Sukses

Perjalanan 1 Abad Bioskop Cikuray di Garut

Liputan6.com, Garut - Jauh sebelum Cinema XXI hadir di Garut, Jawa Barat saat ini, gemerlap hiburan tontonan bioskop sudah dimulai sejak satu abad silam. Tercatat empat bioskop legendaris dengan ciri khasnya, pernah mengisi hiburan masyarakat saat itu.

Budayawan Franz Limiart mengatakan, kehadiran tempat tontonan bioskop di Garut, memang tidak lepas dari campur tangan kalangan penjajah Belanda. Mereka termasuk kalangan menak-bangsawan kota Garut, mengharapkan suasana baru hiburan bagi masyarakat.

"Awalnya dimulai kehadiran sociestraat sejenis tempat hiburan malam tahun 1910-an," ujar dia dalam obrolan hangatnya dengan Liputan6.com, Minggu (19/1/2020).

Saat itu, menjelang datangnya malam, kebiasaan prajurit Belanda di Eropa yang selalu melakukan kumpul malam di bar atau cafe, mulai diterapkan di Garut.

Menggandeng pengusaha lokal, mereka mulai melakukan kegiatan serupa, yang dipusatkan di Gedung Garut Teater atau Bale Paminton yang berada tepat di Samping Gedung KNPI, saat ini.

"Istilahnya hiburan malam kalau istilah kerennya," ujar dia dengan tersenyum ramah.

Budaya kongkow itu kemudian mulai diikuti warga pribumi, kalangan menak, bangsawan, dan kaula muda kota Intan, seolah mendapatkan suasana baru dengan budaya baru itu.

"Memang semuanya tidak lepas dari pengaruh Belanda juga," ujar dia menegaskan kuatnya pengaruh Belanda saat itu.

Lambat laun, suasana itu semakin berkembang, apalagi pada saat bersamaan era bioskop yang tengah booming di Eropa saat itu mulai merasuk ke Asia termasuk Indonesia.

Petinggi Belanda di Jawa Barat khususnya Garut, mulai tergoda dan menawarkan hiburan baru tersebut kepada masyarakat.

Bukan tanpa alasan, selain memberikan hiburan tersendiri bagi para prajurit mereka, yang tengah bertugas mengumpulkan hasil bumi di Garut.

Respon masyarakat pun terutama kalangan menak dan bangsawan serta pemerintahan kolonial Belanda di Garut, cukup antusias mendukung rencana itu.

Gayung bersambut, bioskop pertama pun akhirnya tayang perdana sekitar tahun 1920-an silam, ratusan orang langsung menyemut nonton di bioskop.

"Namanya Odeon atau sekarang itu masyarakat lebih mengenal bioskop Cikuray," kata dia mengenang.

2 dari 5 halaman

Rintisan Bioskop di Garut

Sebagai tempat hiburan baru, respon masyarakat terhadap tontonan bioskop Odeon yang berada di jalan Jenderal A Yani ini langsung melesat. Tak mengherankan antrian warga untuk menonton saat itu, menjadi pemandangan biasa.

Awalnya pemutaran film dengan mesin proyektor tersebut, hanya dilangsungkan sehari sekali mulai pukul 19.00 WIB.

Namun, lambat laun seiring meningkatnya minat masyarakat yang datang, jadwal pemutaran film pun bertambah hingga tiga kali pemutaran dalam sehari.

"Diawali sekitar pukul 15.00 WIB, kemudian 19.00 WIB, terakhir pukul 22.00 WIB," papar Franz.

Kondisi itu berlangsung cukup lama, hingga akhirnya saat Ratu Juliana Louise Marie Wilhelmina van Oranje-Nassau naik tahta tahun 1948, nama gedung bioskop berganti menjadi bioskop Juliana.

"Istilahnya sebagai bentuk penghormatan bagi ratu," kata dia.

Namun kondisi itu hanya berlangsung sesaat, setelah satu tahun kemudian, Belanda menyerahkan sepenuhnya kedaulatan Indonesia kepada Pemerintah Indonesia saat itu.

"Nah mulai tahun 1950-an, namanya berganti lagi dengan Odeon," kata dia.

Penamaan Odeon yang berarti Dewa, memang sempat dikritik penonton, hingga akhirnya pada medio 1960-an, bioskop itu berganti nama menjadi Cikuray, mengambil nama salah satu Gunung paling tinggi di Garut.

"Nama itu terus bertahan hingga kini, sebelum akhirnya belum lama ini, kembali ganti nama menjadi Odeon, tapi Bioskopnya sudah tidak ada," kata dia.

3 dari 5 halaman

Masa Keemasan Bioskop

Franz mengatakan, tingginya animo penonton yang datang, tercatat dalam kurun 1950-1960, dua bioskop baru kembali muncul di Garut.

Di awali bioskop Garden, di Gedung Garut Teater yang tayang perdana tahun 1950, serta bioskop Sumbersari yang tayang 1961, yang dipelopori kalangan masyarakat Cina di Garut.

Berbeda dengan Bioskop Cikuray, nonton di bioskop Garden lebih tepat dikatakan nobar alias nonton bareng secara lesehan, sebab penonton yang datang hanya menyaksikan film, tanpa menggunakan kursi.

"Ada istilah misbar, atau gerimis bubar, sebab memang diperuntukan buat hiburan rakyat, tetapi tetap bayar," kata dia mengenang.

Namun meskipun demikian, kondisi itu tidak mengurangi minat penonton datang, hingga akhirnya mulai 1970-an, nama bioskop berganti menjadi Garut Teater.

Saat itu, harga tiket yang dijual berkisar di angka Rp 25 per lembar. Beberapa film yang kerap diputar antara lain film India dan Cina, dengan mayoritas penonton berasal dari kalangan kelas menengah ke bawah.

Bioskop kedua yakni, Sumbersari yang dibangun pada 1961, oleh Chung Hua Chung Huwey, seorang pengusaha Cina. Awalnya pengusaha tionghoa itu, berinisiatif membangun lembaga pendidikan, namun akhirnya berubah fungsi.

"Jadi siangnya buat sekolah, nah malam harinya aula itu disulap menjadi bioskop," kata dia.

Dibanding Garut Teater, keberadaan bioskop Sumbersari, relatif lebih bagus dan nyaman, hampir setara dengan bioskop Cikuray yang sejak lama menjadi primadona masyarakat Garut, dengan sajikan film India, Cina, hingga Indonesia dengan tema perjuangan dan percintaan.

"Saat itu nonton di bioskop sebuah kebanggan dan menjadi penilaian status sosial," ujarnya.

Namun sayang pemberontakan G/30/September yang dilakukan Partai Komunis Indonesia, mengubah seluruh nasib bioskop ini.

Pemilik bioskop yang diduga antek PKI ikut ditangkap, serta seluruh asetnya termasuk bioskop disita negara.  “Sampai saat ini seluruh asset bioskop dikuasai Korem Tarumanaga,” kata dia.

Namun meskipun demikian, jam tayang bioskop tetap berlangsung seperti biasa, sehingga penonton pun tetap tinggi untuk menyaksikan film di bioskop, hingga akhir 1990-an.

"Mulai 1998, keluarga pemilik bioskop Sumbersari dengan pihak keluarga Punjabi akhirnya mendirikan Intan Sineplek," kata dia.

Franz menyatakan, tingginya masyarakat datang ke bioskop, menyebabkan bisnis di sektor ini bertahan cukup lama. Tak ayal, hingga medio 1990-an, keberadaan ketiga bioskop itu selalu ramai dikunjungi penonton berbagai kalangan strata sosial.

"Kalau kelas menengah ke bawah nontonnya pasti ke Garut Teater dan Sumbersari, kalau yang kaya pasti ke bioskop Cikuray," papar dia.

4 dari 5 halaman

Berakhirnya Era Bioskop Jadul

Munculnya era internet pada 2000-an silam, mampu mengubah segalanya. Keberadaan bioskop lama di Garut yang masih menggunakan peralatan jadul alias kuno, langsung terimbas penurunan penonton.

"Mayoritas masih pakai proyektor lama, kalau mesinnya panas, bioskop istirahat dulu 10 menit," kata dia mengenang.

Selain itu, lemahnya manajerial pengelola, berbanding lurus dengan kebiasaan buruk budaya penonton, saat mereka datang ke bioskop, menyebabkan hiburan ini mulai dijauhi pengunjung.

"Kadang saat istirahat itu ada yang kencing, sehingga bioskop bau pesing, banyak botol miras dan lainnya," ujar dia.

Akibatnya bisa ditebak, penonton mulai berkurang untuk datang, sehingga berdampak pada kelangsungan bioskop di Garut.

"Sumbersari itu sampai berganti nama dan pindah menjadi Intan Sineplex tetapi tetap tidak bertahan lama," kata dia.

Selain itu, munculnya era film digital yang mulai merambah industri perfilman nasional, ikut memukul bioskop lawas tersebut.

Penonton terutama kalangan berduit, lambat laun memilih bioskop yang lebih modern di kota besar, dengan kondisi lebih baik dan bersih.

"Apalagi adanya XXI atau Cinema 21, penonton Garut lebih memilih ke Bandung dari pada bioskop," kata dia.

5 dari 5 halaman

Prediksi Masyarakat

Seiring menjamurnya bioskop di pusat perkotaan, bisnis bioskop diprediksi bakal tetap berlangsung lama. Yuyus Yusup Sopian, (43), salahs atu penonton lokal Garut mengatakan, kehadiran bioskop modern dengan tampilan lebih bersih dan tertib, memberikan hiburan tersendiri bagi warga.

"Sekarang kalau mau nonton enak gak usah ke Bandung atau Tasikmalaya lagi," ujar dia bangga.

Menurutnya budaya menonton memang memberikan kepuasan tersendiri bagi masyarakat, Apalagi bagi mereka yang enggan berlibur dalam jarak radius cukup jauh, maka hiburan menonton di bioskop bisa menjadi pelepas penat sehari-hari. "Harga pun relatif terjangkau, daripada jauh-jauh ke luar kota," kata dia.

Selain itu, pemutaran film di jaringan bioskop modern lebih update dibanding bioskop lama, sehingga penonton mendapatkan kepuasaan mendapatkan hiburan. "Kalau Jakarta film itu saat ini, di Garut juga sama," ujar dia.

Namun meskipun demikian, masuknya bioskop modern belum sepenuhnya difahami seluruh masyarakat, sehingga tidak sedikit tontonan film bergendre aksi yang menyuguhkan kekerasan, atay romantisme, dengan mudah dinikmati kalangan anak-anak.

"Jadi masih ada anggapan jika bioskop itu layaknya wisata alam, atau kebun binatang buat semua usia," kata dia.

Ia berharap dengan semakin bertambahnya gendre film yang ditayangkan, pihak pengelola bioskop modern lebih seletif memberikan kesempatan menonton, terutama bagi anak-anak.

"Masa ada bagian film di bagian kekerasan, atau mistis yang nonton bayi atau anak-anak," kata dia mengingatkan.

melihat respon postif penonton, ia memprediksi umur bioskop modern bakal semakin lama dalam memberikan hiburan murah dan mudah bagi masyarakat. "Apalagi ada film baru nasional seperti terbaru Dilan, itu yang datang biasanya sampai antri," kata dia dia.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Loading