BI Rate Tetap 5,75%, Begini Laju IHSG Hari Ini

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum mampu menguat signifikan usai pengumuman BI Rate, Rabu, (22/7/2026).

Diterbitkan 22 Juli 2026, 15:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) fluktuatif pada sesi kedua perdagangan saham, Rabu (22/7/2026). Hal ini terjadi di tengah Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan atau BI Rate di 5,75%. Akan tetapi, IHSG hari ini berupaya berbalik arah ke zona hijau.

Mengutip data RTI, saat dipantau pukul 15.02 WIB, IHSG naik 0,21% menjadi 6.353. Indeks saham LQ45 turun 0,42% menjadi 633. Sebagian besar indeks saham acuan melemah.

Berdasarkan pantauan Liputan6.com, IHSG sempat ditutup melemah pada sesi pertama. IHSG turun 0,39% menjadi 6.315,55 pada penutupan sesi pertama. Saat BI mengumumkan BI Rate, IHSG berupaya berbalik arah menghijau.

Adapun saat pantauan pukul 15.04 WIB, IHSG berada di level tertinggi 6.394,68 dan level terendah 6.284,88. Sebanyak 381 saham melemah sehingga bebani IHSG. 272 saham menguat dan 166 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan saham 2.383.300 kali dengan volume perdagangan saham 39,9 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 15,5 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah berada di kisaran 17.893.

Mayoritas sektor saham menghijau. Sektor saham energi naik 0,64%, sektor saham basic mendaki 0,52%, sektor saham industri menanjak 1,03%. Selain itu, sektor saham consumer nonsiklikal bertambah 0,79%, sektor saham consumer siklikal menguat 0,435.

Lalu sektor saham keuangan menanjak 0,37%, sektor saham properti mendaki 1,02%, sektor saham teknologi bertambah 1,69% dan sektor saham infrastruktur naik tipis 0,05%.

Sementara itu, sektor saham kesehatan turun 1,42% dan sektor saham transportasi terpangkas 2,02%.

Harga saham ELTY naik 7,41% menjadi Rp 29 per saham. Saham ELTY dibuka menguat dua poin menjadi Rp 29 per saham. Harga saham ELTY berada di level tertinggi Rp 29 dan terendah Rp 29 per saham. Total frekuensi perdagangan 1.996 kali dengan volume perdagangan saham 1.410.844 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 4,1 miliar.

Gerak Saham

Harga saham DMAS stagnan di Rp 138 per saham. Saham DMAS berada di level tertinggi Rp 139 dan terendah Rp 137 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 3.750 kali dengan volume perdagangan saham 470.839 saham. Nilai transaksi Rp 6,5 miliar.

Harga saham ERAA menguat 9,84% menjadi Rp 402 per saham. Harga saham ERAA dibuka naik dua poin menjadi Rp 368 per saham. Saham ERAA berada di level tertinggi Rp 410 dan terendah Rp 366 per saham. Total frekuensi perdagangan 7.808 kali dengan volume perdagangan saham 1.575.783 saham. Nilai transaksi Rp 60,9 miliar.

Harga saham BACH melemah 0,93% menjadi Rp 530 per saham. Saham BACH dibuka stagnan di Rp 535 per saham. Harga saham BACH berada di level tertinggi Rp 545 dan terendah Rp 525 per saham. Total frekuensi perdagangan 5.546 kali dengan volume perdagangan saham 147.584 saham. Nilai transaksi Rp 7,8 miliar.

Bank Indonesia Tahan BI Rate di Level 5,75%

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada 21-22 Juli 2026. Selain itu, suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,75% dan Lending Facility dipertahankan di level 6,50%.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan keputusan tersebut diambil sebagai bagian dari bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21-22 Juli 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%," ujar Perry Warjiyo dalam hasil RDG Bank Indonesia, Rabu (22/7/2026).

Menurut Perry, keputusan mempertahankan suku bunga acuan juga ditujukan agar inflasi tetap berada dalam sasaran pemerintah, yakni 2,5±1% pada 2026 dan 2027.

Selain mempertahankan BI Rate, Bank Indonesia juga memperluas berbagai kebijakan untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing, memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA).

"Keputusan BI-Rate dan kebijakan lain dimaksud merupakan bagian terintegrasi dari bauran kebijakan Bank Indonesia yang tetap konsisten untuk semakin memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global, serta untuk mempertahankan inflasi pada tahun 2026 dan 2027 berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah," kata Perry.

Â