APLN Gandeng Perusahaan Properti Jepang Garap Proyek Bukit Podomoro

PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) mengungkapkan dampak transaksi pengalihan sebagian saham di GCK kepada perusahaan properti Jepang.

Diterbitkan 19 Juli 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) menggandeng perusahaan properti asal Jepang Hankyu Hanshin Properties Corp (HHP) sebagai mitra strategis dan pemegang saham baru untuk mengembangkan usaha PT Graha Cipta Kharisma (GCK). Adapun Graha Cipta Kharisma, anak usaha APLN yang mengelola Bukit Podomoro.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (19/7/2026), Agung Podomoro menyebutkan, kerja sama strategis antara perseroan dan HHP dilakukan dengan rangkaian transaksi pada 17 Juli 2026. Pertama, perseroan mengalihkan sebagian kepemilikan di GCK, yakni 282.793 saham biasa atau 35,50% dari total sebelumnya 677.110 saham biasa atau 85% dalam modal yang telah disetor penuh di GCK kepada HHP sebagai mitra strategis.

Kedua, pada saat yang sama, Perseroan membeli sebagian saham biasa pemegang saham eksisting lainnya yakni dari GCK yaitu PT  Kreasi Wahana Nusantara sebesar 28.279 saham biasa atau 3,55% dan PT Bumi Kirana sebesar 14.140 saham biasa atau 1,775%.

"Setelah penyelesaian rangkaian transaksi di atas dalam rangka kerja sama strategis, pengendalian GCK tidak berubah yaitu tetap pada perseroan dengan kepemilikan sebesar 436.736 saham biasa atau setara dengan 54,82% saham yang telah disetor penuh dalam modal GCK,” demikian seperti dikutip.

Perseroan menyatakan, kerja sama strategis memiliki dampak positif terhadap kegiatan usaha operasional dan kondisi finansial perseroan. Seiring transaksi itu secara keuangan akan menambah posisi kas perseroan untuk mendukung operasional dan pengembangan usaha perseroan, serta dapat dipakai mengurangi beban utang perseroan.

 

 

 

Bukan Transaksi Material

Adapun Agung Podomoro menyebutkan, masing-masing transaksi yang dilaksanakan dalam rangka kerja sama strategis bukan merupakan transaksi material sebagaimana dimaksud dalam Peraturan OJK Nomor 17/POJK.04/2020 tentang transaksi material dan perubahan kegiatan usaha. Hal ini karena tidak memenuhi batasan nilai sebagaimana ditentukan dalam Pasal 3 POJK Nomor 17/2020.

Masing-masing transaksi yang dilaksanakan dalam rangka Kerja Sama Strategis bukan merupakan transaksi afiliasi sebagaimana dimaksud dalam Peraturan OJK No. 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Transaksi Benturan Kepentingan.

Berdasarkan data RTI, harga saham APLN ditutup stagnan di Rp 136 per saham. Saham APLN berada di level tertinggi Rp 140 dan terendah Rp 135 per saham. Total frekuensi perdagangan 2.114 kali dengan volume perdagangan saham 290.486 saham. Nilai transaksi Rp 4 miliar.

Kinerja Kuartal I 2026

Sebelumnya, PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) meraih lonjakan pendapatan dan mencetak laba hingga kuartal I 2026. Salah satunya ditopang divestasi atas kepemilikan Deli Park Mall Medan.

PT Agung Podomoro Land Tbk mencatat penjualan dan pendapatan usaha naik 232% menjadi Rp 2,9 triliun hingga kuartal I 2026 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 874,5 miliar. Perseroan meraup laba bersih periode berjalan tercatat sebesar Rp 513,8 miliar dari sebelumnya rugi Rp 55,37 miliar.

Corporate Secretary APLN, Justini Omas menuturkan, pada kuartal I 2026 perusahaan telah melakukan divestasi atas kepemilikan Deli Park Mall Medan sebagai salah satu strategi bisnis yang mampu menopang kinerja APLN. Selain itu, kuatnya penjualan dari proyek-proyek unggulan juga ikut mendorong fundamental perusahaan tetap terjaga secara positif.

"Kami bersyukur aset–aset yang dibangun APLN memberikan nilai yang tinggi, sehingga dihargai premium oleh para investor. Divestasi Deli Park Mall Medan kepada investor Jepang menjadi bukti bahwa properti yang dibangun APLN nilainya terus meningkat,” ujar Justini dikutip dari keterangan resmi, ditulis Jumat (1/5/2026).

Beban pokok penjualan dan beban langsung naik 269,17% menjadi Rp 2,01 triliun hingga Maret 2026 dari Maret 2025 sebesar Rp 546,34 miliar. Seiring hal itu, laba kotor perseroan naik 169,90% menjadi Rp 885,68 miliar hingga kuartal pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 328,14 miliar.

Perseroan mencatat beban penjualan turun menjadi Rp 23,18 miliar dari Rp 46,84 miliar. Beban umum dan administrasi susut menjadi Rp 189,45 miliar dari Rp 223,62 miliar. Selain itu, penghasilan bunga naik menjadi Rp 10,47 miliar hingga kuartal pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 7,72 miliar. Perseroan juga meraup laba neto entitas asosiasi naik menjadi Rp 32,32 miliar hingga kuartal pertama 2026 dari kuartal pertama 2025 sebesar Rp 22,33 miliar.

 

 

Aset Perseroan

Perseroan mencatat laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik menjadi Rp 217,03 miliar hingga kuartal pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 62,0 miliar. Perseroan mencatat laba per saham dasar naik menjadi Rp 9,56 hingga kuartal pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya rugi Rp 2,74.

Ekuitas bertambah menjadi Rp 13,70 triliun hingga kuartal pertama 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 13,67 triliun. Liabilitas turun menjadi Rp 10,48 triliun dari Desember 2025 Rp 11,28 triliun. Aset perseroan turun menjadi Rp 24,18 triliun hingga Maret 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 24,95 triliun.

Secara operasional, APLN membukukan pengakuan penjualan sebesar Rp2,6 triliun, meningkat tajam 360% dibandingkan Rp574,4 miliar pada Kuartal I-2025. Sementara itu, pendapatan berulang (recurring income) tercatat sebesar Rp260,2 miliar, menurun 13% dari Rp300,1 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, seiring dengan adanya divestasi aset yang memengaruhi komposisi pendapatan Perseroan.

Justini mengatakan, sebagai perusahaan properti APLN menilai, setiap aset memiliki potensi yang dapat dioptimalkan untuk mendukung pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan. Itu sebabnya monetisasi aset-aset yang sudah matang dan bernilai tinggi menjadi bagian dari strategi bisnis yang dijalankan sejak 2017.