Kisah Cinta Sang Ayah, Satpam Sido Muncul Lari 140 Kilometer Rayakan Kelulusan Anak Jadi Anggota TNI

Andreas Apriyadi adalah tenaga sekuriti PT Sido Muncul yang sangat mencintai keluarganya. Ia rela lari 140 km pulang ke rumahnya untuk merayakan kegembiraan karena anaknya diterima jadi anggota TNI.

Diperbarui 03 Juni 2025, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Semarang - Mari berkisah tentang rasa cinta. Sebuah rasa yang absurd dan membuat siapa pun kadang menepikan rasionalitas untuk merayakannya.

Adalah kisah Andreas Apriyadi, seorang satpam berusia 48 tahun di PT Sido Muncul. Ia adalah seorang ayah, warga Dukuh Metawar, Desa Ujungwatu, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara. 

Andreas memilih berlari pulang ke rumahnya di Jepara dari tempatnya bekerja di kawasan Bergas Kabupaten Semarang. Jaraknya mencapai 140 km. Demi apa?

Ya. Dia memilih berlari sebagai ekspresi dan membayar nazar karena anaknya diterima sebagai anggota TNI.

Ia memulai langkah epiknya dari tempat kosnya dekat PT Sidomuncul pada Jumat (30/5/2025) sekitar pukul 15.00 WIB. Mengenakan celana pendek, kaus, dan tas punggung berisi perbekalan sederhana, ia berlari penuh tekad.

Pada Minggu (1/6/2025) pukul 09.40 WIB, Andreas tiba di depan SPBU Wedelan, Kecamatan Bangsri, Jepara, dengan tubuh yang masih tampak bugar.

"Sebentar lagi sampai rumah,” katanya menyemangati diri.

Ia saat itu merasa kakinya sudah berat. Tapi semangat dan kecintaan pada keluarga mampu mengalahkan rasa lelah dan sakit di kaki.

Perjalanan ini bukanlah hal mudah. Andreas bernazar ke Jepara karena tahu betapa sulitnya mewujudkan mimpi anaknya menjadi prajurit TNI. Seleksi TNI dikenal sangat ketat, dengan ribuan pendaftar bersaing untuk kuota terbatas.

Anaknya harus menyisihkan ratusan ribu pendaftar untuk masuk dalam beberapa ribu yang dinyatakan lolos seleksi. Peluang lolos sering kali di bawah 10%, menuntut calon prajurit unggul dalam tes fisik, akademik, psikologi, dan kesehatan.

"Saya sadar itu. Karena ya saya berjanji jika anak saya berhasil menembus seleksi ketat TNI, saya akan berlari pulang ke rumah di Jepara,"katanya.

Baginya keberhasilan anaknya adalah kebanggaan terbesar.

"Saya ingin anak saya bisa mengabdi untuk negara. Saya tahu ini sulit, makanya saya bernazar seperti ini,” katanya.

Barangkali Andreas Apriyadi tak pernah paham bahwa sikapnya itu sudah pernah dirumuskan oleh filsuf dan penyair Lebanon, Kahlil Gibran.

"Dalam pelukan cinta, orangtua menemukan kegembiraan di tengah penderitaan, karena cinta sejati adalah memberikan segalanya demi kebahagiaan yang dicintai," kata Kahlil Gibran.

Bagi Andreas, rasa lelah dari perjalanan panjang ini adalah harga kecil dibandingkan kebahagiaan melihat anaknya mengenakan seragam TNI, siap mengabdi untuk bangsa.

Kisah ini adalah kisah cinta tak terukur seorang bapak. Cinta yang rela mendorong batas fisiknya, berlari melintasi jalan panjang demi menunjukkan dukungan dan rasa syukur. Perjalanan ini bukan hanya soal jarak, tetapi tentang hati seorang ayah yang penuh dedikasi, merayakan kegembiraan meski menyakitkan, demi masa depan anak tercinta.