Atasi Kebakaran Hutan Kalimantan, Modifikasi Cuaca Dioptimalkan

Pemerintah kembali menyiapkan operasi modifikasi cuaca untuk membantu mengatasi karhutla, tetapi pelaksanaannya masih bergantung pada kondisi atmosfer.

Diterbitkan 21 Agustus 2026, 14:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah membuka peluang kembali menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat pada 23-27 Agustus 2026.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi mengatakan peluang tersebut muncul berdasarkan prakiraan cuaca terkini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) saat ini berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mempersiapkan pelaksanaan OMC.

Sebelumnya, OMC di Kalimantan Barat telah dilaksanakan pada 13-17 Agustus 2026 melalui Posko Pontianak. Dalam periode tersebut, dilakukan sembilan sorti penerbangan dengan estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian mencapai 10,92 juta meter kubik.

“Pelaksanaannya tetap didukung pemadaman darat, patroli, deteksi dini, serta koordinasi lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah,” kata Ristianto dalam keterangan tertulis, Jumat (21/8/2026).

Meski peluang OMC kembali terbuka di Kalimantan Barat, kondisi berbeda terjadi di Kalimantan Tengah. Pemerintah menilai peluang pelaksanaan OMC dalam waktu dekat masih minim karena wilayah tersebut diprakirakan mengalami kondisi kering hingga akhir Agustus.

“Namun, hingga akhir Agustus 2026, kondisi cuaca di Kalimantan Tengah diprakirakan masih didominasi kondisi kering dengan pertumbuhan awan hujan yang terbatas,” kata Ristianto.

Sebelumnya, OMC di Kalimantan Tengah telah dilaksanakan dalam dua periode, yakni 27 Juli-4 Agustus dan 11-15 Agustus 2026. Operasi tersebut mencakup 13 sorti penerbangan dengan estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian sekitar 4,8 juta meter kubik.

Ristianto mengatakan pemantauan atmosfer tetap dilakukan untuk melihat kemungkinan munculnya awan yang memenuhi persyaratan teknis penyemaian.

 

 

 

 

OMC Bergantung Kondisi Awan

Untuk Kalimantan Selatan, pemerintah masih memantau perkembangan cuaca, titik panas (hotspot), dan kondisi karhutla secara intensif. Pelaksanaan OMC akan ditentukan berdasarkan ketersediaan awan potensial dan kebutuhan penanganan di lapangan.

“Mengingat OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer, operasi hanya dapat dilakukan apabila tersedia awan yang memenuhi persyaratan teknis untuk penyemaian,” katanya.

Pemerintah menegaskan OMC bukan satu-satunya upaya penanganan karhutla. Pemadaman darat, patroli terpadu, pendinginan lokasi, serta penguatan personel dan sarana tetap dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas.

“Evaluasi kondisi cuaca dan operasi lapangan dilakukan secara berkala untuk memastikan setiap langkah penanganan dilaksanakan secara cepat, tepat sasaran, dan terkoordinasi,” kata Ristianto.

Armada Udara Ditambah

Selain OMC, pemerintah menambah dukungan armada udara untuk menangani karhutla, khususnya di Kalimantan Tengah.

Armada tersebut terdiri atas helikopter patroli, pesawat patroli fixed wing, dan helikopter water bombing. Pengerahan armada udara ditujukan untuk membantu satuan tugas darat menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat.

Ristianto mengatakan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni telah berkoordinasi dengan Kepala BNPB untuk menambah dukungan armada udara bagi operasi water bombing di Kalimantan Tengah.

“Penambahan armada diharapkan meningkatkan jangkauan operasi, khususnya pada lokasi yang sulit diakses dan membutuhkan pembasahan dari udara. Namun, pengerahan armada tetap harus mempertimbangkan jarak pandang, kondisi asap, cuaca, serta standar keselamatan penerbangan,” kata Ristianto.

Kondisi asap yang pekat dalam dua hari terakhir menjadi salah satu kendala operasi udara, terutama di sekitar Jabiren dan Tanjung Taruna hingga kawasan Taman Nasional Sebangau.

Asap tebal dapat membatasi jarak pandang pilot terhadap sasaran maupun jalur penerbangan.

“Dalam kondisi jarak pandang yang tidak memenuhi standar keselamatan, helikopter tidak dapat dipaksakan menjangkau lokasi pemadaman,” katanya.

Meski operasi udara terkendala, penanganan karhutla tetap berjalan. Ketika kondisi atmosfer belum mendukung OMC atau jarak pandang belum aman untuk water bombing, satuan tugas darat tetap melakukan pemadaman, penyekatan, pembasahan, pendinginan, dan penjagaan di lokasi rawan.

“Strategi operasi terus disesuaikan berdasarkan kondisi aktual di lapangan,” ujarnya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6