Warga Lampung Doakan Kru Speedboat dan Jurnalis Ditemukan Selamat

Ribuan warga Lampung menggelar salat istisqa dan doa bersama di Lapangan Korpri.

Diterbitkan 10 September 2026, 13:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ribuan warga Lampung menggelar salat istisqa dan doa bersama di Lapangan Korpri, kompleks Pemprov Lampung, Kamis (10/9/2026). Salat meminta hujan tersebut digelar di tengah kondisi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) yang masih dirasakan. Doa bersama juga dipanjatkan agar lima jurnalis dan tiga kru speedboat yang hilang kontak segera ditemukan.

Salah seorang warga Bandar Lampung, Doni Kurniawan, datang mengikuti salat istisqa bersama tetangganya. Ia berharap kondisi Gunung Anak Krakatau segera mereda dan para korban yang masih dalam pencarian dapat ditemukan selamat.

"Semoga saja cepat mereda dan hujan bisa segera turun. Kemudian, kami warga Lampung juga berharap supaya para jurnalis dan kru yang hilang kontak segera ditemukan dengan kondisi selamat," kata Doni di Bandar Lampung, Kamis (10/9/2026).

Doni dan keluarga masih menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap paparan abu vulkanik, terutama saat membawa anak-anak.

"Kita enggak tahu debu ini bisa berbahaya bagi kesehatan atau tidak, jadi lebih baik tetap pakai masker," jelasnya.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan, salat istisqa tidak hanya dilakukan secara terpusat di lingkungan Pemprov Lampung. Ia mengajak masyarakat di berbagai daerah untuk turut melaksanakan salat dan doa bersama di masjid, musala hingga pondok pesantren.

"Salat istisqa ini kita ingin menjadi amalan semua masyarakat di Lampung. Kalau kita melakukan secara bersama-sama, insyaallah hati masyarakat Lampung menjadi satu, semangatnya satu, doanya sama," kata Mirza seusai salat istisqa.

Menurut Mirza, semakin banyak masyarakat yang memanjatkan doa, semakin besar pula harapan agar doa tersebut dikabulkan.

"Semakin banyak yang berdoa, insha Allah ada satu doa yang terkabul oleh Allah Ta'ala," ujarnya.

Mirza mengatakan, kondisi sebaran abu vulkanik Anak Krakatau mulai berkurang dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Kecepatan angin yang membawa material vulkanik juga dilaporkan mulai melemah.

"Angin dilaporkan juga tidak terlalu kuat lagi dan debu juga sudah tidak terlalu banyak lagi dari erupsi Krakatau. Mudah-mudahan dalam beberapa waktu ini sudah akan semakin baik," ungkapnya.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus terjadi. Berdasarkan data MAGMA Indonesia, GAK kembali mengalami erupsi pada Kamis (10/9/2026) pukul 09.10 WIB.

Erupsi tersebut tidak dapat diamati secara visual karena kawasan gunung tertutup kabut. Namun, aktivitas vulkanik terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 47 milimeter dan durasi 17 detik.

Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan aktivitas gunung masih harus diwaspadai meskipun letusan tidak terlihat secara langsung.

"Kalau aktivitasnya masih ada, masyarakat tetap harus waspada dan jangan mendekati kawasan gunung," kata Suwarno.

Hingga kini, status Gunung Anak Krakatau masih berada di Level III atau Siaga. Masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki diminta tidak mendekati gunung dan dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.