Anak Kabur Usai Terlilit Utang, Rumah Lansia Jadi Sasaran Teror Bom Molotov

Pasutri lansia endus dalang di balik aksi teror tersebut.

Diterbitkan 29 Juli 2026, 09:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pasangan suami istri lanjut usia, JN (62) dan SP (54), warga Jalan Glugur Rimbun, Desa Tanjung Anom, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, mengalami teror. Rumah mereka menjadi sasaran lemparan bom molotov pada Kamis (23/7/2027) lalu. Diduga, teror berkaitan utang sang anak.

Sebagian bangunan rumah, khususnya area jendela kamar mengalami kerusakan setelah bom molotov yang dilemparkan menyulut kobaran api.

Korban SP menuturkan, peristiwa mencekam itu terjadi saat keluarganya tengah tertidur lelap. Tiba-tiba, ia mendengar suara mobil berhenti di depan rumah sebelum akhirnya terdengar suara pecahan botol disusul kobaran api.

"Dari luar rumah dengar ada suara orang. Tak berapa lama, terdengar suara letupan seperti botol pecah dan kobaran api mengarah ke jendela kamar," jelas SP, Rabu (29/7/2026).

Seketika itu juga, SP langsung  membangunkan suami serta anaknya dan berjibaku memadamkan api dengan peralatan seadanya.

Beruntung, api berhasil dipadamkan sebelum menghanguskan seluruh isi rumah. Meski demikian, insiden ini menyisakan trauma mendalam bagi keluarga.

Berdasarkan pengakuan SP, teror semacam ini ternyata bukan yang pertama kalinya dialami. Tahun sebelumnya, bagian kaca jendela sisi kanan rumah mereka juga pernah dilempari bom molotov oleh orang tak dikenal.

 

Diduga Ulah Rentenir

SP menduga kuat aksi teror berulang ini dilakukan orang suruhan rentenir akibat persoalan utang piutang yang melilit anak mereka berinisial RY.

"Rentenir itu pernah datang ke rumah dan menyebutkan bahwa anak saya punya utang sebesar Rp 200 juta. Jadi, karena anaknya yang dicari-cari tidak ada, sehingga kuat dugaan rumah kami jadi sasaran teror bom molotov," ungkapnya.

Ia menambahkan, RY sudah tidak tinggal di rumah selama dua tahun terakhir karena kabur dari kejaran penagih utang. Pihak keluarga menyayangkan cara-cara premanisme yang digunakan untuk menagih utang tersebut.

"Kalau memang utang anak saya belum dibayar seharusnya bisa dibicarakan baik-baik. Bukan melakukan aksi teror seperti ini yang membuat kami merasa ketakutan," keluhnya.

Merasa keselamatan jiwa dan keluarganya terancam, korban telah resmi melaporkan insiden pelemparan bom molotov ini ke Polsek Pancur Batu agar segera ditindaklanjuti secara hukum.

Kapolsek Pancur Batu, Kompol Junaidi, saat dikonfirmasi menyatakan bahwa jajarannya telah menerima laporan tersebut dan saat ini tengah memburu para pelaku.

"Masih diselidiki terhadap pelaku pelemparan bom molotov," pungkasnya.