Sukses

Pengelola KFC Catat Pendapatan Rp 4,8 Triliun, Rugi Susut 21,59 Persen pada 2021

Liputan6.com, Jakarta - PT Fast Food Tbk (FAST), pengelola KFC mampu menekan rugi bersih tetapi pendapatan tetap pada 2021.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (7/5/2022), PT Fast Food Tbk mencatat pendapatan Rp 4,84 triliun pada 2021, dan cenderung stagnan. Pada 2020, perseroan juga membukukan pendapatan Rp 4,84 triliun.

Kontribusi pendapatan Fast Fooddari makanan dan minuman mencapai Rp 4,81 triliun pada 2021. Komisi atas penjualan konsinyasi turun dari Rp 57,78 miliar pada 2020 menjadi Rp 31,48 miliar pada 2021. Perseroan mencatat kenaikan jasa layanan antar dari Rp 5,97 miliar pada 2020 menjadi Rp 6,67 miliar pada 2021.

Beban pokok penjualan turun 3,38 persen dari Rp 1,97 triliun pada 2020 menjadi Rp 1,90 triliun pada 2021. Perseroan mencatat laba bruto naik 2,33 persen menjadi Rp 2,93 triliun pada 2021 dari periode 2020 sebesar Rp 2,86 triliun.

Perseroan menekan beban penjualan dan distribusi dari Rp 2,76 triliun pada 2020 menjadi Rp 2,60 triliun pada 2021. Beban umum dan administrasi naik dari Rp 623,55 miliar pada 2020 menjadi Rp 680,06 miliar pada 2021. Beban operasi lain naik menjadi Rp 45,02 miliar pada 2021 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 17,30 miliar.

Perseroan catat penurunan penghasilan operasi lain dari Rp 85,80 miliar pada 2020 menjadi Rp 52,57 miliar pada 2021. Perseroan membukukan rugi usaha Rp 339,20 miliar pada 2021.

Perseroan menekan rugi usaha 24,18 persen dari periode sama tahun sebelumnya Rp 447,41 miliar.Perseroan mencatat kenaikan beban keuangan dari Rp 42,16 miliar pada 2020 menjadi Rp 59,27 miliar. Bagian atas laba entitas asosiasi susut menjadi Rp 1,94 miliar pada 2021 dari periode 2020 sebesar Rp 7,17 miliar.

PT Fast Food Tbk membukukan rugi tahun berjalan Rp 295,73 miliar pada 2021. Rugi perseroan turun 21,59 persen dari periode 2020 sebesar Rp 377,18 miliar. Dengan demikian rugi per saham dasar turun dari Rp 95 pada 2020 menjadi Rp 74 pada 2021.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Aset

Total ekuitas merosot 26,26 persen pada 2021 menjadi Rp 919,18 miliar. Pada periode 2020, perseroan catat ekuitas Rp 1,24 triliun.

Total liabilitas naik 5,3 persen menjadi Rp 2,63 triliun pada 2021 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 2,48 triliun. Total aset merosot 4,56 persen menajdi Rp 3,55 triliun pada 2021 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 3,72 triliun. Perseroan kantongi kas dan setara kas Rp 601,01 miliar pada 2021 dari 2020 sebesar Rp 882,91 miliar.

Pada penutupan perdagangan Kamis, 28 April 2022, saham FAST naik 1,58 persen ke posisi Rp 965 per saham. Saham FAST berada di level tertinggi Rp 965 dan terendah Rp 965 per saham. Total volume perdagangan 52.500 dengan nilai transaksi Rp 50,7 juta. Total frekuensi perdagangan 23 kali.

Sepanjang 2022, saham FAST turun 1,03 persen ke posisi Rp 965 per saham. Saham FAST berada di level tertinggi Rp 1.250 dan terendah Rp 915 per saham. Total volume perdagangan 1.665.896 saham. Nilai transaksi Rp 1,6 miliar dan total frekuensi perdagangan 1.460 kali.

3 dari 4 halaman

Kinerja 2020

Sebelumnya, pandemi COVID-19 yang terjadi pada 2020 membuat PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) atau emiten pengelola KFC Indonesia mencatat pendapatan turun hingga 27,82 persen.

Seperti dilansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat, 25 Juni 2021, perusahaan makanan cepat saji tersebut hanya mampu membukukan pendapatan sebesar Rp4,84 triliun tahun lalu. Padahal sepanjang 2019, pengelola KFC Indonesia ini mampu mencapai pendapatan Rp6,7 triliun.

Perseroan mencatat beban pokok penjualan turun dari Rp 2,51 triliun pada 2019 menjadi Rp 1,97 triliun pada 2020. Dengan demikian laba bruto perseroan susut menjadi Rp 2,86 triliun pada 2020 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 4,19 triliun.

Beban penjualan dan distribusi merosot menjadi Rp 2,76 triliun pada 2020 dari periode 2019 sebesar Rp 3,2 triliun. Beban operasi lain naik menjadi Rp 17,30 miliar pada 2020 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 8,69 miliar.

Di sisi lain, penghasilan operasi lain naik menjadi Rp 85,80 miliar pada 2020 dari posisi 2019 sebesar Rp 54,79 miliar.

Tak hanya itu, kerugian juga didapatkan PT Fast Food Indonesia Tbk. Tercatat, kerugian yang dialami mencapai Rp377,18 miliar. Padahal pada tahun sebelumnya untung Rp241,54 miliar.

4 dari 4 halaman

Total Liabilitas

Dalam penjelasannya, perusahaan menyebut adanya kenaikan total liabilitas sebesar 42,13 persen dari Rp1,74 triliun pada 2019 menjadi Rp2,48 triliun sepanjang 2020.

Terdapat 4 hal yang mendorong terjadinya kenaikan ini, berikut ulasannya:

1. Penerapan PSAK No. 73 yang berlaku efektif 1 Januari 2020 yang menyebabkan pada penyesuaian nilai-nilai yang diakui pada laporan keuangan. Pada tanggal 31 Desember 2020 liabilitas sewa yang timbul dari penerapan PSAK 73 adalah Rp254,05 miliar.

2. Utang bank pada tanggal 31 Desember 2020 total Rp182 juta yang diperoleh dari Bank Mandiri Tbk dan Bank Negara Indonesia Tbk untuk modal kerja perusahaan yang terganggu akibat Covid-19.

3. Utang lain-lain berelasi naik Rp159,48 miliar dari Rp112,07 juta pada tanggal 31 desember 2019 menjadi Rp159,60 pada tanggal 31 Desember 2020.

4. Liabilitas imbalan kerja jangka panjang naik Rp123,80 miliar dari Rp683,34 pada tanggal 31 Desember 20019 menjadi Rp807,14 pada 31 Desember 2021 akibat dampak perubahan tingkat diskonto dari 8,20 persen pertahun menjadi 7,35 persen per tahun.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS