Ritual Pengadukan Bubur Suro yang Dilakukan 7 Kali di Jawa

Proses mengaduk bubur tujuh kali searah jarum jam dipercaya dapat mengalirkan energi positif sekaligus menangkal hal-hal buruk.

Diterbitkan 03 Mei 2025, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yogyakarta - Di Jawa, khususnya Jawa Barat, terdapat tradisi unik dalam menyajikan bubur suro sebagai bagian dari peringatan tahun baru Islam atau 1 Muharram. Salah satu ritual yang paling mencolok adalah pengadukan bubur sebanyak tujuh kali searah jarum jam sebelum disantap.

Mengutip dari berbagai sumber, angka tujuh dalam budaya Jawa dianggap sebagai bilangan sakral yang melambangkan kesempurnaan, keselamatan, dan keberkahan. Proses mengaduk bubur tujuh kali searah jarum jam dipercaya dapat mengalirkan energi positif sekaligus menangkal hal-hal buruk.

Gerakan searah jarum jam sendiri melambangkan harmoni dan keseimbangan. Hal ini sesuai dengan keyakinan masyarakat Jawa tentang pentingnya keselarasan dalam hidup.

Ritual ini tidak dilakukan sembarangan. Setiap putaran pengadukan diiringi dengan doa dan harapan agar tahun baru membawa kebaikan.

Beberapa masyarakat juga meyakini bahwa proses ini dapat memperkuat niat baik dan menjauhkan dari malapetaka. Bubur suro merupakan hidangan yang sarat makna.

Bubur ini biasanya terbuat dari beras yang dimasak hingga lembut, kemudian diberi berbagai pelengkap seperti kacang-kacangan, sayuran, dan buah-buahan. Setiap bahan yang digunakan memiliki filosofi tersendiri.

Kacang-kacangan melambangkan rezeki dan kemakmuran. Sementara sayuran dianggap sebagai simbol kesuburan dan kesehatan.

 

Buah Pelengkap

Buah-buahan yang sering menjadi pelengkap, seperti pisang atau kelapa, melambangkan kesuksesan dan kehidupan yang manis. Penyajiannya pun sering dilakukan secara bersama-sama.

Selain pengadukan bubur, perayaan bubur suro juga melibatkan serangkaian kegiatan lain yang memperkuat makna tradisi ini. Salah satunya adalah sedekah, di mana sebagian bubur dibagikan kepada tetangga atau mereka yang membutuhkan.

Doa bersama juga menjadi bagian penting dalam acara ini. Keluarga atau komunitas berkumpul untuk memanjatkan harapan agar tahun baru dipenuhi dengan keselamatan dan keberkahan.

Dalam beberapa tradisi, bubur suro juga disajikan dengan tata cara khusus. Seperti halnya penggunaan daun pisang sebagai alas atau penyajian di tempat-tempat yang dianggap keramat.

Meskipun zaman terus berubah, tradisi bubur suro dengan ritual pengadukan tujuh kali masih bertahan di banyak daerah di Jawa. Beberapa keluarga bahkan mengajarkan proses ini kepada generasi muda sebagai bagian dari pelestarian budaya.

Penulis: Ade Yofi Faidzun