Liputan6.com, Jakarta Kesalahan pemula ternak gurami di kolam terpal biasanya muncul dari hal sepele, misalnya langsung menebar benih ke terpal baru. Ada juga yang memasukkan ikan terlalu banyak atau memberi pakan berlebihan sampai air cepat busuk.
Gurami tumbuh lambat, jadi satu kesalahan kecil bisa merugikan selama berbulan-bulan. Karena itu, kesalahan pemula ternak gurami di kolam terpal sebaiknya Anda kenali sejak awal, sebelum modal benih dan pakan terbuang percuma.
Gurami sebenarnya termasuk ikan yang cukup tangguh. Ikan ini bisa menghirup udara lembap, sehingga mampu bertahan lama di luar air dan bisa didistribusikan ke daerah yang tidak memiliki rantai dingin. Meski begitu, ketangguhan ini sering membuat pemula lengah soal kualitas air di kolam terpal. Berikut beberapa kesalahan pemula ternak gurami di kolam terpal dan cara menghindarinya yang harus diketahui, dihimpun Liputan6.com dari berbagai sumber, Minggu (25/10).
Advertisement
1. Salah Langkah saat Menyiapkan Kolam Terpal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9330467/original/037558100_1787382301-Budidaya_gurame_tanpa_kolam_tanah_untuk_panen_yang_melimpah_di_lahan_sempit_pekarangan_rumah_dengan_keunggulan_menggunakan_media_terpal.jpg)
Banyak kesalahan pemula ternak gurami di kolam terpal terjadi sebelum satu ekor ikan pun masuk kolam. Terpal baru yang langsung diisi benih, lokasi yang salah, dan air yang belum stabil adalah penyebab paling umum kematian benih di minggu-minggu awal. Supaya Anda tidak mengulanginya, ikuti urutan persiapan berikut.
-
Pilih lokasi yang tepat: Letakkan kolam di area yang tidak tergenang air saat hujan dan cukup terkena sinar matahari. Kolam yang terlalu teduh membuat air lembap dan dingin, sedangkan kolam yang tergenang dari luar bisa kemasukan kotoran dan hama.
-
Bangun rangka yang kokoh: Gunakan rangka bambu, kayu, atau susunan batu bata dengan kedalaman sekitar 90 cm hingga 1 meter. Rangka yang miring atau rapuh membuat terpal tertarik ke satu sisi dan lama-lama bocor.
-
Cuci dan keringkan terpal: Bersihkan bagian dasar dan pinggir terpal lalu keringkan. Jika perlu, lakukan desinfeksi dan penggaraman ringan sesuai SOP budidaya gurami dari KKP.
-
Diamkan air minimal satu minggu: Isi kolam lalu biarkan sekitar 7 hari agar bau dan zat kimia dari terpal netral, sekaligus memberi waktu plankton tumbuh. Langsung menebar benih di hari yang sama dengan pengisian air adalah kesalahan klasik pemula.
-
Saring air yang masuk: Pasang saringan sederhana di saluran masuk supaya sampah, ikan liar, dan hama tidak ikut masuk ke kolam.
-
Tambahkan peneduh alami secukupnya: Eceng gondok atau tanaman peneduh di sekitar kolam membantu menahan panas berlebih pada siang hari. Jangan sampai menutupi seluruh permukaan, karena ikan tetap butuh cahaya dan sirkulasi udara.
Contoh sederhananya, bayangkan Anda membeli terpal baru di pagi hari, mengisinya siang hari, lalu menebar benih sore harinya. Benih langsung berhadapan dengan air yang belum stabil, dan kematian massal di hari-hari pertama bukan hal yang aneh. Panduan lengkap soal ternak ikan gurame di kolam kecil bisa membantu Anda merancang kolam sejak awal.
Tips singkat: Tandai tanggal pengisian air di kalender. Kebiasaan kecil ini mencegah Anda tergoda menebar benih terlalu cepat.
Advertisement
2. Keliru Memilih dan Menebar Benih
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8976429/original/073197500_1782984103-15024299851374505060.jpeg)
Benih merupakan modal utama dalam usaha ternak gurami. Namun, tahap ini justru sering menjadi sumber kesalahan bagi pemula yang tergiur harga murah. Salah satu kesalahan pemula ternak gurami di kolam terpal yang bisa berakibat fatal adalah membeli benih tanpa memeriksa kondisinya dan menebarkannya terlalu padat. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menghindari kesalahan tersebut.
1. Periksa Kondisi Fisik Benih
Pilih benih gurami yang memiliki tubuh utuh, tidak terluka, tidak cacat, dan berenang dengan lincah. Mengacu pada SOP Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), benih yang baik memiliki ukuran minimal sekitar 6 cm dan sebaiknya dilengkapi keterangan mengenai asal benih.
2. Tanyakan Riwayat Penanganan Benih
Kematian gurami pada awal pemeliharaan dapat terjadi akibat penanganan benih yang kurang baik sebelum sampai ke kolam. Karena itu, pilih penjual yang bersedia menjelaskan cara benih dipelihara dan dikemas sebelum dikirim.
3. Hitung Padat Tebar Sejak Awal
Hindari menebar benih sebanyak mungkin hanya karena kolam terlihat masih luas. Padat tebar perlu disesuaikan dengan luas kolam dan fase pemeliharaan agar kualitas air tetap terjaga.
Penelitian mengenai budidaya gurami di kolam terpal sintetis menunjukkan bahwa konsentrasi amonia dan nitrit meningkat seiring bertambahnya padat tebar. Kondisi ini perlu diwaspadai karena kadar kedua senyawa tersebut yang berlebihan dapat membahayakan ikan.
4. Sesuaikan Jumlah Benih dengan Fase Pemeliharaan
Jumlah benih yang ditebar perlu disesuaikan dengan ukuran ikan. Untuk fase pembesaran awal, SOP KKP menyebutkan kisaran kepadatan 15–20 ekor per meter persegi. Sementara itu, pada fase lanjutan ketika bobot ikan mencapai 200–300 gram, kepadatan diturunkan menjadi 5–7 ekor per meter persegi.
Penyesuaian ini membantu mengurangi persaingan mendapatkan pakan dan menjaga kualitas air selama pemeliharaan.
5. Tebarkan Benih pada Jam yang Sejuk
Pilih waktu penebaran ketika suhu air belum terlalu panas, yaitu sebelum pukul 08.00 pagi atau setelah pukul 16.00 sore. Suhu yang lebih sejuk membantu mengurangi tekanan akibat perubahan lingkungan selama proses pemindahan benih.
6. Lakukan Aklimatisasi Sebelum Penebaran
Jangan langsung menuangkan benih dari kantong ke kolam. Apungkan kantong berisi benih di permukaan air selama beberapa saat agar suhu di dalam kantong menyesuaikan dengan suhu kolam.
Setelah itu, buka kantong dan biarkan benih keluar secara perlahan. Proses ini membantu mengurangi stres akibat perubahan suhu yang mendadak.
Dalam praktiknya, padat tebar yang rendah mungkin terasa kurang menguntungkan pada awal usaha. Namun, penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan larva gurami dapat menurun secara nyata ketika kepadatan meningkat. Penurunan tersebut berkaitan dengan berkurangnya asupan pakan larva.
Artinya, kolam yang terlalu padat bukan hanya berisiko mengalami penurunan kualitas air, tetapi juga dapat menghambat pertumbuhan ikan.
Tips singkat: Jika masih ragu menentukan jumlah benih, mulailah dari batas bawah rekomendasi kepadatan. Menambah jumlah benih pada siklus berikutnya akan lebih mudah daripada mengatasi masalah yang muncul akibat kolam terlanjur terlalu padat.
3. Salah Kaprah Soal Pakan dan Perawatan Air
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4046872/original/085726500_1654694985-IMG-20220608-WA0029.jpg)
Banyak orang mengira gurami akan cepat besar jika diberi pakan sebanyak mungkin. Padahal, pemberian pakan berlebihan justru menjadi salah satu kesalahan pemula ternak gurami di kolam terpal yang perlu dihindari. Sebagai sistem budidaya dengan sirkulasi air yang terbatas, kolam terpal membutuhkan pengelolaan pakan dan kualitas air yang baik agar sisa pakan tidak menumpuk dan membahayakan ikan. Berikut cara mengatur pakan dan air dengan benar.
1. Takar Pakan Berdasarkan Bobot Ikan
Jumlah pakan perlu disesuaikan dengan bobot total ikan di kolam. SOP Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyarankan pemberian pakan buatan sekitar 1–3% dari bobot total ikan per hari, yang dapat dibagi menjadi 1–2 kali pemberian.
Sebagai contoh, jika bobot total ikan di kolam mencapai 20 kg, kebutuhan pakan hariannya berkisar 200–600 gram. Takaran ini perlu disesuaikan dengan ukuran ikan, nafsu makan, dan kondisi pemeliharaan.
2. Hindari Pemberian Pakan Berlebihan
Pakan yang diberikan terlalu banyak tidak selalu membuat gurami tumbuh lebih cepat. Sebaliknya, sisa pelet yang tidak termakan dapat menumpuk di dasar kolam, terurai, dan menurunkan kualitas air.
Karena itu, berikan pakan sesuai kebutuhan ikan dan amati responsnya saat makan. Jika masih banyak pelet tersisa beberapa menit setelah pemberian, evaluasi takaran berikutnya agar pakan tidak terbuang dan kualitas air tetap terjaga.
3. Pilih Pakan yang Sesuai
Gunakan pelet dengan kandungan protein minimal sekitar 20%, belum kedaluwarsa, dan berukuran sesuai bukaan mulut ikan. Benih berukuran kecil akan kesulitan menelan pelet yang terlalu besar, sehingga ukuran pakan perlu disesuaikan dengan fase pertumbuhannya.
Selain kandungan protein, perhatikan pula kualitas dan daya cerna pakan. Pakan yang sesuai membantu memenuhi kebutuhan nutrisi ikan sekaligus mengurangi sisa pakan yang berpotensi mencemari air.
4. Kombinasikan Daun dan Pakan Buatan
Daun talas, kangkung, dan daun singkong dapat dimanfaatkan sebagai pakan tambahan untuk membantu menekan biaya budidaya. Namun, pemberian daun saja belum tentu mampu memenuhi kebutuhan nutrisi gurami secara optimal.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa gurami yang hanya diberi daun talas mengalami pertumbuhan paling rendah dibandingkan ikan yang diberi pakan komersial atau kombinasi pakan komersial dan daun talas. Karena itu, gunakan pakan hijauan sebagai pelengkap, bukan satu-satunya sumber nutrisi.
5. Pantau Kualitas Air Secara Rutin
Kualitas air berpengaruh terhadap kesehatan dan pertumbuhan gurami. Pantau suhu, pH, serta kecerahan air secara terjadwal untuk mengetahui perubahan kondisi kolam sejak dini.
Sebagai acuan umum, SOP KKP menyebutkan kisaran suhu 25–30 derajat Celsius, pH 6,5–8,5, dan kecerahan sekitar 40–60 cm. Pencatatan secara rutin membantu pemula mengetahui apakah kondisi kolam masih sesuai untuk pemeliharaan gurami.
6. Ganti Air Secara Bertahap
Jika air mulai kotor atau kualitasnya menurun, lakukan penggantian sebagian air secara bertahap. Buang air yang mengandung kotoran dan endapan dari dasar kolam, kemudian tambahkan air pengganti yang kualitasnya sesuai dan suhunya tidak berbeda jauh dari air kolam.
Hindari mengganti seluruh air sekaligus tanpa alasan mendesak karena perubahan kondisi yang mendadak dapat membuat ikan stres. Sesuaikan jumlah air yang diganti dengan tingkat kekeruhan, penumpukan kotoran, dan hasil pemantauan kualitas air.
7. Bersihkan Dasar Kolam Terpal Secara Berkala
Sisa pakan dan kotoran ikan yang mengendap di dasar kolam dapat terurai dan menghasilkan amonia. Jika menumpuk, bahan organik tersebut berpotensi menurunkan kualitas air dan mengganggu kesehatan gurami.
Bersihkan dasar kolam secara berkala, terutama pada bagian yang menjadi tempat berkumpulnya endapan. Langkah ini membantu mengurangi penumpukan kotoran dan menjaga lingkungan pemeliharaan tetap mendukung pertumbuhan ikan.
Pengelolaan suhu juga tidak kalah penting. Penelitian pada benih gurami menunjukkan bahwa ikan ini dapat tumbuh dengan baik pada suhu 25–28 derajat Celsius. Sementara itu, kolam terpal yang dangkal dan terpapar sinar matahari langsung sepanjang hari berisiko mengalami kenaikan suhu air pada siang hari.
Untuk mengantisipasinya, jaga ketinggian air yang sesuai dan gunakan peneduh secukupnya agar suhu kolam tidak berfluktuasi secara berlebihan. Jika ingin mengetahui cara menekan biaya pakan tanpa mengabaikan pertumbuhan ikan, kamu juga bisa membaca ulasan tentang budidaya gurame agar cepat besar.
Tips singkat: Sediakan buku catatan kecil di dekat kolam untuk mencatat tanggal, jumlah pakan, dan kondisi air setiap hari. Catatan ini membantu mengenali pola perubahan kualitas air dan respons ikan terhadap pemberian pakan sehingga perbaikan dapat dilakukan sebelum masalah berkembang lebih jauh.
Advertisement
Kesalahan Lain yang Sering Diabaikan Pemula
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5473499/original/032237200_1768447175-Ternak_ikan_gurame_tanpa_pompa_besar__Gemini_AI_.jpg)
Selain tiga kesalahan utama di atas, ada beberapa kebiasaan lain yang dapat menurunkan hasil panen gurami. Mengenali kesalahan ini sejak awal membantu pemula mencegah kerugian sebelum terjadi, bukan baru mengambil tindakan setelah ikan mati atau kondisi kolam memburuk.
Gurami dapat mengonsumsi pelet komersial dan dibudidayakan dalam berbagai jenis kolam, termasuk kolam tanah dan kolam buatan berlapis membran. Namun, kemampuan beradaptasi tersebut tetap memiliki batas. Jika beberapa kesalahan pemeliharaan terjadi secara bersamaan, pertumbuhan ikan dan hasil panen bisa ikut terganggu.
1. Tidak Sabar Menunggu Masa Panen
Gurami membutuhkan waktu pemeliharaan yang relatif panjang dibandingkan beberapa jenis ikan air tawar lainnya. Jika menggunakan dua tahap pemeliharaan, total waktu hingga panen bisa mencapai delapan bulan atau lebih, bergantung pada ukuran benih, pakan, dan kondisi budidaya.
Pemula yang berharap bisa panen dalam tiga bulan berisiko kecewa ketika pertumbuhan ikan belum mencapai ukuran jual. Karena itu, pahami target waktu panen sejak awal dan sesuaikan modal serta biaya operasional dengan lama pemeliharaan.
2. Mengabaikan Tanda Awal Penyakit
Gurami yang berenang menyendiri, mengalami penurunan nafsu makan, atau menunjukkan luka pada tubuh dan sirip perlu mendapat perhatian. Perubahan perilaku tersebut dapat menjadi tanda gangguan kesehatan, meskipun belum tentu menunjukkan penyakit tertentu.
Segera amati kondisi ikan dan kualitas air. Jika diperlukan, pisahkan ikan yang sakit dengan penanganan yang tepat, lalu konsultasikan dengan penyuluh perikanan sebelum menggunakan obat atau bahan kimia.
3. Menggunakan Obat Tanpa Takaran yang Jelas
Pemberian obat atau garam tanpa mengetahui dosis yang tepat justru dapat membahayakan gurami. Takaran yang berlebihan berisiko mengganggu keseimbangan lingkungan kolam dan memperburuk kondisi ikan.
Gunakan produk sesuai petunjuk pemakaian dan pastikan bahan tersebut memang sesuai untuk masalah yang dihadapi. Jika belum mengetahui penyebab gangguan kesehatan ikan, mintalah saran dari tenaga ahli sebelum melakukan pengobatan.
4. Tidak Menyediakan Air Cadangan
Kualitas air dapat berubah sewaktu-waktu sehingga penggantian air terkadang perlu dilakukan segera. Tanpa persediaan air cadangan, pemula mungkin terpaksa menggunakan air sumur atau air PAM secara langsung tanpa memeriksa kesesuaiannya untuk ikan.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, siapkan tandon berisi air yang telah dipersiapkan sebelumnya. Pastikan air pengganti aman untuk gurami dan memiliki suhu serta kondisi yang sesuai sebelum digunakan.
5. Membiarkan Terpal Rusak
Lubang kecil atau kebocoran pada terpal sering dianggap sepele. Padahal, kerusakan tersebut dapat menyebabkan air terus berkurang dan membuat ketinggian air turun, terutama jika kebocoran tidak segera diketahui.
Periksa dinding, sambungan, dan sudut terpal secara berkala. Jika ditemukan kerusakan, segera lakukan perbaikan agar kebocoran tidak semakin besar dan mengganggu kondisi kolam.
6. Memanen Ikan dengan Cara Kasar
Penanganan saat panen turut memengaruhi kondisi fisik gurami dan nilai jualnya. Penggunaan jaring yang kasar atau proses penangkapan yang terburu-buru dapat menyebabkan luka dan kerusakan sirip, terutama jika ikan akan dijual dalam keadaan hidup.
Lakukan pemanenan secara hati-hati dengan menurunkan ketinggian air secara bertahap jika diperlukan. Gunakan alat tangkap yang sesuai dan hindari mengangkat atau memindahkan ikan secara kasar agar kondisinya tetap baik hingga sampai ke pembeli.
7. Tidak Mencatat Modal dan Hasil Usaha
Catatan keuangan membantu pemula mengetahui apakah usaha budidaya gurami benar-benar menghasilkan keuntungan. Tanpa pencatatan, biaya pembelian benih, pakan, perawatan kolam, obat, dan kebutuhan lainnya mudah terlewat saat menghitung hasil usaha.
Catat seluruh pengeluaran, jumlah ikan yang dipanen, hasil penjualan, serta kerugian jika ada. Data tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi keuntungan dan memperbaiki strategi budidaya pada siklus berikutnya.
Dalam praktiknya, berbagai kesalahan tersebut jarang terjadi secara terpisah. Padat tebar yang terlalu tinggi, misalnya, dapat meningkatkan kebutuhan pakan dan memperbesar jumlah sisa pakan di kolam. Jika kualitas air kemudian memburuk, risiko gangguan kesehatan ikan juga dapat meningkat.
Karena itu, kunci memahami budidaya gurami di kolam terpal adalah mengelola seluruh aspek pemeliharaan sebagai satu sistem yang saling berkaitan. Mulai dari pemilihan benih, pengaturan pakan, pemantauan kualitas air, hingga pencatatan keuangan, setiap langkah berperan dalam menjaga kelangsungan usaha dan membantu meningkatkan hasil panen.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kesalahan Pemula Ternak Gurami di Kolam Terpal
Berapa lama kolam terpal baru harus didiamkan sebelum ditebar benih?
Umumnya sekitar satu minggu setelah diisi air. Waktu ini membantu menetralkan bau dan zat dari terpal baru sekaligus memberi kesempatan plankton tumbuh, sehingga benih tidak langsung stres saat masuk kolam.
Apakah gurami boleh hanya diberi pakan daun agar hemat?
Sebaiknya tidak. Daun seperti talas atau kangkung bagus sebagai pakan tambahan, tetapi pertumbuhan gurami cenderung lebih lambat jika tidak dikombinasikan dengan pelet. Campuran pelet dan daun biasanya lebih seimbang antara biaya dan hasil.
Mengapa banyak benih gurami mati di minggu pertama?
Penyebab yang paling umum adalah air kolam belum stabil, benih tidak diaklimatisasi, penebaran dilakukan saat siang terik, atau kondisi benih memang kurang baik sejak dari penjual. Memeriksa benih, menebar di pagi atau sore hari, dan menyesuaikan suhu terlebih dahulu bisa menekan risiko ini.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9351957/original/080906700_1789720927-cek_fakta_suahasil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4160798/original/079359000_1663319947-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381099/original/021116000_1792753524-cek_fakta_suahasil_-_dana_hibah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2214828/original/012272500_1526406975-pemadan_karhutla_sinar_mas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5557972/original/055318700_1776400486-Ide_Budidaya_Ikan_Vertikal_di_Lahan_Sempit_yang_Mudah_Dijalankan_untuk_Pensiunan_Model_Kolam_Terpal_Bertingkat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381899/original/025401000_1792907882-63825.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381825/original/058514600_1792899570-Gemini_Generated_Image_nyd9xfnyd9xfnyd9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378590/original/076325000_1792553116-0f3acdb6-8c25-4337-8158-68497dc3e604.jpg)