CIMB Niaga Raih Laba Rp 3,4 Triliun di Semester I 2026

CIMB Niaga membukukan laba Rp 3,4 triliun pada semester I 2026. Kredit tumbuh 6,6 persen dan aset mencapai Rp 382 triliun.

Diterbitkan 16 Agustus 2026, 11:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) mencatatkan kinerja positif pada semester I 2026. Perseroan membukukan laba bersih setelah pajak (Profit After Tax/PAT) sebesar Rp 3,4 triliun, sementara total aset konsolidasi mencapai Rp 382 triliun.

Presiden Direktur & CEO CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan pencapaian tersebut menunjukkan ketahanan perseroan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi industri perbankan nasional.

"Di semester pertama ini kinerja CIMB Niaga tumbuh baik. Aset terkonsolidasi kami mencapai Rp382 triliun, menempatkan CIMB Niaga sebagai bank swasta terbesar kedua di Indonesia dalam kategori KBMI 3," ujar Lani dikutip Minggu (16/8/2026).

Dari sisi penyaluran kredit, CIMB Niaga mencatat pertumbuhan 6,6 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Segmen korporasi menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar dengan kenaikan 13,8 persen secara tahunan.

Pertumbuhan kredit kemudian diikuti segmen commercial banking yang tumbuh mendekati 5 persen. Sementara kredit sektor usaha kecil dan menengah (UKM) tumbuh sekitar 3 persen.

"Sektor UKM nasional saat ini menghadapi tantangan cukup berat. Meski kredit nasional di sektor ini cenderung stagnan, bagi kami UKM tetap menjadi fokus utama sehingga mampu tumbuh positif di kisaran 3%," jelas Lani.

Sementara itu, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) CIMB Niaga tumbuh 3 persen YoY. Likuiditas perseroan juga tetap terjaga dengan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di kisaran 89 persen hingga 90 persen.

 

Rasio Keuangan

Struktur pendanaan CIMB Niaga turut ditopang oleh rasio Current Account Savings Account (CASA) yang mencapai 71,7 persen. Tingginya porsi dana murah tersebut membantu perseroan mengelola biaya dana (cost of fund) di tengah tekanan terhadap margin bunga industri perbankan.

Lani mengakui industri perbankan secara umum menghadapi tekanan net interest margin akibat tingginya biaya dana dan dinamika daya beli masyarakat. Namun, CIMB Niaga mampu mengimbangi tekanan tersebut melalui peningkatan pendapatan berbasis komisi atau fee-based income.

"Pendapatan non-bunga kami tumbuh luar biasa bagus, khususnya dari lini wealth management seperti penjualan obligasi, bancassurance, serta transaksi valuta asing (FX) yang melonjak lebih dari 25 persen YoY," ungkapnya.

Dari sisi rasio keuangan, CIMB Niaga mencatatkan Return on Equity (ROE) sebesar 12,6 persen dan Return on Asset (ROA) 2,3 persen.

Kualitas aset juga tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) berada di level 1,8 persen. Sementara ketahanan permodalan perseroan tercermin dari Capital Adequacy Ratio (CAR) yang mencapai 23,5 persen.

 

Transformasi Digital

Transformasi digital menjadi salah satu strategi CIMB Niaga dalam meningkatkan efisiensi operasional. Perseroan mengandalkan platform OCTO bagi nasabah individu serta OCTO Biz untuk nasabah korporasi dan UMKM.

Hingga semester I 2026, lebih dari 90 persen transaksi perbankan CIMB Niaga dilakukan secara mandiri (self-service) oleh nasabah melalui layanan digital.

Di sisi jaringan, hingga akhir Juni 2026 CIMB Niaga mengoperasikan lebih dari 380 cabang di seluruh Indonesia. Jaringan tersebut mencakup 38 digital branch dan 28 digital hub.

Perseroan juga terus menyesuaikan strategi jaringan dengan kebutuhan nasabah. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengoptimalkan fungsi cabang konvensional menjadi cabang digital maupun hibrida.

Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya CIMB Niaga meningkatkan efisiensi sekaligus memperluas akses layanan perbankan berbasis digital.