Sukses

Viar Q1, Entry Level Electric Mobility

Liputan6.com, Jakarta Bahan bakar fosil diyakini sebagai penyumbang polusi akibat emisi yang dihasilkan. Oleh karena itu, beragam pabrikan mengembangkan energi alternatif pada kendaraannya, salah satunya menggunakan energi listrik.

Di Indonesia, teknologi listrik dipadukan dengan bahan bakar fosil seperti mobil hybrid, sayangnya untuk mobil hybrid harganya relatif mahal.

Sepeda listrik yang dipadukan dengan motor listrik menawarkan harga yang terjangkau, namun sebagian orang masih kurang merasa nyaman untuk menggunakannya sehari-hari. Salah satu pilihan yang menarik adalah motor listrik seperti Viar Q1. Lantas, seperti apa sensasi berkendaranya?

 

 

1 dari 4 halaman

Desain

Viar Q1 mengadopsi desain skutik dengan sentuhan futuristik. Tipe yang Liputan6.com coba adalah pengembangan dari generasi pertama, perbedaannya terletak pada suspensi depan dan belakang yang di-setting ulang, penambahan fitur P saat parkir, sepatbor kolong, dan baterai yang mudah dilepas.

Perubahan yang terakhir akan sangat membantu bagi Anda yang ingin mengecas di dalam rumah maupun kantor tanpa perlu membawa motor ke dalam, atau bersusah payah memanjangkan kabel ke area parkiran.

Dari samping, terlihat seperti ada 'cover' mesin yang menutupi lengan ayun. Cover tersebut hanya berfungsi sebagai hiasan saja, dengan memberikan ilusi seolah-olah ada mesin seperti motor lainnya. 'Mesinnya' sendiri tersemat di dalam roda belakang, dan baterainya tersemat di bawah jok.

Bobot baterainya sendiri mencapai 10 kg, angka tersebut cukup ringan untuk baterai lithium-ion dengan spesifikasi 60V20Ah. Sebagai perbandingan, baterai non lithium untuk sepeda listrik dengan spesifikasi 48V12 Ah bobotnya mencapai 17 kg. Yang perlu diingat, baterai lithium ion memang tergolong mahal, sehingga harga baterai Q1 mencapai Rp 5 juta.

 

2 dari 4 halaman

Pengendaraan

Jok didesain dengan lebar dan cukup empuk. Saya yang memiliki tinggi 165 cm dengan bobot 78 kg bisa mendapatkan posisi mengemudi yang cukup nyaman jika digunakan sendirian. Mengapa sendirian? Karena posisi duduknya cukup mundur ke belakang.

Berbeda dengan motor konvensional yang harus menekan starter untuk menyalakan mesin. Pada Viar Q1 generasi dua, pengemudi harus menahan tombol P terlebih dahulu. Setelah itu, pengguna bisa memilih dua mode berkendara, yaitu L dan H. Mode L memberikan respon akselerasi yang pelan, sedangkan mode H memberikan respon yang lebih cepat.

Nyaris tidak ada suara yang dihasilkan, motor elektrik 800 watt bekerja dengan lincah dan cukup memuaskan. Kecepatan puncak yang bisa diraih adalah 60 km/jam sesuai dengan klaim Viar. Hanya saja, mempertahankan kecepatan konstan terasa berbeda dengan motor konvensional.

Dari segi respon akselerasi pun tidak bisa disamakan dengan motor konvensional. Sebagai perbandingan, mesin skutik 108 cc sanggup menghasilkan 8,4 TK, maka motor elektrik 800 watt milik Q1 setara dengan 1,07 Tk.

Viar mengklaim, dalam kondisi ideal Q1 dapat meluncur hingga 60 km. Saat diuji di kota Jakarta, dari empat 'bar' penunjuk baterai, 'bar' pertama hilang setelah menempuh jarak 12 km. Jika 1 bar mewakili perjalanan 12 km, maka baterai ini dalam kondisi nyata bisa menempuh jarak hingga 48 km.

3 dari 4 halaman

Kesimpulan

Motor listrik menawarkan sensasi yang benar-benar berbeda dengan motor konvensional. Memang motor listrik masih memiliki kekurangan dari jarak tempuh yang terbatas dan harga baterai yang cukup mahal.

Sisi positifnya, Anda tidak perlu melakukan servis rutin seperti ganti oli, ganti busi, dan perbaikan lainnya yang biasa dialami oleh motor konvensional. Karena komponen-komponen tersebut tidak terdapat di motor listrik.

Selama Anda bisa merencanakan perjalanan (menghitung jarak tempuh, memperhitungkan titik pengisian baterai), maka berkendara dengan motor listrik menjadi hal yang menyenangkan.

Yang perlu diingat, baterainya memiliki masa pakai 600-800 kali pengisian. Dan baterai menjadi salah satu biaya yang perlu disiapkan jika masa pakainya sudah habis.