Bursa Asia Dibuka Melemah, Nikkei dan Kospi Terseret Wall Street

Bursa Asia dibuka melemah pada Selasa, dengan Nikkei dan Kospi tertekan setelah Wall Street ditutup turun.

Diterbitkan 29 September 2026, 08:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia dibuka melemah pada perdagangan Selasa, mengikuti penurunan Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Investor mencermati kenaikan imbal hasil US Treasury dan kekhawatiran inflasi yang dapat mendorong kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Dikutip dari CNBC, Selasa (29/9/2026), di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,39%, sedangkan indeks Topix melemah 1,12%. Di Korea Selatan, indeks Kospi turun 0,45% dan Kosdaq terkoreksi 0,27%.

Berbeda dengan bursa lainnya, indeks S&P/ASX 200 Australia dibuka menguat 0,17%.

Tekanan terhadap pasar saham Asia mengikuti pergerakan Wall Street. Pada perdagangan sebelumnya, Dow Jones Industrial Average turun lebih dari 300 poin. Sementara indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing melemah 0,8% dan 0,9%.

Kenaikan imbal hasil US Treasury menjadi perhatian investor karena pasar khawatir inflasi yang masih tinggi dapat mendorong The Fed menaikkan suku bunga lebih lanjut.

 

Kenaikan Suku Bunga

Imbal hasil US Treasury 10 tahun ditutup di atas 5,2%, mendekati level yang terakhir terlihat pada 2007. Sementara imbal hasil obligasi Treasury 30 tahun menembus 5,56%, berada di sekitar level yang terakhir terlihat pada 2004.

“Terlepas dari kekuatan ekonomi yang luas, pasar saham tampaknya mengkhawatirkan potensi dampak kenaikan suku bunga di masa depan. Pergerakan suku bunga harian semakin mendorong kinerja pasar secara keseluruhan,” kata Brent Schutte, CIO Northwestern Mutual Wealth Management.

“Kenaikan suku bunga menciptakan peluang sekaligus tantangan bagi investor. Terlepas dari kekhawatiran terkait kenaikan tersebut, obligasi menawarkan titik masuk yang lebih menarik saat ini dibandingkan kapan pun dalam hampir 20 tahun, dengan asumsi Federal Reserve mampu menjaga inflasi tetap terkendali,” lanjutnya.

Investor akan mencermati data kepercayaan konsumen AS September dan data lowongan pekerjaan Agustus yang akan dirilis Selasa. Data tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan imbal hasil US Treasury dan bursa saham global.