Sukses

Pengamat: Rights Issue Super Jumbo BRI Jadi Contoh BUMN Lain

Liputan6.com, Jakarta - Rencana penambahan modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue super jumbo PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) guna pembentukan Holding Ultra Mikro, dinilai bisa menjadi contoh bagi bank-bank lain milik pemerintah.

Hal tersebut disampaikan oleh Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Indonesia Superstocks Community, Edhi Pranasidhi. Menurut Edhi, integrasi bisnis yang didukung dengan kinerja dapat menjadi sentimen yang sangat baik bagi investor pasar modal untuk ikut berkontribusi dalam membangun negeri.

Dia menjelaskan, harga rata-rata 90 hari saham emiten berkode BBRI saat ini berada pada 4.360 per unit. Dengan demikian, harga perkiraan pelaksanaan rights issue seharusnya antara Rp 3.900 dan Rp 3.500 per unit.

Sebagai aksi rights issue super jumbo, Edhi memproyeksikan dana segar yang bisa diperoleh berada di kisaran Rp100,3 triliun hingga Rp118 triliun.

"Rencana mega rights issue BBRI akan menjadi sejarah sebagai rights issue terbesar yang menghasilkan dana terbesar pula di Indonesia. Ini bisa menjadi contoh bagi bank BUMN lain untuk melakukan integrasi sekaligus menyuntikkan modal baru untuk keperluan ekspansi lebih kuat," ujar dia.

Dia menyampaikan, upaya menerbitkan saham baru BRI akan memuluskan rencana pemerintah untuk membentuk holding di ekosistem ultra mikro sekaligus pemulihan kinerja segmen usaha tersebut.

BBRI berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 28.677.086.000 saham Seri B atau mewakili sebanyak-banyaknya 23,25 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan.

 

 

2 dari 4 halaman

Potensi Harga Saham

Edhi mengatakan harga saham BBRI berpotensi menembus Rp5.000 setelah aksi korporasi. Menurut perhitungannya, harga buku BBRI saat ini berada di Rp1.900/unit, yang artinya harga di pasar saat ini berada di kisaran 1,9 kali harga buku. Jauh dari posisi rata-rata bank besar yang berada di kisaran 2,8 kali.

Setelah rights issue harga buku akan turun ke posisi Rp1,637/unit. Dengan harga saham BBRI di pasar hari-hari terakhir, price to book ratio masih berada di kisaran 2,46 kali. Untuk mencapai harga rata-rata, harusnya harga pasca aksi korporasi dapat naik ke Rp4.580/unit.

"Jika menggunakan metode Earning Per Share (EPS) harga bisa berbeda lagi. Dan harga pasca aksi korporasi bisa mencapai 5.35. Dengan catatan tidak ada sentimen negatif seperti lay off besar-besaran," imbuhnya.

Baik PNM maupun Pegadaian, menurut Edhi, nantinya akan menjadi feeder bagi BRI untuk menyalurkan pinjaman kepada penggiat skala usaha sangat kecil yang saat ini belum difasilitasi perbankan melalui kredit usaha rakyat (KUR).

3 dari 4 halaman

Integrasi Data Jadi Kunci

Integrasi data antara PNM, Pegadaian dan BRI akan menjadi kunci penting bagi masa depan kelangsungan Holding Ultra Mikro nanti.

Ekspansi kinerja PNM akan lebih baik dengan bantuan likuiditas dan jaringan BRI. Pegadaian pun tetap akan kuat melakukan ekspansi karena model bisnisnya yang berbeda dari BRI dan Pegadaian.

"Saya melihat pembentukan holding ini sangat positif. Potensinya sangat baik, baik bagi PNM, Pegadaian dan BRI. Ini adalah win-win solution," katanya.

Edhi berpendapat BRI termasuk perusahaan yang cukup mumpuni dalam melakukan integrasi. Bahkan dia yakin Holding Ultra Mikro tidak akan menjadi praktek kanibalisme antara unit usaha BBRI lain seperti Bank BRI Agroniaga (AGRO) karena ceruk pasar yang berbeda.

"Bahkan, AGRO mampu bertranformasi ke bisnis digital dan mampu berkolaborasi dengan banyak pihak lain dalam meningkatkan bisnis agri," ujar dia.

 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini