Indeks Kospi Anjlok 6% Imbas Aksi Jual Saham Teknologi

Aksi jual saham teknologi oleh investor menekan indeks Kospi pada Rabu siang, (29/7/2026) waktu setempat.

Diterbitkan 29 Juli 2026, 10:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Saham-saham di Bursa Saham Korea Selatan melemah sehingga menekan indeks Kospi pada Rabu, (29/7/2026). Koreksi saham yang terjadi lantaran investor melepas saham teknologi di tengah kekhawatiran mengenai belanja kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) ke depan.

Mengutip Korea Times, indeks Kospi setelah dibuka menguat 1,09%, indeks Kospi berbalik turun tajam. Indeks Kospi anjlok 376,01 poin atau 6,24% menjadi 5.647,65 pada pukul 11.20 waktu setempat.

Bursa Saham Korea atau Korea Exchange mengaktifkan mekanisme sell-side sidecar untuk Kospi seiring penurunan tajam tersebut, sehingga perdagangan terprogram untuk saham-saham yang tercatat di Kospi dihentikan  sementara selama lima menit sekitar pukul 10.55 waktu setempat.

Sebelumnya pada Selasa, 28 Juli 2026, indeks Kospi turun 10,84%, dan ditutup ke level 6.023,66 dipicu meningkatnya persaingan dari China yang menyebabkan aksi jual besar-besaran pada saham terkait AI seperti perusahaan pembuat chip.

Aksi jual yang berlanjut ini terjadi di tengah keraguan investor apakah belanja besar-besaran untuk AI akan menghasilkan imbal hasil yang cukup untuk membenarkan valuasi tinggi perusahaan-perusahaan teknologi.

Di pasar AS, perdagangan semalam berakhir dengan hasil beragam. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 1,03%, sementara indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,22%.

Sebagian besar saham diperdagangkan di zona negatif. Saham pemimpin pasar Samsung Electronics anjlok 5,45%, dan SK Hynix merosot 10,32%. Samsung Electro-Mechanics, afiliasi komponen elektronik Samsung Electronics, jatuh 9,07%, dan LG Electronics turun 5,21%. Raksasa internet Naver turun 3,1%, dan operator seluler terkemuka SK Telecom melemah 4,99%.

Pembukaan Bursa Saham Asia Pasifik

Sebelumnya, bursa saham Asia Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Rabu, (29/7/2026). Kenaikan bursa saham Asia Pasifik ini di tengah harga minyak West Texas Intermediate (WTI) yang melonjak di tengah kembali meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Komando Pusat Amerika Serikat (AS) atau US Central Command/Centcom menyatakan, pasukan AS telah berhasil menghalau serangan rudal dari Iran.

"Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan sejumlah rudal balistik dari Iran dalam upaya serangan mendadak terhadap pasukan AS yang berpangkalan di Timur Tengah," demikian pernyataan Centcom dalam sebuah unggahan di media sosial.

"Seluruh rudal Iran berhasil dicegat."

Mengutip CNBC, indeks Kospi di Korea Selatan naik 1,95%. Indeks Kosdaq bertambah 1,5%. Indeks Nikkei 225 di Jepang menguat 0,52%. Indeks Topix menanjak 0,37%. Indeks acuan Australia ASX 200 menguat 0,83%.

 

Menanti Keputusan The Fed

Harga kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 4% ke level sekitar US$ 82 per barel setelah Komando Pusat AS (US Central Command/Centcom) menyatakan melalui unggahan media sosial bahwa pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan "sejumlah rudal balistik dalam upaya serangan mendadak terhadap pasukan AS yang berpangkalan di Timur Tengah." Rudal-rudal tersebut berhasil dicegat, menurut pernyataan Centcom.

Di wall street, saham Ford Motor melonjak 4% dalam perdagangan di luar jam bursa (extended trading) setelah produsen mobil tersebut mencatatkan kinerja laba yang melampaui ekspektasi dan menaikkan proyeksi 2026. Namun, saham Visa turun sekitar 1% setelah perusahaan pembayaran raksasa tersebut merilis panduan kinerja yang kurang memuaskan.

Para investor menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve serta konferensi pers yang akan digelar bersama Ketua The Fed, Kevin Warsh, pada Rabu sore. Menurut perangkat FedWatch milik CME, para pelaku pasar kontrak berjangka memperkirakan peluang hampir 70% bank sentral akan mempertahankan suku bunga pada kisaran target saat ini, yaitu 3,5% hingga 3,75%.