SMCB Kantongi Pendapatan Rp 5,5 Triliun hingga Semester I 2026

PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) meraih pendapatan naik 10,62% dan laba tumbuh 4,3% hingga semester I 2026.

Diterbitkan 03 September 2026, 10:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba hingga semester I 2026. Kinerja ini juga dinilai langkah perseroan untuk disiplin mengendalikan biaya di tengah kenaikan harga energi, biaya logistik dan pergerakan nilai tukar. Selain itu, perseroan mencatat pertumbuhan volume penjualan sekitar 6,9%.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Kamis, (3/9/2026), PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) meraup pendapatan Rp 5,50 triliun hingga Juni 2026. Pendapatan perseroan naik 10,62% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 4,97 triliun.

Seiring pertumbuhan pendapatan itu, perseroan meraup laba periode berjalan Rp 278 miliar. Laba tersebut tumbuh 4,3% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 266,52 miliar.

Selain itu, perseroan juga mencatatkan total volume penjualan 6,1 juta ton, naik 6,9% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan volume penjualan itu dicapai di tengah tekanan overcapacity yang berdampak pada persaingan harga serta kenaikan biaya energi dan logistik.

Direktur Utama Solusi Bangun Indonesia, Rizki Kresno Edhie Hambali, menuturkan Perseroan menempatkan penguatan daya saing dan optimalisasi kapasitas sebagai prioritas dalam merespons dinamika industri. Strategi tersebut dijalankan melalui efisiensi operasi, pengelolaan keuangan yang disiplin, serta perluasan basis pasar, baik di dalam negeri maupun ekspor."

Pertumbuhan volume penjualan menunjukkan bahwa Solusi Bangun Indonesia mampu mengonversi peluang pemulihan permintaan menjadi pertumbuhan bisnis melalui transformasi fundamental khususnya pada penjualan retail. Di saat yang sama, pengembangan pasar ekspor menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang untuk memperluas basis pelanggan, mengurangi ketergantungan pada satu pasar, dan mengoptimalkan kapasitas produksi,” kata Rizki, dikutip dari keterangan resmi.

Selain itu, perseroan mencatat beban pokok pendapatan naik 9,2% menjadi Rp 4,29 triliun hingga 30 Juni 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 3,93 triliun. Sementara itu, laba kotor tumbuh 15,88% menjadi Rp 1,2 triliun hingga semester I 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,03 triliun.

 

Aset Perseroan

Beban usaha distribusi dan penjualan naik menjadi Rp 619,84 miliar hingga semester I 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 430,20 miliar.

Beban umum dan administrasi naik menjadi Rp 145,41 miliar hingga Juni 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 143,83 miliar. Perseroan juga mencatat laba kurs Rp 1,19 miliar hingga semester I 2026 dari periode sama tahun sebelumnya rugi Rp 16,31 miliar.

Perseroan mencatat laba sebelum bunga dan pajak penghasilan turun tipis 1,5% menjadi Rp437,03 miliar hingga semester I 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 443,72 miliar. Perseroan mencatat laba per saham dasar dan dilusi naik menjadi Rp 31 hingga semester I 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 30.

Total ekuitas perseroan naik menjadi Rp 13,16 triliun hingga semester I 2026 dari Desember 2025 Rp 13,20 triliun. Liabilitas naik menjadi Rp 7,25 triliun hingga semester I 2026 dari Desember 2025 Rp 7,17 triliun.

Aset perseroan naik menjadi Rp 20,42 triliun hingga 30 Juni 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 20,37 triliun. Perseroan meraup kas dan setara kas Rp 177,25 miliar hingga 30 Juni 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 215,22 miliar.

Bidik Pasar di Jawa Barat

Memasuki semester II 2026, Perseroan melihat peluang pertumbuhan pasar masih terbuka seiring keberlanjutan realisasi proyek pembangunan dan belanja pemerintah. Perseroan akan memperkuat penetrasi pasar domestik, sekaligus melanjutkan pengembangan pasar ekspor untuk memperluas jangkauan pasar dan mengoptimalkan kapasitas produksi.

Jawa Barat menjadi salah satu fokus penguatan pasar Solusi Bangun Indonesia tahun ini, seiring pertumbuhan permintaan semen yang mencapai 7,5% secara tahunan. Momentum tersebut dimanfaatkan Perseroan bersama SIG selaku induk usaha untuk menghidupkan kembali Semen Kujang, merek ikonik yang memiliki sejarah panjang sebagai pelopor industri semen di Jawa Barat.

Kehadiran kembali Semen Kujang menjadi bagian dari strategi Perseroan untuk memperkuat relevansi merek di pasar Jawa Barat sekaligus menangkap pertumbuhan permintaan di wilayah tersebut.

Dengan memadukan kekuatan merek lokal dan kapabilitas Perseroan dalam produksi serta distribusi, langkah ini diharapkan dapat memperluas basis pelanggan dan memperkuat posisi Perusahaan di salah satu pasar semen terbesar di Indonesia.

Kembangkan Ekspor

Pada saat yang sama, pengembangan pasar ekspor menjadi bagian dari strategi Perseroan untuk mendiversifikasi sumber permintaan di tengah kondisi kelebihan pasokan industri semen nasional.

Melalui kemitraan strategis bersama Taiheiyo Cement Corporation, Solusi Bangun Indonesia mengoptimalkan peluang ekspor ke pasar Amerika Serikat sebagai bagian. Hingga Juni 2026, volume penjualan ekspor mencapai 97.500 metrik ton (MT) semen tipe khusus yang diekspor ke Amerika Serikat.

Hingga akhir tahun buku yang akan berakhir pada Desember 2026, volume total ekspor ke Amerika Serikat ditargetkan mencapai 450 ribu MT sesuai rencana.

"Reaktivasi Semen Kujang merupakan bagian dari cara kami mengoptimalkan kekuatan yang telah dimiliki untuk menciptakan peluang pertumbuhan baru. Kami percaya kombinasi antara ekuitas merek yang kuat, pemahaman terhadap karakter pasar lokal, dan kapabilitas Perseroan dapat memperkuat daya saing kami di Jawa Barat sekaligus menciptakan nilai yang lebih besar bagi konsumen dan bisnis,” ujar Rizki Kresno Edhie Hambali.