Sukses

Risiko Mobil Rusak Lantaran Menerjang Banjir Lebih Tinggi daripada yang Terendam Banjir

Liputan6.com, Jakarta - Jakarta akhir-akhir ini sering banjir, terlebih jika hujan turun dalam waktu yang lama dan dengan intensitas yang tinggi. Bagi pemilik mobil, jangan pernah nekat terobos genangan air atau banjir, karena risikonya besar, yaitu kerusakan parah roda empat kesayangan.

Dijelaskan Kepala Bengkel Auto2000 Kebayoran Lama, Rocky Yonathan, mobil yang menerjang banjir potensi kerusakannya bisa lebih parah dibanding yang hanya terendam banjir di rumah atau di parkiran.

"Kalau menerjang banjirnya tinggi, bisa lebih parah. Tapi, mobil yang kerendam, dan tidak dinyalakan, malah kerusakannya tidak begitu parah," jelas Rocky saat dihubungi Liputan6.com, Sabtu (4/1/2020).

Lanjut Rocky, bagi pemilik mobil jangan pernah nekat menerjang banjir. Terlebih, jika mobilnya masih diasuransikan, karena pihak asuransi tidak akan meng-cover jika pemilik mobil nekat menerobos banjir.

"Jangan diterjang pokoknya banjir itu. Tapi, kalau batas aman untuk melewati genangan, sebatas ban atau di bawah pintu, itu juga sudah sangat berisiko. Tapi, lebih baik jangan diterjang, karena takutnya water hammer," tambahnya.

2 dari 3 halaman

Biaya perbaikan

Jika mobil sudah terkena water hammer, biaya perbaikannya akan mahal sekali, apalagi jika mesinnya sudah tidak bisa nyala atau piston sudah tidak bisa mutar.

"Biasanya, yang rusak itu setang piston patah, tapi kalau kondisi lebih buruk lagi pistonnya pecah, blok mesin pecah," tegasnya.

Sementara itu, berbicara estimasi biaya, untuk jasa saja bisa mencapai Rp5 sampai Rp6 juta. Sedangkan mobil CBU, bisa kena Rp8 jutaan.

"Kalau biaya pergantian, komponennya tidak terlalu mahal sebenarnya setang piston Rp500 ribu, ganti oli. Gambaran kasar saja, jika sudah water hammer untuk Toyota Avanza saja bisa kena Rp15 juta, dan bisa naik lagi. Untuk detailnya bisa datang ke bengkel," pungkasnya.

3 dari 3 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Loading