Liputan6.com, Jakarta - PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) yang bergerak di industri rokok mencatat penurunan kinerja keuangan selama 2025. Laba tahun berjalan perusahaan turun tipis menjadi sekitar Rp 6,61 triliun pada 2025, sedikit lebih rendah dibandingkan 2024 yang mencapai Rp 6,64 triliun.
Mengutip keterbukaan informasi BEI, Kamis (12/3/2026), dalam laporan kinerja keuangan yang dirilis di Bursa Efek Indonesia, pelemahan laba tersebut terjadi seiring dengan turunnya pendapatan perusahaan.
Sepanjang 2025, penjualan HMSP tercatat sebesar Rp 112,17 triliun, lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp 117,88 triliun.
Advertisement
Meski pendapatan mengalami penurunan, laba kotor perusahaan justru menunjukkan peningkatan. Nilainya naik dari Rp 18,53 triliun menjadi Rp 20,61 triliun. Kenaikan ini terjadi karena penurunan beban pokok penjualan yang lebih besar dibandingkan penurunan nilai penjualan.
Pergerakan Aset dan Saham HMSP
Penurunan laba juga berdampak pada laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, yang turun tipis dari Rp 6,64 triliun menjadi Rp 6,60 triliun. Sementara itu, laba per saham dasar tetap berada di level Rp 57 per saham.
Dari sisi neraca, total aset HMSP pada 2025 tercatat sebesar Rp 51,56 triliun, menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai Rp 54,29 triliun. Di sisi lain, jumlah kewajiban perusahaan juga ikut menurun, dari Rp 25,93 triliun menjadi Rp 23,21 triliun.
Menariknya, di tengah pelemahan kinerja keuangan, harga saham HMSP justru menunjukkan kinerja positif. Dalam satu tahun terakhir, saham perusahaan ini naik sekitar 51% hingga mencapai Rp 795 per saham. Secara year to date (YTD), saham HMSP juga masih mencatat kenaikan lebih dari 7%.
HM Sampoerna (HMSP) Apresiasi Keseriusan Pemerintah Berantas Rokok Ilegal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1360907/original/043543700_1475232907-20160930--Bea-Cukai-Rilis-Temuan-Rokok-Ilegal-Jakarta--Faizal-Fanani-01.jpg)
Sebelumnya, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) menyatakan dukungan terhadap langkah pemerintah yang mulai memperketat penindakan terhadap peredaran rokok ilegal. Presiden Direktur HMSP, Ivan Cahyadi menilai kebijakan tersebut menjadi sinyal positif bagi keberlangsungan industri tembakau legal di Indonesia.
“Nah kami juga sangat mengapresiasi sih, makanya bahwa sekarang bisa terlihat pemerintah itu sangat serius,” ujarnya dalam Public Expose, Rabu (3/12/2025).
Ia menilai upaya pemerintah masih berada pada tahap awal, namun menjadi pondasi penting untuk perbaikan ekosistem industri. Selain meningkatkan kepatuhan, penertiban juga diharapkan dapat memberi ruang lebih luas bagi pelaku industri legal untuk berkembang.
“Pemerintah sangat serius untuk mengatasi hal-hal yang mengganggu perbaikan di industri ini. Hanya saja memang ini masih terlalu dini. Ini kan baru, istilahnya langkah awalnya baru dimulai,” katanya.
Advertisement
Kontribusi Sampoerna ke Negara
Ia menyebutkan kontribusi Sampoerna bagi negara sangat signifikan, termasuk pembayaran pajak dan cukai yang tahun lalu mencapai sekitar Rp 85 triliun. Dengan perlindungan yang lebih kuat, kontribusi tersebut diyakini dapat terus meningkat.
Pihaknya juga menilai kondisi ekonomi yang mulai membaik dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar 5% akan membantu pemulihan industri. Ia berharap pertumbuhan ekonomi dapat meningkat hingga 6% atau bahkan 8% di tahun-tahun mendatang.
Selain itu, keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan tarif cukai pada tahun depan turut diapresiasi. Kebijakan tersebut disebut memberi ruang bagi industri untuk menjaga stabilitas, berinovasi, dan mempertahankan investasi.
Dengan portofolio produk yang diklaim siap memenuhi kebutuhan konsumen dewasa, HMSP optimistis prospek industri akan membaik, tercermin dari perbaikan kinerja pada kuartal III tahun ini.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296017/original/033910000_1784000101-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T103335.623.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316388/original/075760100_1785924799-cek_fakta_-_cpns_kementerian_imigrasi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569782/original/065699500_1777454729-Tugas__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3167349/original/049156100_1593592165-20200701-Iuran-BPJS-Kesehatan-Resmi-Naik--ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4410634/original/016949900_1682850414-isaac-smith-6EnTPvPPL6I-unsplash.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315893/original/053704300_1785901707-WhatsApp_Image_2026-08-05_at_9.31.23_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2775925/original/025938900_1554953969-Saudi_Aramco.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5535190/original/068324800_1773942599-AZKO.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4312887/original/075013100_1675421979-Stabilkan_harga__Bulog_glontorkan_30_ribu_ton_beras_di_pasar_induk_cipinang-ANGGA_7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5248275/original/011028300_1749574545-IMG-20250610-WA0038.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5303334/original/050673500_1754066496-unnamed.jpg)