

Oleh karena itu, Mitratel tidak menetapkan satu sumber pendanaan secara khusus untuk membiayai belanja modal. Perseroan akan terus membandingkan efektivitas penggunaan kas internal maupun pinjaman agar struktur pendanaan tetap optimal dan memberikan nilai tambah bagi perusahaan.

"Makanya tadi kita sangat terbuka apakah nanti pakai kas internal ataupun kita pinjaman, kita akan bandingkan mana yang paling efisien gitu ya,” pungkasnya.