Malik dan Elsa: Menerbangkan Cinta Bersama Pesawat Kertas Menuju Belanda

Menjodohkan Salshabilla Adriani dan Endy Arfian dalam film bisa jadi terobosan baru. Apalagi dibekali kisah cinta sederhana ala Malik dan Elsa.

Diperbarui 10 Oktober 2020, 12:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Kaget dengan Adegan Akhir

Agak kaget dengan adegan akhir namun sensasi lega kemudian menyeruak. Apalagi, lagu tema film ini menggarisbawahi pesan pentingnya. Liriknya tidak menepiskan pentingnya cinta. Gambar menyorot pilihan tokoh utama.

Kisah-kisah indah di sepanjang film kemudian tersimpan rapi sebagai arsip kenangan. Masih disimpan, berarti penting. Penonton menduga, Malik dan Elsa berkomitmen untuk bertahan lalu beberapa kemungkinan lain terbuka. Apalagi, jika mengingat janji Malik, “Aku ingin mengajakmu terbang dengan pesawat.”

 

Ruang Untuk Pemeran Pendukung

Tentu saja tak ada film yang sempurna. Izinkan kami menyampaikan sejumlah catatan. Pertama, kelembutan cerita membuat dramatisasi kisah kurang terasa. Bagi yang senang dengan film kalem, Malik dan Elsa memenuhi harapan. Bagi yang gemar drama bisa jadi geregetan.

Apalagi, ruang untuk pemeran pendukung kurang leluasa. Interaksi Malik dengan ayah sebenarnya masih bisa digali. Silang pendapat orangtua Elsa menyikapi hubungan anak masih bisa dipertajam agar lebih bold. Plus, ada Lubis yang dengan mudah mampu merebut hati penonton.

Di tengah zaman yang makin individualis, Lubis bagi mata air yang diincar banyak orang. Sosoknya sederhana. Sesederhana bahagianya yakni makan piza. Andai diberi ruang lebih leluasa, Lubis bisa menjadi pemeran pendukung terbaik di kelasnya.

 

 

Momen Pesawat Kertas

Treatment film ini sekilas mengingatkan kita pada kebesaran Dilan 1990 dengan kebutuhan yang disesuaikan. Ucapan Malik lebih realistis. Tak memabukkan seperti Sang Panglima Tempur.

Elsa sedikit manja tapi tangisnya memperlihatkan kedalaman rasa. Malik dan Elsa terasa ringan, intens, dengan citarasa pas. Ia cukup terampil memanfaatkan peranti sederhana untuk memainkan perasaan penonton.

Misalnya, melipat kertas dan menjadikannya pesawat. Bersama dengan terbangnya pesawat kertas, sebuah janji terucap. Dari sekian banyak adegan, momen ini yang mengendap di hati dan menyisakan senyuman saat film berakhir dalam syahdu.

Malik dan Elsa tidak tayang di bioskop, mengingat pandemi Covid-19 masih meluas di Tanah Air. Film ini bisa diakses secara legal lewat platform digital Disney+ Hotstar mulai Oktober 2020.

 

 

 

Pemain: Endy Arfian, Salshabilla Adriani, Hendra Lesmana, Mak Ipin, Nina Rahma, Hanif Alkadri, M. Yahya Nur Ibrahim

Produser: Ody Mulya Hidayat, Agus Basuki

Sutradara: Eddy Prasetya

Penulis: Nana Mulyana, Media Kita

Produksi: Max Pictures

Durasi: 1 jam, 30 menit

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan