Sukses

Ternak di Tapanuli Utara Mendadak Mati, Serangan Hog Cholera?

Liputan6.com, Tapanuli Utara Ternak babi milik warga di dua kecamatan yang berada di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara (Sumut) mati mendadak tanpa sebab yang jelas. Kematian ternak milik warga ini diduga terserang wabah virus babi atau Hog Cholera.

Informasi diperoleh Liputan6.com, peristiwa tersebut sudah terjadi selama dua minggu terakhir. Dua kecamatan yang ada di Tapanuli Utara tersebut adalah Kecamatan Tarutung dan Kecamatan Siatas Barita.

Daerah terparah yang diduga terserang wabah virus babi adalah Desa Simorangkir Hanbiaaran, Kecamatan Siatas Barita. Peternak babi di desa tersebut merasa resah dengan kematian hewan ternaknya.

"Kami minta tolong kepada pemerintah untuk segera mencari penyebabnya, masyarakat resah karena hewanya berkurang," kata kepala Desa Simorangkir, Hardi Saut Simorangkir, Selasa (15/10/2019).

Virus yang diduga hog cholera itu menyerang hewan ternak dengan cepat hingga babi di tempat mereka mati mendadak tanpa sebab. Gejala awalnya, hewan ternak gemetar lalu mati. Hingga kini tercatat puluhan ekor hewan ternak yang telah mati secara tiba-tiba.

Pihak Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara yang mendapat informasi kemudian merespons. Mereka memberikan vaksin untuk hewan ternak milik warga. Bahkan Pemkab mengklaim, jumlah babi yang mati hingga kini sudah jauh berkurang.

"Karena Pemkab Taput sudah datang memberikan vaksin antibiotik untuk mencegah agar hog cholera itu tidak menular," ucap Hardi.

 

* Dapatkan pulsa gratis senilai Rp10 juta dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com mulai 11-31 Oktober 2019 di tautan ini untuk Android dan di sini untuk iOS

2 dari 2 halaman

Analisa Dinas

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan Pemkab Taput, Sondang Ey Pasaribu, membenarkan peristiwa itu. Sondang mengatakan, virus ini pertama sekali merebak di Eropa sebelum akhirnya sampai ke Indonesia.

"Wabah Hog Cholera terjadi di Medan, menyebar ke Kabupaten Dairi, Humbang Hasundutan dan selanjutnya Taput," sebutnya.

Sondang menjelaskan, hewan ternak yang terkena virus ini akan mengalami gejala demam, menggigil, kotoran mengeras, kurang nafsu makan, hingga di sekitar telinga berwarna merah kebiruan.

"Dampaknya menyebabkan kematian apabila tidak segera ditangani. Berdasarkan laporan petugas Kecamatan Siatas Barita, ternak Babi yang mati akibat tertular Hog Cholera sekitar 52 ekor," jelasnya.

Diungkapkan Sondang, pihaknya juga melakukan penyuluhan kepada masyarakat untuk melaksanakan sanitasi dan desinfeksi kandang, tidak memotong ternak yang tertular, membawa ternak dari daerah tertular, serta mengubur ternak yang mati, bukan membuangnya ke sungai.

Pihaknya juga sudah membuat surat edaran ke Bupati, seluruh camat, kepala desa serta Majelis Gereja untuk mengantisipasi penularan yang lebih luas, serta ke Petugas Peternakan apabila disinyalir ada penularan ternak.

"Virus ini hanya menular pada Babi tidak menyerang manusia. Namun, masyarakat diimbau untuk tidak makan babi yang terkena virus ini," Sondang menandaskan.

Simak video pilihan berikut:

Loading
Artikel Selanjutnya
Serampangan Beri Antibiotik Malah Merugikan Peternak Sendiri
Artikel Selanjutnya
Tradisi Unik, 700 Kerbau di Ngawi Rayakan Ulang Tahun