Pasar Wait and See Jelang Rapat Gubernur Bank Indonesia, Simak Sektor Kunci Penggerak IHSG

Pengamat pasar modal menilai, perhatian investor dan pelaku pasar tertuju pada sikap BI terhadap stabilitas nilai tukar rupiah dan suku bunga.

Diterbitkan 18 Mei 2026, 16:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 Mei 2026, pelaku pasar memilih bersikap wait and see terhadap arah kebijakan moneter suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI rate. Lalu apa saja sektor saham yang akan berdampak?

Pengamat pasar modal Reydi Octa mengatakan, perhatian investor saat ini tertuju pada sikap Bank Indonesia terhadap nilai tukar rupiah serta arah kebijakan moneter ke depan. Menurut dia, keputusan BI rate akan menjadi sentimen penting bagi pasar saham dalam jangka pendek.

"Menjelang RDG BI 19-20 Mei, pasar cenderung wait and see. Investor akan fokus pada arah BI rate dan sikap Bank Indonesia terhadap stabilitas Rupiah," kata Reydi kepada Liputan6.com, Senin (18/5/2026).

Reydi menjelaskan, sektor saham yang paling sensitif terhadap kebijakan suku bunga biasanya berasal dari perbankan, properti, dan consumer cyclicals. Ketiga sektor tersebut dinilai sangat berkaitan dengan bunga kredit dan daya beli masyarakat.

"Sektor yang paling sensitif menjelang BI rate biasanya perbankan, properti, dan consumer cyclicals karena berkaitan langsung dengan bunga dan daya beli," ujarnya.

Di sisi lain, ia menilai sektor energi dan komoditas masih menarik untuk dicermati di tengah volatilitas pasar. Selain itu, saham-saham bank besar dengan fundamental kuat juga dinilai masih memiliki daya tarik karena valuasinya dinilai murah setelah mengalami koreksi.

"Sementara sektor yang relatif menarik dicermati saat ini masih energi, komoditi, serta big banks dengan fundamental kuat dan valuasi yang murah setelah koreksi," ujarnya.

BI Tahan BI Rate pada April 2026

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, menyampaikan Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk tetap menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen pada April 2026.

"Berdasarkan berbagai assesment dan prospek, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21 dan 22 April 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga deposit facility sebesar 3,75 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 5,50 persen," ujar Perry dalam Konferensi Pers Pengumuman Hasil RDG April 2026, Rabu (22/4/2026).

Perry menyatakan, keputusan ini masih konsisten dengan upaya meningkatkan efektivitas strategi penyesuaian struktur suku bunga instrumen operasi moneter dalam memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat perang di Timur Tengah.

Ke depan, Bank Indonesia siap menempuh penguatan lebih lanjut kebijakan moneter yang diperlukan untuk tetap mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi 2026 dan 2027 dalam sasaran 2,5±1%.

 

 

Kinerja IHSG Pekan Lalu

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan saham 11-13 Mei 2026. Pergerakan IHSG sepekan ini dipengaruhi sejumlah sentimen global dan domestik.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis, (14/5/2026), IHSG turun 3,53% selama tiga hari perdagangan dan ditutup ke 6.723,32. Pada pekan lalu, IHSG naik 0,18 % menjadi 6.969,39. Kapitalisasi pasar juga terpangkas 4,68% menjadi Rp 11.825 triliun dari Rp 12.406 triliun pada pekan lalu.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG merosot 3,53% dan masih didominasi oleh tekanan jual. Dari sisi sentimen, pihaknya melihat sejumlah faktor. Pertama, rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi di 3,8% YoY, di mana akan membuat suku bunga the Federal Reserve (the Fed) akan cenderung higher for longer atau tinggi dalam jangka waktu lama. Kedua, memanasnya kondisi geopolitik Amerika Serikat-Iran mengenai gencatan senjata dan juga perundingan yang terjadi.

“Ketiga, rilis rebalancing MSCI Indonesia yang berisiko menimbulkan downweighting dan outflow dari pasar Indonesia,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Faktor keempat, rilis data inflasi China yang cenderung meningkat serta Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia yang cenderung stabil. Kelima, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang berada di kisaran 17.500. “Faktor keenam, waktu perdagangan yang pendek,” tutur Herditya.

Di sisi lain, rata-rata frekuensi transaksi harian pekan ini juga merosot 0,56% menjadi 2,53 juta kali transaksi dari 2,55 juta kali transaksi pada pekan lalu. Lalu rata-rata nilai transaksi harian terpangkas 18,78% menjadi Rp 18,82 triliun dari Rp 23,05 triliun pada pekan lalu.

Rata-rata volume transaksi harian BEI juga terperosok 22,01% menjadi 35,76 miliar saham dari pekan lalu 45,86 miliar saham. Investor asing melakukan aksi jual saham sekitar Rp 3,21 triliun pada pekan ini. Hal ini berbeda dari pekan lalu yang mencapai Rp 12,6 triliun

 

  • liputan6
    BI atau Bank Indonesia merupakan bank sentral milik Negara Republik Indonesia.
    Bank Indonesia
  • liputan6
    Analisis komprehensif ini membahas tren pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dampak rebalancing MSCI, rekomendasi saham terkini, pengertian dan komponen IHSG, serta faktor-faktor penggeraknya.
    Ihsg
  • liputan6
    Persentase dari pokok utang yang dibayarkan sebagai imbal jasa (bunga) dalam suatu periode tertentu disebut suku bunga.
    suku bunga
  • liputan6
    Faktor-faktor seperti kebijakan moneter Bank Indonesia, sentimen global (negosiasi AS-Iran), kebijakan pemerintah, dan kinerja emiten menjadi pendorong utama pergerakan IHSG.
    Faktor Penggerak Ihsg
  • liputan6
    Analisis komprehensif ini membahas tren pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dampak rebalancing MSCI, rekomendasi saham terkini, pengertian dan komponen IHSG, serta faktor-faktor penggeraknya.
    Analisis Ihsg Komprehensif
  • liputan6
    Penggerak utama demo pada Juni 2026 di Jakarta dan Yogyakarta adalah BEM UI, Aliansi Masyarakat Pecinta Polri, Aliansi Mahasiswa Pemerhati Bangsa, dan Aliansi Rakyat Memanggil.
    Penggerak Demo Mahasiswa
  • Berbagai aksi demonstrasi terjadi di Jakarta dan Yogyakarta pada pertengahan Juni 2026, melibatkan mahasiswa dan elemen masyarakat dengan tuntutan beragam serta lokasi yang berbeda.
    Berbagai aksi demonstrasi terjadi di Jakarta dan Yogyakarta pada pertengahan Juni 2026, melibatkan mahasiswa dan elemen masyarakat dengan tuntutan beragam serta lokasi yang berbeda.
    Demo
  • liputan6
    Analisis aksi demonstrasi menyoroti potensi infiltrasi kekuatan supranasional dan perang hibrida yang dapat menciptakan kekacauan domestik melalui pemanfaatan elemen mahasiswa dan masyarakat sipil.
    Analisis Dampak Demo
  • Rapat Dewan Gubernur
  • Sektor Saham
  • BI