TASPEN Goes to Campus, Mahasiswa USU Diajak Siapkan Masa Depan Finansial

TASPEN Goes to Campus – USU 2026, sebuah ajang edukasi lintas lembaga yang berfokus pada pentingnya literasi keuangan.

Diterbitkan 16 September 2026, 17:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ratusan mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) memadati Auditorium USU, Medan, pada Rabu (16/9/2026). Kehadiran para mahasiswa tersebut bertujuan untuk mengikuti gelaran TASPEN Goes to Campus – USU 2026, sebuah ajang edukasi lintas lembaga yang berfokus pada pentingnya literasi keuangan, pengelolaan portofolio investasi, serta perencanaan masa depan dan dana pensiun sejak dini.

Acara yang berlangsung interaktif ini menghadirkan jajaran pimpinan PT TASPEN (Persero), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Utara, serta pakar keuangan nasional.

Direktur Operasional PT TASPEN (Persero), Tribuna Phitera Djaja, membagikan kisah perjalanan hidupnya yang tumbuh dan menempuh pendidikan di Medan, termasuk di SMA Negeri 7 Medan. Ia menegaskan bahwa latar belakang apa pun tidak boleh membatasi seseorang untuk sukses dan mengelola keuangannya dengan baik.

"Saya sekolah di Medan, SMA 27 Medan. Kuliah saya bertahun-tahun di Semarang, di USM. Jangan pernah merasa kecewa, jangan pernah merasa kita tidak mampu. Pengelolaan keuangan ini memang harus kita manajeri dari awal. Karena kalau kita dapat pensiun itu sampai usia 60 tahun, di sini pentingnya penguatan bagaimana mengatur keuangan sejak awal kita bekerja sampai akhir hayat," ujar Tribuna Phitera Djaja.

Tribuna menambahkan, TASPEN saat ini mengelola dana yang cukup besar untuk memastikan perlindungan hari tua bagi para ASN hingga pejabat negara, serta terus berinovasi bersama anak perusahaan seperti TASPEN Life guna memberi nilai tambah pada Tabungan Hari Tua (THT) peserta.

"Asuransi pegawai negeri itu TASPEN. Kami juga mengelola program THT, Tabungan Hari Tua, Pensiun, Jaminan Kecelakaan Kerja, dan Jaminan Kematian bagi pegawai aktif. Pejabat negara juga mendapat pensiun, mulai dari wali kota sampai dengan presiden dan menteri. Saat ini pengelolaan TASPEN mengelola aset hampir sekitar Rp430 triliun," tambahnya.

Direktur Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, Perlindungan Konsumen dan LMS OJK Provinsi Sumatera Utara, Yusri, menyoroti rendahnya literasi serta inklusi masyarakat terhadap dana pensiun berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK). Ia mengajak para mahasiswa untuk mengubah pola pikir yang menganggap masa pensiun masih terlalu jauh.

"Bagi anak-anak muda sekarang, pensiun adalah sesuatu yang masih jauh. 'Sekarang ingin menikmati,' begitu pikirnya. Hasil survei SNLIK menunjukkan tingkat literasi dan inklusi masyarakat terhadap sektor pensiun ini masih sangat kecil. Padahal mempersiapkan pensiun itu bukan sesuatu yang harus ditunda. Mulailah saat Anda mendapatkan penghasilan pertama, cicil, sisihkan. Jangan abaikan bekal hari ini karena kita tidak pernah tahu masa depan seperti apa," tegas Yusri.

Yusri juga membagikan pengalaman pribadinya yang telah merencanakan pensiun sejak awal mulai bekerja, sehingga saat memasuki masa pensiun tahun depan, segala kebutuhan dan investasi hidupnya sudah terencana dengan matang.

CEO & Lead Financial Trainer QM Financial, Ligwina Hananto, turut menyampaikan materi praktis mengenai formulasi keuangan yang sehat bagi anak muda. Ia mengajak mahasiswa untuk tidak sekadar mengejar cara cepat kaya yang berisiko, melainkan membangun ketahanan finansial jangka panjang.

"Hari ini saya mau mengajak finansial yang lebih sehat. Belajar satu kali hari ini bisa jadi buat kita semua seumur hidup. Cita-cita itu jangan cuma pengen jadi orang paling kaya, tapi jadi orang yang bermanfaat dan keuangannya kuat. Aturan dasarnya, minimal 10 persen untuk tabungan dan investasi, pengeluaran gaya hidup dibatasi maksimal 20 persen, dan cicilan harus dibatasi maksimal 30 persen dari penghasilan," kata Ligwina Hananto.

Ligwina juga memaparkan berbagai instrumen investasi terjangkau yang dapat dipelajari mahasiswa, seperti emas, saham dengan aturan dagang yang jelas, Surat Berharga Negara (SBN Retail), hingga reksa dana. Selain itu, ia mengingatkan bahaya laten dari kebiasaan finansial yang merusak.

"Yang bahaya dari judi online itu ada faktor ketagihannya, tidak bisa stop. Jangan sampai terlibat pinjol, judi online, dan investasi bodong. Hati-hati dan hindari tiga hal ini karena tidak akan membuat Anda cepat kaya, melainkan membuat Anda cepat bangkrut," imbau Ligwina.

Kolaborasi antara TASPEN, OJK, dan civitas akademika USU melalui kegiatan ini diharapkan dapat membuka wawasan mahasiswa Sumatera Utara agar lebih disiplin dalam mengelola keuangan serta siap menghadapi masa depan dengan finansial yang kuat dan terencana.