Bursa Asia Dibuka Beragam, Fokus Pasar Tertuju Keputusan Suku Bunga Australia

Saat ini perhatian utama pelaku pasar bursa Asia tertuju pada keputusan suku bunga Bank Sentral Australia (RBA). Jajak pendapat memperkirakan suku bunga akan dipertahankan.

Diterbitkan 30 September 2025, 08:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham di kawasan Asia dan Pasifik diperdagangkan bervariasi pembukaan Selasa (30/9/2025). Saat ini perhatian utama pelaku pasar bursa Asia tertuju pada keputusan suku bunga Bank Sentral Australia (RBA).

Menurut jajak pendapat, Bank Sentral Australia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,6%. Inflasi yang masih tinggi dinilai membatasi ruang bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.

“Pertemuan kebijakan RBA pada hari Selasa merupakan salah satu peristiwa penting di kawasan Asia-Pasifik. Setiap perubahan dalam nada atau proyeksi ke depan dapat menggerakkan pergerakan dolar Australia,” ujar Kepala analis Valas dan Makro APAC di Convera, Shier Lee Lim, dikutip dari CNBC, Selasa (30/9/2025).

Ia menambahkan, volatilitas pasar belakangan ini juga dipengaruhi data persetujuan pembangunan di Australia. Setelah turun 8,2% pada Juli, data Agustus diperkirakan rebound dengan kenaikan sekitar 2,8%.

Pergerakan Indeks Asia

Pasar saham di kawasan Asia mencatat pergerakan beragam:

  • S&P/ASX 200 Australia naik tipis 0,1%.
  • Nikkei 225 Jepang melemah 0,17%, sedangkan Topix turun 0,21%.
  • Kospi Korea Selatan menguat 0,27%, dan Kosdaq naik 0,18%.
  • Indeks berjangka Hang Seng Hong Kong berada di level 26.735, lebih tinggi dibanding penutupan terakhir HSI di 26.622,88.

Wall Street Ditutup Menguat

Dari Amerika Serikat (AS), tiga indeks utama Wall Street kompak ditutup di zona hijau pada perdagangan Senin waktu setempat.

  • S&P 500 naik 0,26% ke level 6.661,21.
  • Nasdaq Composite menguat 0,48% menjadi 22.591,15.
  • Dow Jones Industrial Average bertambah 68,78 poin atau 0,15% ke level 46.316,07.

Penguatan ini terjadi seiring pulihnya optimisme investor setelah tren pelemahan saham berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam sepekan terakhir.