Sukses

Menanti Datangnya Gerhana Matahari Cincin Kembali ke Palu

Liputan6.com, Palu - Penampakan fenomena Gerhana Matahari Cincin (GMC) di Kota Palu mengundang antusiasme warga untuk datang ke Kantor Stasiun Geofisika Klas I Palu. Sebagian warga datang bersama keluarga. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun memanfaatkan libur sekolahnya untuk datang menyaksikan fenomena ini sekaligus mendapatkan edukasi seputar gerhana.

Meski Gerhana di Kota Palu baru terjadi pukul 12.24 Wita, warga mulai berdatangan ke Stasiun Geofisika Palu sekitar pukul 11.00 Wita. Di lokasi ini, selain dapat menyaksikan gerhana dari layar yang disediakan, warga juga mendapatkan penjelasan tentang fenomena langka ini dari petugas BMKG.

"Saya ke sini (Stasiun Geofisika Palu) bersama keluarga biar bisa lihat gerhana dengan jelas, jarang bisa liat begini. kalau di sini alatnya lengkap," kata Siti Rahmalia (45), salah satu warga, di Kantor Stasiun Geofisika Palu, Kamis (26/12/2019).

Anak-anak yang datang pun tak kalah heboh kala manatap matahari. Mereka bergantian, bahkan sesekali berebut satu kaca mata khusus gerhana demi dapat melihat langsung proses bulan yang menutupi matahari.

"Senang bisa lihat langsung, kebetulan libur sekolah," ujar Sawal (12) antusias menjawab pertanyaan jurnalis.

Gerhana matahari cincin yang tampak di Kota Palu sendiri, tidak berbentuk cincin seutuhnya karena persentase menutupnya bulan ke matahari hanya 80 sampai 90 persen, dengan puncak gerhana terjadi pukul 14.16 dan berakhir 15.49 Wita.

Kembali Terjadi di Palu pada 2038

Gerhana matahari cincin yang hanya tampak sebagian di Kota Palu seperti ini berdasarkan data di Stasiun Geofisika Klas I Palu, pernah terjadi pada 14 Desember 2011 atau delapan tahun yang lalu. Menurut Kepala Stasiun Geofisika Klas I Palu, Cahyo Nugroho, fenomena seperti ini diperkirakan akan kembali berulang di Palu pada tahun 2038 nanti.

"Perkiraan penampakan gerhananya akan sama persis seperti hari ini. Perkiraannya akan terjadi 19 tahun berikutnya," Cahyo menjelaskan di kantornya, Kamis (26/12/2019).

Terjadinya gerhana ini dijelaskan Cahyo, dampaknya paling terlihat dengan terjadinya pasan–surut laut. Sebabnya, adalah perubahan gravitasi. Namun peristiwa ini tidak berlangsung lama.

"Itu dampak yang normal (pasang-surut laut), setiap gerhana pasti itu yang terjadi. Tapi sebentar saja," Cahyo menandaskan.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Toleransi dari Perempuan Cantik Penabuh Tambur Barongsai Perayaan Imlek di Palu
Artikel Selanjutnya
Suhu Panas Kota Palu, Begini Cara Waspada Serangan 'Heat Stroke'