Temui Presiden Senat Australia, Ibas Dorong Penguatan Diplomasi Parlemen

Ibas menegaskan, kedekatan geografis Indonesia dan Australia perlu terus diikuti dengan penguatan hubungan antarmasyarakat.

Diterbitkan 18 Oktober 2025, 18:46 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR) sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR, Edhie Baskoro Yudhoyono, melakukan pertemuan dengan Presiden Senat Australia, Senator the Hon. Sue Lines. Pertemuan tersebut berlangsung di Parliament House, Canberra, Australia, pada 15 Oktober.

Dalam pertemuan tersebut, Ibas Yudhoyono didampingi anggota MPR/DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat serta Wakil Kepala Perwakilan Republik Indonesia untuk Australia, Lintang Paramitasari, bersama jajaran Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Australia.

"Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan bilateral Indonesia–Australia melalui diplomasi parlemen, dialog antarlembaga legislatif, serta pengembangan kerja sama di bidang demokrasi, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan keamanan," ujar pria yang akrab disapa Ibas itu melalui keterangan yang diterima, Minggu (18/10).

Ibas juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Senat Australia atas sambutan hangat dan keramahan yang diberikan kepada delegasi Indonesia. Dia menilai pertemuan langsung antarlembaga perwakilan rakyat merupakan kesempatan penting untuk mempererat komunikasi, memperluas pemahaman, dan membangun kepercayaan antara kedua negara.

"Tak kenal maka tak sayang yang berarti bahwa saling mengenal merupakan langkah awal untuk menumbuhkan kedekatan dan penghargaan," tutur Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI itu.

Dalam pertemuan tersebut, Ibas juga menyampaikan salam hangat dari Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia.

“Bagi banyak masyarakat Indonesia, Australia bukan sekadar negara tetangga. Australia merupakan bagian dari pengalaman pribadi, pendidikan, persahabatan, dan berbagai pengalaman bersama yang telah mempererat hubungan kedua bangsa,” ujarnya.

Ibas menegaskan, kedekatan geografis Indonesia dan Australia perlu terus diikuti dengan penguatan hubungan antarmasyarakat. Menurutnya, jembatan diplomasi yang paling kokoh tidak hanya dibangun oleh pemerintah, tetapi juga melalui hubungan antarlembaga dan interaksi langsung masyarakat kedua negara.

"Perjalanan hubungan Indonesia–Australia terus berkembang melalui berbagai periode kepemimpinan. Dari masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga Presiden Prabowo Subianto, hubungan kedua negara terus diarahkan pada penguatan kemitraan yang lebih matang dan komprehensif," ungkap dia.

"Hubungan Indonesia dan Australia pada masa Perdana Menteri John Howard hingga pemerintahan Perdana Menteri Anthony Albanese menunjukkan berbagai dinamika yang pernah mewarnai hubungan kedua negara. Menurutnya, dinamika tersebut menjadi bagian dari proses membangun komunikasi dan kerja sama yang semakin kuat," sambung Ibas.

Dalam konteks tersebut, Ibas menekankan pentingnya diplomasi parlemen sebagai instrumen yang melengkapi diplomasi resmi pemerintah.

“Institusi kita mungkin memiliki struktur dan mekanisme yang berbeda, tetapi kita memiliki tanggung jawab yang sama, yaitu mewakili rakyat, memperkuat demokrasi, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.