Sukses

Dominasi Tesla Sebagai Produsen Mobil Listrik Terbesar di Dunia Digeser BYD dari Cina

Liputan6.com, Jakarta - Produsen kendaraan asal Cina, BYD, yang didukung oleh Warren Buffet berhasil menggeser Tesla sebagai produsen kendaraan listrik terbesar di dunia. Pasalnya, jenama asal Negeri Tirai Bambu ini berhasil menjual sebanyak 638.157 unit mobil penumpang listrik atau plug-in hybrid (PHEV) sepanjang semester pertama 2022.

Disitat dari Axios, Kamis (7/7/2022), angka yang dicatatkan BYD tersebut mewakili peningkatan hampir 325 persen dibanding periode yang sama pada 2021. Sementara itu, pada Juni 2022, BYD menjual sebanyak 133.762 unit kendaraan penumpang listrik atau PHEV.

Jika dirinci lebih lanjut, pada semester pertama 2022, BYD menjual sebanyak 323.519 unit kendaraan listrik baterai dan 314.638 unit PHEV. Sedangkan Tesla, pada semester satu 2022, hanya mengirimkan total 564.743 unit mobil listrik.

Anjloknya penjualan pabrikan asal Amerika Serikat ini, ditenggarai krisis rantai pasokan, dan penutupan pabrik, terutama fasislitas yang berada di Shanghai karena wabah Covid-19 yang terjadi sepanjang 2022.

CEO Tesla, Elon Musk memberikan penjelaskan terkait penurunan penjualan Tesla selama Januari hingga Juni 2022, yang dipengaruhi oleh salah satu faktor penting dalam urusan produksi mobil.

"Gangguan rantai pasokan dalam dua tahun terakhir benar-benar mimpi buruk, satu demi satu, dan kita belum keluar dari masalah," ungkap Elon Musk beberapa waktu lalu.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 
2 dari 3 halaman

Tesla Pecat 200 Karyawan yang Mengerjakan Proyek Autopilot

Pabrikan mobil listrik Tesla memecat alias putus hubungan kerja (PHK) sekitar 200 karyawan yang diperkerjakan setiap jam untuk bekerja di tim autopilot. Keputusan tersebut karena jenama asal Amerika Serikat tersebut menutup fasilitas di California, demikian dilansir Bloomberg, Jumat (1/7/2022).

Keputusan ini bertentangan dengan apa yang dikatakan CEO Elon Musk, pekan lalu yang menguraikan rencana untuk memotong 10 persen dari staf yang digaji, tetapi meningkatkan pekerjaan per jam.

Tim di kantor San Mateo diberi tugas mengevaluasi data kendaraan pelanggan yang terkait dengan fitur bantuan pengemudi autopilot dan melakukan apa yang disebut pelabelan data.

Sebelum memberhentikan 200 karyawan, fasilitas tertutup Tesla memiliki 350 orang karyawan dan beberapa di antaranya sudah dipindahkan ke fasilitas terdekat dalam beberapa pekan terakhir. Tesla yang telah berkembang menjadi sekitar 100 ribu karyawan secara global saat membangun pabrik baru di Austin dan Berlin, kini memangkas tenaga kerjanya.

Dalam sebuah wawancara sebelumnya, Musk mengatakan bahwa sekitar 10 persen karyawan yang digaji dari organisasinya akan kehilangan pekerjaan selama tiga bulan depan, meskipun jumlah karyawan secara keseluruhan bisa lebih tinggi dalam setahun.

3 dari 3 halaman

Infografis Selamat Datang Era Mobil Listrik di Indonesia