Hot Spot Kebakaran Hutan Turun, Kemenhut Ingatkan Waspada

Jumlah hot spot karhutla nasional turun pada 21 September 2026 setelah sehari sebelumnya mencapai 1.988 titik.

Diterbitkan 22 September 2026, 19:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Jumlah hot spot karhutla nasional turun signifikan dari 1.988 menjadi 948 titik.
  • Puncak hot spot 20 September 2026, 78% di enam provinsi prioritas.
  • Kewaspadaan tetap diperlukan untuk mencegah karhutla terulang di masa mendatang.

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat jumlah hot spot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengalami penurunan dari 1.988 menjadi 948 titik. Meski demikian, seluruh pihak perlu tetap waspada agar kebakaran tidak kembali terjadi.

Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto menyampaikan perkembangan hot spot selama satu minggu terakhir, baik secara nasional maupun di enam provinsi prioritas.

Menurut data yang dipaparkan Ristianto, sejak 15 September hingga 21 September 2026 berdasarkan pantauan satelit Terra, Aqua, SNPP, dan NOAA-20 NASA, jumlah hot spot tertinggi terjadi pada Minggu, 20 September 2026.

“Secara nasional, terdapat 1.988 hot spot dengan kepercayaan high confidence level. Dari 1.988 itu, 1.843-nya pada hari Minggu 20 September itu berada di enam provinsi prioritas, yaitu di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan atau sekitar 78 persen,” tutur Ristianto, Selasa (22/9/2026).

Namun, Ristianto mengingatkan data hot spot tersebut belum dapat langsung diklaim sebagai titik kebakaran.

“Jadi, kami selalu menyampaikan bahwa data hot spot yang terdeteksi oleh satelit ini tidak berarti langsung menunjukkan titik api atau terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” kata Ristianto.

Menurut Ristianto, diperlukan verifikasi lebih lanjut karena satelit mendeteksi hot spot, salah satunya berdasarkan adanya anomali perubahan suhu permukaan tanah. Selain itu, jumlah hot spot dapat berubah setiap waktu.

 

Hot Spot Karhutla Turun

Berdasarkan data terkini hingga 21 September 2026 pukul 23.59 WIB, kondisi hot spot nasional berangsur membaik.

“Alhamdulillah kondisi hot spot secara nasional perlahan membaik dengan total nasional 948 dari yang semula sebanyak 1.988 hot spot pada 20 September 2026,” papar Ristianto.

Meski kondisi di sejumlah provinsi secara nasional telah membaik, Ristianto mengajak semua pihak untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai aktivitas yang berkaitan dengan api. Hal itu dilakukan agar kebakaran hutan dan lahan tidak kembali terjadi pada masa mendatang.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6