Wall Street Anjlok Imbas Ancaman Tarif Terkait Greenland

Berikut kinerja wall street setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam menerapkan tarif terhadap sejumlah negara di Eropa mengenai Greenland.

Diterbitkan 21 Januari 2026, 08:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Investor kembali menghidupkan strategi Sell America pada Selasa, 20 Januari 2026 yang berdampak terhadap bursa saham Amerika Serikat atau wall street. Investor melepas saham, obligasi dan dolar AS di tengah kekhawatiran tentang perselidihan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan pemimpin Eropa mengenai kepemilikan Greenland.

Mengutip CNN, Rabu (21/1/2026), indeks Dow Jones merosot 871 poin atau 1,76%. Indeks S&P 500 terpangkas 2,06%. Indeks Nasdaq terperosok 2,39%. Indeks S&P 500 dan Nasdaq kompak menghapus kenaikan pada 2026.

Dow, S&P, dan Nasdaq masing-masing mengalami hari terburuk mereka sejak 10 Oktober, ketika Trump mengancam akan menaikkan tarif impor dari China.

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama, turun 0,8% pada hari Selasa — pergerakan besar di pasar mata uang. Indeks dolar mengalami hari terburuknya sejak Agustus. Euro naik 0,65% terhadap dolar.

Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun, yang diperdagangkan berlawanan arah dengan harga, naik menjadi 4,29%. Imbal hasil obligasi Treasury 30 tahun melonjak menjadi 4,92%. Kedua imbal hasil tersebut mencapai level tertinggi sejak September.

“Ini adalah ‘Jual Amerika’ lagi dalam konteks penurunan risiko global yang jauh lebih luas,” kata wakil ketua di Evercore ISI Krishna Guha, dalam sebuah catatan. “Fakta bahwa dolar jatuh sementara euro naik di tengah krisis menunjukkan bahwa investor global secara marginal berupaya mengurangi atau melindungi eksposur mereka terhadap AS yang volatil dan tidak dapat diandalkan.”

“Yang masih perlu ditentukan adalah besarnya dan durasi dinamika ini,” kata Guha.

Pemilu Mendadak di Jepang Guncang Asia

Pemilu mendadak di Jepang juga mengguncang pasar di Asia, menyebabkan imbal hasil obligasi Jepang melonjak karena kekhawatiran tentang usulan Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk sementara memangkas pajak makanan meskipun beban utang pemerintah sangat besar. Lonjakan imbal hasil di Jepang menambah kegelisahan pasar obligasi.

"Saya pikir sangat sulit untuk memisahkan dampak limpahan dari Jepang,” kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada hari Selasa dalam percakapan dengan Maria Bartiromo di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.

"Saya telah berhubungan dengan rekan-rekan ekonomi saya di Jepang, dan saya yakin mereka akan mulai mengatakan hal-hal yang akan menenangkan pasar.”

Indeks VIX, yang umumnya dikenal sebagai pengukur ketakutan, melonjak 28% dan mencatatkan lonjakan harian terbesar sejak Oktober. VIX naik di atas 20 poin — level yang menandakan volatilitas tinggi — untuk pertama kalinya sejak November. Indeks Ketakutan dan Keserakahan CNN turun dari "keserakahan" menjadi "netral."

 

Bursa Eropa Melemah

Pada Minggu, Trump mengancam akan memberlakukan tarif baru sebesar 10% untuk impor dari delapan negara Eropa, termasuk Denmark, Inggris, dan Prancis, di tengah tuntutannya agar Amerika Serikat mengakuisisi wilayah Denmark.

Pasar saham dan obligasi AS tutup pada Senin untuk memperingati Hari Martin Luther King, Jr., sehingga Selasa menandai hari penuh pertama bagi para pedagang saham dan obligasi AS untuk bereaksi terhadap akhir pekan yang penuh berita luar biasa — dan meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Eropa.

"Perkembangan terbaru ini mengingatkan kita bahwa ekonomi AS tidak kebal terhadap ketidakpastian yang dihasilkan oleh perubahan kebijakan Trump, sementara kekhawatiran yang masih ada tentang independensi Fed — yang diperkuat oleh penundaan nominasi ketua baru dan penyelidikan yang sedang berlangsung terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell — menambah lapisan kehati-hatian lain di sekitar mata uang AS,” ujar ahli strategi FX dan makro utama di Convera, George Vessey.

Indeks acuan Eropa Stoxx 600 — yang melacak saham di seluruh wilayah — ditutup lebih rendah sebesar 0,7% pada Selasa. Indeks Stoxx 600 pada Senin turun 1,19% dan mencatatkan penurunan terburuk sejak November.

Sementara itu, indeks OMX Copenhagen 20 Denmark — yang melacak 20 saham yang paling aktif diperdagangkan di bursa saham Kopenhagen — naik 1,13%. Indeks OMX Copenhagen 20 pada Senin turun 2,73% dan mencatatkan penurunan terburuk sejak Oktober.