Changan Menang Banyak, Pabrik Bekas Hyundai Senilai Rp 17 Triliun Cuma Ditebus Rp 3,6 Triliun

Raksasa otomotif China, Changan berhasil mencaplok bekas pabrik Hyundai di Chongqing dengan harga yang disebut sebagai “Harga Miring”.

Diterbitkan 29 November 2025, 06:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kancah persaingan industri otomotif global, khususnya di China, kembali diwarnai dengan manuver bisnis yang mengejutkan dan terbilang gila-gilaan. Raksasa otomotif lokal, Changan yang baru saja mengukuhkan dominasinya dengan mengakuisisi bekas pabrik manufaktur milik Beijing Hyundai di Chongqing.

Berita ini membuat heboh, pabrik yang awalnya memiliki investasi senilai miliaran dolar tersebut, kini berhasil di caplok oleh Changan dengan harga yang lebih murah, jauh di bawah nilai lelang sebelumnya.

Aksi korporasi ini bukan sekadar sebagai pergantian kepemilikan aset mati. Changan mengunci pabrik tersebut untuk digunakan sebagai markas produksi kendaraan listrik (Electric Vehicle/ EV) premium mereka.

Dilansir automotiveworld, Deepal yang saat ini sedang naik daun dan mencatatkan kenaikan penjualan yang fantastis, sangat membutuhkan tambahan kapasitas demi untuk mengejar ambisi perusahaan.

Pabrik Hyundai yang mangkrak sejak akhir 2021 kini dipastikan akan kembali berdenyut, namun bukan lagi di bawah panji Korea Selatan, melainkan di bawah kendali penuh pada kekuatan Tiongkok.

Fasilitas yang dibangun dengan invertasi awal sekitar US$ 1,09 milyar (Rp 18,16 triliun), dengan harga final yang disepakati kabarnya hanya sekitar US$226,8 juta (Rp3,78 triliun). Angka ini bahkan jauh lebih rendah dari tawaran lelang pertamanya.

Diskon besar ini jelas menandai betapa sulitnya pabrik tersebut untuk mencari pembeli selama ini, sekaligus hal ini menjadi jackpot bagi Changan dalam memperkuat infrastruktur EV-nya.

Ini adalah cerminan tren yang berkembang di mana joint venture asing kesulitan untuk bersaing di China, dan aset mereka kini hanya menjadi sebuah santapan empuk bagi para produsen domestik.

Membeli dengan Harga Miring

Pabrik Chongqing milik Beijing Hyundai memang sedang menghadapi masa sulitnya setelah dihentikan operasinya pada Desember 2021.

Pabrik ini sebelumnya merupakan fasilitas produksi kendaraan utuh (complete vehicle plant) kelima ini milik joint venture Hyundai di China. Mencari pembeli bukanlah perkara mudah.

Fasilitas ini sempat ditawarkan melalui lelang publik pada Agustus 2023 dengan harga dasar sekitar US$ 517 juta (Rp 8,2 triliun).

Karena tak kunjung laku, harga terus dipangkas dalam beberapa putaran, hingga akhirnya jatuh ke tangan Changan dengan harga final yang sangat rendah yaitu US$ 228 juta (Rp 3,6 triliun).

Harga ini menunjukan diskon yang signifikan, menegaskan label harga miring yang didapatkan oleh Changan, membuktikan keahlian mereka dalam memanfaatkan peluang bisnis di tengah pengetatan pasar.

Bekas Pabrik Raksasa dengan Fasilitas Fantastis

Fasilitas yang diakuisi oleh Changan ini bukanlah pabrik yang sembarangan. Dibangun mulai 2015 dan mulai beroperasi penuh pada Agustus 2017, pabrik ini memiliki luas area sekitar 1,87 juta meter persegi. Kapasitas desain tahunannya bisa mencapai hingga 300.000 unit kendaraan.

Dengan memegang kunci pabrik ini, Deepal kini memiliki modal besar untuk mendongkrak angka produksinya.

Meskipun Deepal belum mengumumkan secara spesifik model apa yang akan diproduksi di sana atau kapan produksi akan dimulai, akuisisi ini jelas akan memberikan ruang bernapas yang sangat dibutuhkan.

Pabrik ini memiliki invertasi awal mencapai US$ 1,1 miliar (sekitar Rp 17,6 triliun), menjadikannya aset yang sangat bernilai tinggi bagi Changan.

Keputusan Changan untuk mencaplok pabrik bekas Hyundai ini didorong oleh kebutuhan yang mendesak akan penambahan kapasitas produksi.

Sebagai induk perusahaan, Changan memiliki target penjualan yang sangat ambisius, yakni bisa mencapai 3 juta unit kendaraan pada tahun 2025.

Sementara itu, kapasitas produksi Changan pada 2024 mencapai 2,25 juta unit dengan tingkat utilitas yang sudah tinggi, yaitu 84 persen. Angka ini menunjukan bahwa Changan hampir mencapai batas maksimal produksinya.