Komisaris BIRD Lepas 52,56 Juta Saham, Ini Alasannya

Komisaris Blue Bird (BIRD) Sri Adriyani kini mengenggam 0,40% saham BIRD.

Diterbitkan 19 Juli 2026, 15:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu anggota Dewan Komisaris PT Blue Bird Tbk (BIRD), Sri Adriyani Lestari DR, melakukan penjualan sebanyak 52,56 juta saham perseroan.

Mengutip keterbukaan informasi BEI, Minggu (19/7/2026) transaksi tersebut membuat porsi kepemilikan sahamnya di emiten transportasi tersebut turun signifikan dari sebelumnya 2,5% menjadi hanya 0,4%.

Berdasarkan laporan kepemilikan saham sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor POJK 4/2024 tentang Laporan Kepemilikan atau Perubahan Kepemilikan Saham Perusahaan Terbuka dan Aktivitas Menjaminkan Saham Perusahaan Terbuka, transaksi tersebut dilakukan pada 15 Juni 2026.

Dalam laporan tersebut dijelaskan, sebelum transaksi Sri Adriyani Lestari DR memiliki sebanyak 62.560.000 saham atau setara dengan 2,50% hak suara di PT Blue Bird Tbk.Setelah transaksi penjualan, jumlah kepemilikannya berkurang menjadi 10.000.000 saham atau setara 0,40% hak suara.

Dengan demikian, sebanyak 52.560.000 saham Blue Bird telah dilepas melalui transaksi penjualan. Berdasarkan rincian transaksi, saham tersebut dijual pada harga Rp 1.490 per saham. Maka nilai transaksi diperkirakan mencapai sekitar Rp 78,31 miliar atau setara dengan 52,56 juta saham dikalikan harga Rp 1.490 per saham.

Laporan juga mencatat bahwa transaksi dilakukan tanpa skema repurchase agreement (repo), dengan status kepemilikan langsung. Sementara itu, tidak terdapat pelaksanaan Efek Bersifat Ekuitas (EBE) yang belum dilaksanakan dalam transaksi tersebut.

Adapun tujuan transaksi yang dicantumkan dalam laporan adalah koreksi pribadi. Tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai alasan spesifik di balik penjualan saham tersebut.

Transaksi ini turut mengubah struktur kepemilikan saham salah satu anggota Dewan Komisaris Blue Bird, meskipun Sri Adriyani Lestari DR masih tercatat sebagai pemegang 10 juta saham atau sekitar 0,4% dari total saham perseroan setelah transaksi tersebut.

 

Pengendali Blue Bird Beli 52,56 Juta Saham BIRD

Sebelumnya, salah satu pemegang saham pengendali PT Blue Bird Tbk (BIRD), Purnomo Prawiro membeli saham BIRD pada pertengahan Juni 2026. Aksi beli saham BIRD ini bertujuan untuk investasi.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Selasa, (7/7/2026), Purnomo Prawiro membeli 52.560.000 saham BIRD dengan harga Rp 1.490 per saham. Dengan demikian, nilai pembelian saham BIRD itu mencapai Rp 78,31 miliar.

“Tujuan transaksi investasi, status kepemilikan langsung,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.

Setelah transaksi pembelian saham BIRD, Purnomo Prawiro kini memiliki 354.854.300 saham BIRD atau setara 14,18%. Sebelumnya, ia memiliki 302.294.300 saham BIRD atau sekitar 12,08%.

Berdasarkan data Google Finance, saham BIRD ditutup di Rp 1.515 per saham pada perdagangan saham Senin, 6 Juli 2026. Harga saham BIRD berada di level tertinggi Rp 1.550 dan terendah Rp 1.510 per saham. Kapitalisasi pasar saham BIRD mencapai Rp 3,79 triliun.

Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,69% menjadi 5.916,07. Indeks saham LQ45 melompat 0,46% menjadi 584,48. Sebagian besar indeks saham acuan menghijau.

Pada awal pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 5.935,68 dan terendah 5.857,35. Sebanyak 386 saham menguat sehingga angkat IHSG. 242 saham melemah dan 155 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan saham mencapai 1.630.565 kali dengan volume perdagangan saham 19,8 miliar saham. Namun, transaksi perdagangan saham tidak terlalu ramai. Transaksi harian saham hanya Rp 9,4 triliun.

 

Belanja Modal

Sebelumnya, PT Blue Bird Tbk (BIRD) menargetkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 1,7 triliun hingga Rp 1,9 triliun pada 2026. Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung pengembangan bisnis melalui peremajaan armada, penambahan kendaraan baru, serta pembangunan infrastruktur pendukung operasional.

Direktur Keuangan PT Blue Bird Tbk, Irawaty Salim, mengatakan perseroan secara konsisten mengalokasikan investasi untuk menjaga kualitas layanan dan memenuhi kebutuhan mobilitas pelanggan yang terus berkembang.

"Untuk 2026, kami menargetkan capex sekitar Rp 1,7 triliun hingga Rp 1,9 triliun yang akan difokuskan untuk penggantian armada, penambahan kendaraan baru, serta pengembangan infrastruktur pendukung operasional perusahaan," ujar Irawaty dalam konferensi pers, Kamis (18/6/2026).

Sebelumnya, PT Blue Bird Tbk (BIRD) menegaskan, kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax maupun suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) belum memengaruhi strategi pengembangan usaha perseroan. 

 

Pendekatan Hati-Hati

Direktur Keuangan PT Blue Bird Tbk Irawaty Salim mengatakan, perusahaan terus mencermati pergerakan suku bunga, terutama karena sejumlah mitra pendanaan mulai melakukan penyesuaian bunga pinjaman. 

"Ada beberapa counterpart kita juga sudah mulai menaikkan interest rate-nya," kata dia dalam konferensi pers, Kamis, 18 Juni 2026.

Meski demikian, Irawaty menilai kondisi tersebut tidak menjadi hambatan bagi perusahaan untuk melanjutkan ekspansi. Menurut dia, Bluebird akan tetap mengedepankan pendekatan yang hati-hati dengan mempertimbangkan perkembangan permintaan pasar sebelum menambah kapasitas armada. 

"Karena yang kita lihat ke depannya bagaimana demand dari market itu sendiri teradaptasi dulu. Apakah kita memang harus menambah armada atau tidak, kita melakukan ekspansi secara terukur," terang dia.

Irawaty menyebut, kenaikan BI Rate merupakan bagian dari dinamika pasar yang wajar. Ia juga meyakini regulator tetap mempertimbangkan kondisi dunia usaha dalam setiap kebijakan yang diambil.