Kebakaran di Way Kambas Merembet ke Batas Konservasi Gajah

Kebakaran yang berlangsung sejak beberapa hari terakhir itu masih menyisakan titik api hingga Minggu (25/10/2026) siang.

Diterbitkan 25 Oktober 2026, 14:31 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, kian mengkhawatirkan. Api dilaporkan merembet hingga mendekati lintasan gajah dan pagar pembatas satwa di wilayah desa penyangga. Kebakaran yang berlangsung sejak beberapa hari terakhir itu masih menyisakan titik api hingga Minggu (25/10/2026) siang.

Warga Desa Muara Jaya, salah satu desa penyangga TNWK, Sukiman menyebut kebakaran meluas dari kawasan Rawa Bunder hingga Mentru Kembar. Berdasarkan perkiraannya, lahan yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 100 hektare.

“Kurang lebih sekitar 100-an hektare,” kata Sukiman saat menceritakan kondisi kebakaran di kawasan Way Kambas, Minggu (25/10/2026).

Sukiman menuturkan, kobaran api sempat mendekati pagar pembatas gajah. Kondisi tersebut menambah kekhawatiran warga terhadap keselamatan satwa liar yang hidup di kawasan konservasi tersebut.

Sukiman mengaku ikut membantu upaya pemadaman bersama petugas kehutanan. Penanganan dilakukan oleh polisi hutan (Polhut), Manggala Agni, dan masyarakat setempat untuk mencegah api semakin meluas.

Hingga Minggu siang, kebakaran disebut masih berpotensi menyisakan titik api. Namun, kondisinya tidak separah hari-hari sebelumnya berkat penanganan yang dilakukan petugas gabungan.

“Penanganan cepat dari pihak Polhut beserta Manggala Agni dan masyarakat,” ujar Sukiman.

 

Gajah Diduga Menjauh untuk Mencari Sumber Air

Di tengah kebakaran yang melanda kawasan hutan, kondisi habitat gajah turut menjadi perhatian. Sukiman menduga satwa berbelalai itu bergerak menjauh dari lokasi kebakaran untuk mencari sumber air.

Menurut dia, kondisi kawasan hutan saat ini sangat kering akibat kemarau berkepanjangan. Ketersediaan air di dalam kawasan pun disebut semakin terbatas.

“Untuk sementara ini, kemungkinan gajah minggir mencari titik air, karena memang di dalam itu sangat kering dan tidak ada air,” tutur Sukiman.

Dia berharap kebakaran tidak kembali terjadi, mengingat kawasan TNWK memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian lingkungan dan menjadi habitat berbagai satwa liar.

“Harapan saya sendiri, kalau bisa jangan sampai terulang terjadi kebakaran, karena hutan kita ini adalah yang menyuplai oksigen,” ujar dia.

Sukiman mengatakan, kebakaran hutan pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Namun, menurut dia, kejadian dalam beberapa bulan terakhir terasa lebih luar biasa karena cuaca panas dan kemarau yang semakin ekstrem.

 

Api Merembet ke Wilayah Dekat Permukiman

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal mengatakan, kebakaran telah dilaporkan sejak sekitar dua minggu sebelum peninjauan. Titik api kemudian berkembang di bagian utara kawasan TNWK yang berbatasan dengan permukiman warga.

"Kondisi kemarau ini membuat asap kebakaran turut mengganggu masyarakat di sekitar kawasan hutan. Upaya pemadaman menghadapi sejumlah kendala, mulai dari angin kencang, lahan bergambut, hingga sumber air yang berada cukup jauh dari lokasi kebakaran," kata Rahmat.

Pemerintah daerah bersama unsur TNI, Polri, dan petugas kehutanan terus berupaya mempercepat penanganan. Personel gabungan dikerahkan untuk memadamkan api sekaligus mencegah kebakaran meluas ke area lainnya.

Selain pemadaman, pemerintah juga menaruh perhatian terhadap dampak asap bagi kesehatan warga. Pemprov Lampung berencana melakukan pengecekan kesehatan, terutama untuk mengetahui dampak paparan asap terhadap saluran pernapasan dan kondisi paru-paru masyarakat.

 

BNPB Catat 110 Titik Api di Lampung

Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi bersama Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meninjau langsung penanganan karhutla di kawasan TNWK, Sabtu (24/10/2026).

Peninjauan dilakukan melalui jalur darat dan menggunakan helikopter untuk melihat kondisi kebakaran serta memantau titik-titik api yang belum berhasil dipadamkan.

Kristomei mengungkapkan, berdasarkan pemantauan satelit pada pukul 06.04 WIB, terdapat 110 titik api di Provinsi Lampung. Dari jumlah tersebut, masih ada area terbakar yang membutuhkan penanganan.

“Secara data satelit per jam 06.04 pagi, saya melihat ada 110 titik api di Provinsi Lampung. Di antaranya masih ada 68 hektare lagi yang belum padam,” kata Kristomei.

Sementara itu, berdasarkan laporan tim pendampingan BNPB, kebakaran yang terjadi sejak 22 September 2026 masih menyisakan area yang belum padam seluas sekitar 40 hektare hingga Sabtu (24/10). Sehari sebelumnya, tim gabungan berhasil memadamkan api di area sekitar 10,2 hektare.

Operasi pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan udara. Dari udara, petugas mengerahkan helikopter Sikorsky Black Hawk UH-60L untuk melaksanakan dua sortie pengeboman air atau water bombing.

Sementara itu, operasi darat melibatkan pengelola TNWK, TNI, Polri, BPBD, mitra konservasi, dan masyarakat. Petugas juga memanfaatkan pompa serta selang sepanjang hampir tiga kilometer untuk menjangkau titik api yang sulit diakses.

“Dan kita juga sudah menggunakan pompa dan selang yang sepanjang hampir tiga kilometer ini dan cukup efektif. Nanti akan kita perbanyak lagi jika luasan pemadamannya efektif dan bisa bertambah luas,” jelas Kristomei.

Penyebab Kebakaran TNWK Ditelusuri

Di tengah upaya pemadaman, BNPB bersama pemerintah daerah dan aparat penegak hukum akan mengevaluasi penyebab kebakaran, terutama pada titik api yang berada di dekat permukiman masyarakat.

Kristomei mengatakan, penelusuran perlu dilakukan untuk memastikan apakah kebakaran dipicu faktor alam atau terdapat unsur kesengajaan dari pihak tertentu.

“Kenapa ini penyebabnya? Apakah murni alam? Atau memang ada perbuatan-perbuatan dari saudara-saudara kita yang berusaha untuk membakar hutan?” ujar Kristomei.

Dia menegaskan, penyebab kebakaran harus dipastikan melalui evaluasi dan pemeriksaan di lapangan. Masyarakat pun diminta tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan, terlebih ketika petugas masih berjibaku memadamkan api.

“Di satu sisi, ada teman-teman kita yang berjuang untuk memadamkan api, tapi kalau di sisi lain ada lagi saudara-saudara kita yang masih melakukan pembakaran, mau sampai kapan ini? Jangan ada lagi pembakar hutan,” tegas Kristomei.

Kristomei sebelumnya menjelaskan, titik kebakaran yang ditinjau berada di bagian utara kawasan TNWK, sedangkan habitat gajah yang menjadi perhatiannya berada di bagian selatan. Meski demikian, kebakaran tetap menjadi ancaman bagi kelestarian ekosistem kawasan konservasi.

"Petugas gabungan kini terus memperkuat upaya pemadaman, mengantisipasi munculnya titik api baru, dan mengurangi dampak asap terhadap masyarakat. Warga juga diimbau ikut menjaga kawasan TNWK agar kebakaran tidak kembali meluas dan mengancam habitat satwa liar," tandasnya.