Kisah Ponpes di NTB Bangun Kemandirian Ekonomi, Unit Usaha Raup Omzet Rp 3 Miliar per Tahun

Berkat pembinaan BI, Ponpes Thohir Yasin di NTB mampu meraih omzet Rp3 miliar per tahun dan membiayai 70 persen operasionalnya sendiri.

Diterbitkan 16 Juli 2026, 11:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Mataram - Bank Indonesia (BI) terus memperkuat pengembangan ekonomi syariah melalui pemberdayaan pondok pesantren. Salah satu fokusnya adalah mendorong kemandirian ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pangan agar pesantren mampu menopang kebutuhan operasional secara mandiri.

Salah satu pesantren binaan yang menunjukkan hasil positif adalah Pondok Pesantren Salaf Modern Thohir Yasin di Nusa Tenggara Barat (NTB). Lewat berbagai unit usaha yang dikembangkan, sekitar 70 persen kebutuhan operasional pesantren kini dapat ditopang dari hasil bisnis sendiri. Bahkan, Badan Usaha Milik Pesantren (BUMPes) Thohir Yasin mencatatkan omzet hingga Rp3 miliar setiap tahun.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Nusa Tenggara Barat, Andhi Wahyu Riyadno, mengatakan kerja sama dengan Ponpes Thohir Yasin telah berlangsung cukup lama. Pendampingan tersebut dilakukan agar pesantren tidak hanya mengandalkan biaya pendidikan dari para santri, tetapi juga memiliki sumber pendapatan yang berkelanjutan.

"Pesantren ini kan harapannya tidak hanya melulu tergantung dengan dana dari santri-santrinya, tapi selain itu juga mereka punya unit-unit bisnis atau unit-unit perusahaan yang bisa membuat mereka mandiri," ujar Andhi saat ditemui di Mataram, NTB.

Untuk mendukung pengembangan usaha, BI memberikan berbagai bantuan, mulai dari mesin penggilingan padi hingga pembangunan rumah potong hewan unggas (RPHU). Selain itu, pelatihan juga diberikan kepada tenaga kerja yang mengelola BUMPes Thohir Yasin.

"Tahun ini mereka sudah bisa masuk rantai pasok MBG juga melayani beberapa SPPG dan juga mereka ini sudah (tersertifikasi) halal, karena masuk ke rantai pasok SPPG ini mereka harus halal dulu baru bisa," ungkapnya.

Tak hanya dari sisi fasilitas produksi, BI juga membantu peningkatan tata kelola usaha, khususnya dalam pengelolaan keuangan.

"Kami (juga) mendorong mereka dari sisi manajemen keuangan, bicara mengenai unit bisnis pasti kan ujungnya bagaimana mereka mengelola atau me-manage keuangannya agar rapi, dipisahkan dengan manajemen pesantrennya," imbuh Andhi.

Penuhi Kebutuhan Pesantren

Bantuan itu diakui sendiri oleh Pendiri dan Pimpinan Ponpes Thohir Yasin, Tuan Guru Haji (TGH) Ismail Thohir. Dia menerangkan, kemandirian ekonomi pesantren sudah jadi salah satu bagian cita-cita pesantren yang berdiri sejak 1990-an ini. Sederet kebutuhan pesantren seperti makan hingga gaji guru pun akhirnya bisa dipenuhi dari hasil bisnis pesantren.

"Pondok mandiri, siap, tanpa kita itu tidak selalu mengharapkan dari luar, kita ingin supaya dari hasil kita sendiri, untuk gaji gurunya, untuk pembangunannya, dan untuk semua. Itu harapan kita," tegas TGH Ismail Thohir di kediamannya di Lombok Timur, NTB.

Perjalanan bisnis yang baik nampaknya turut memberikan manfaat ke masyarakat sekitar. Tak sebatas pada insan pondok pesantren, masyarakat sekitar juga ikut dilibatkan. Setidaknya ada 150 orang pegawai yang dipekerjakan di berbagai sektor. Bantuan bagi masyarakat tidak mampu juga diberikan Thohir Yasin.

"Anak-anak yang ekonominya kaum lemah, termasuk dari golongan yatim, piatu, para fakir mikin, yang ternyata tidak mampu untuk sekolah, alhamdulillah. Jadinya kita bisa menanggulanginya sekemampuan yang ada di Pondok Thohir Yasin ini. Jadinya dengan adanya dukungan-dukungan dari Bank Indonesia, kita semakin semangat," beber dia.

Kantongi Omzet Miliaran Rupiah

Direktur BUMPes Thohir Yasin, Syahrullah mengatakan bantuan yang diberikan BI berdampak positif terhadap kinerja unit usaha ponpes. Mesin penggiling padi atau rice miller misalnya, mampu memberikan keuntungan hingga Rp 100 juta.

Sementara itu, RPHU mampu mencatatkan omzet hingga Rp 500 juta dalam enam bulan terakhir. Namun, dalam hitungan totalnya, BUMPes mampu mengantongi omzet Rp 3 miliar per tahun. Angka ini meningkat signifikan setelah masuk ke rantai pasok MBG.

Kesehatan bisnis pesantren ini mampu meneguhkan kemampuan ekonomi pesantren. Alhasil, mayoritas kebutuhan pesantren bisa dipenuhi dan ditanggung dari kegiatan usaha ponpes.

"Alhamdulillah. Sekarang masih di angka 70 persen, itu dukungan dari ekonomi pesantrennya," katanya.

Pemberdayaan Masyarakat Sekitar

Syahrullah menjelaskan, bantuan BI yang berjalan sejak 2021 ini mampu meningkatkan kemampuan pesantren untuk memberdayakan masyarakat sekitar.

"Ada yang langsung praktik sama santrinya, dan sebagian profesionalnya. Itu yang bekerja langsung dari masyarakat, ada yang ikut pertanian, ada juga yang UMKM-nya. Jadi ibu-ibu yang sekitar ini kita juga berdayakan mereka melalui UMKM," ucapnya.

 

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6