Downgrade, Saat Masyarakat Cari Celah untuk Bertahan Hidup

Tim Liputan6.com menangkap fenomena 'downgrade' yang terjadi di masyarakat sebagai mekanisme bertahan hidup 'in this economy'.

Diterbitkan 05 Oktober 2026, 08:58 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Siang itu panas begitu menyengat di jalan Jakarta. Di SPBU seberang toko buku Matraman tampak antrean kendaraan mengular sampai ke badan jalan. Aldi (31), seorang pekerja swasta bimbang. Dia ada di persimpangan, pilih Pertamax artinya tak ada rokok hari ini, jika pilih Pertalite, Aldi harus rela antre panjang berpanas-panasan bersama yang lain.

"Saya biasanya pakai Pertamax, sekarang jujur udah gak kuat, (harga) naik banyak turunnya sedikit. Pertalite aja sekarang, gak apa-apa antre panas-panasan, yang penting masih bisa ngerokok," katanya.

Aldi tidak seorang diri, banyak orang telah melakukan mekanisme alamiah pertahanan diri in this economy yang disebut: Downgrade.

Downgrade secara etimologi berasal dari kata 'down' yang artinya 'turun', dan 'grade' artinya kelas. Kata Downgrade sendiri pertama kali muncul di Amerika Serikat pada 1868. Konteks awal kata tersebut berkaitan dengan dunia perkeretaapian. Downgrade dipakai sebagai kata benda untuk menggambarkan bagian jalur kereta api yang posisinya menurun atau meluncur ke bawah, atau bisa dibilang jalur turunan bukit.

Makna itu kemudian bergeser pada abad ke-20 atau sekitar tahun 1900an awal. Kata 'downgrade' mulai digunakan sebagai kata kiasan, sebuah metafora untuk menggambarkan adanya penurunan status, termasuk kualitas, jabatan, di bidang teknologi, hingga dipakai untuk menggambarkan fenomena adanya turun kelas di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang ini.

Bukan cuma Aldi yang merasakan downgrade, Zaka (28), seorang karyawan agency properti di daerah Pamulang juga merasakan. Baginya dibandingkan dua atau tiga tahun lalu, perekonomian saat ini dirasa 'super ketat'. Dari segi harga barang, katanya, sejumlah bahan kebutuhan pokok makin sedikit didapat dengan jumlah uang yang sama pada dua atau tiga tahun lalu. Misal, saat pergi ke pasar membawa Rp 100 ribu, barang yang didapat saat ini dengan uang yang sama tidak sebanyak beberapa tahun lalu.

Zaka lebih jauh mengungkapkan, perekonomian yang tidak menentu seperti sekarang ini juga membebaninya dengan perizinan membuka toko yang dirasa lebih sulit.

"Dari pajak juga lumayan banget, super ketatlah sekarang tuh," katanya.

Bagi Zaka yang tidak hobi nongkrong di kafe, situasinya mungkin bisa dibilang lebih mudah, namun bukan berarti gampang untuk dilewati. Dirinya mengaku, sebagai mekanisme pertahanan in this economy, dia juga perlu mengurangi pos-pos pengeluaran yang dirasa tidak terlalu penting.

"Jalan-jalan tuh perlu dikurangi," katanya.

Bukan cuma mengurangi pos-pos pengeluaran yang dirasa tidak penting, dirinya saat ini juga terpaksa menunda daftar pengajuan Kredit Perumahan Rakyat (KPR). Bukan tanpa sebab, pemutusan hubungan kerja (PHK) yang bisa saja datang tiba-tiba membuatnya berpikir dua kali untuk mengajukan KPR saat ini. Apalagi bunga KPR non-subsidi yang bersifat floating, memang di awal ada relaksasi bunga flat, namun tahun-tahun berikutnya bunga sudah dipastikan terus naik, sementara gaji yang diterima hanya segitu saja.

"Atau bisa saja malah kita kehilangan pekerjaan, setelah setahun KPR, siapa yang bisa menjamin karier kita aman sekarang?" katanya.

Sebagai karyawan single bergaji Rp 4 juta per bulan, mengarungi hidup in this economy membuatnya perlu berpikir berulang-ulang saat spending uang. Menurutnya, yang paling utama adalah pemenuhan kebutuhan pokok. Dirinya mengaku saat ini lebih selektif memilih apa saja hal-hal atau barang yang masuk dalam daftar kebutuhan pokoknya.

"Untuk menghemat gitu kan. Yang dulunya mungkin ada barang-barang atau kebutuhan yang sifatnya ingin sekali kita beli, karena ekonomi sekarang lagi sulit, jadi kita press lagi lah anggarannya," katanya.

Zaka juga mengaku, dalam setahun belakangan ini tabungannya kerap menjadi 'sasaran empuk' dari begitu jahatnya pos pengeluaran sehari-hari. Dirinya pun khawatir, tak jarang berubah menjadi kecemasan, saat membayangkan kondisi ekonomi dua sampai lima tahun ke depan. Bahkan untuk bulan depan saja dirinya sudah harus berpikir panjang: uang segini sekarang bisa apa?

Sebagai warga biasa, Zaka hanya bisa berharap orang-orang di pemerintahan diisi oleh mereka yang benar-benar kompeten di bidangnya, sehingga kebijakan yang keluar benar-benar membawa pengaruh yang baik di tengah masyarakat, dan berdampak positif untuk jangka panjang.

Farhan (30), seorang pekerja swasta kondisinya tak jauh berbeda. Meski dirinya sudah menikah dan double income, kondisi ekonomi sekarang ini, sedikit banyak juga memengaruhi pos-pos pengeluaran di keluarganya, apalagi banyak pajak yang harus dibayar. Imbasnya gaya hidup mengalami downgrade.

"Istri saya dulu sering beli kopi-kopi yang brand gitu, sekarang lebih suka bikin sendiri, kayak campuran kopi hitam tambah creamer susu," katanya.

 

Bukan cuma kopi yang downgrade, Farhan bersama istri juga mengaku telah mengurangi pos pengeluaran belanja bulanan. Beberapa item yang biasanya dibeli untuk stok sebulan dikurangi, lalu dana dialihkan untuk beli kebutuhan pokok, seperti beras dan minyak.

Pengeluaran Farhan lainnya yang dipress adalah transportasi. Dia mengaku, saat awal-awal menikah, dari Bekasi ke tempat kerja di Jakarta, keduanya selalu menggunakan mobil, karena dirasa lebih efisien dan hemat waktu apalagi dengan adanya tol.

"Sekarang bener-bener kita gunain transportasi umum, karena Bekasi juga sudah lewat Transjakarta, jadi kita switching lah gitu," katanya.

Meski berbagai lini mengalami downgrade, ada satu hal mendasar yang menurut Farhan dan istri tidak boleh downgrade, yakni pendidikan anak. Farhan mengaku soal dana pendidikan anak, dia dan istri sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari, bahkan saat mereka baru menikah.

Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang ini, Farhan mengakui pemasukan dari gaji sudah tidak relevan dengan harga kebutuhan pokok yang diam-diam terus naik dari waktu ke waktu. Farhan mencontohkan beras. Saat awal-awal menikah, harga beras Rp 52 ribu, kemudian naik jadi Rp 56 ribu. Sementara gaji segitu-gitu saja, harga beras sekarang paling murah Rp 74 ribu.

Sebagai mekanisme pertahanan terakhir selain downgrade hal-hal yang dirasa kurang mendesak, Farhan mengaku sudah sampai di tahap membobol tabungan. Hal itu terjadi saat dirinya perlu memperbaiki rumah sementara tak ada 'uang dingin' yang bisa digunakan. Akhirnya dia terpaksa membobol tabungannya sebagai dana darurat perbaikan rumah.

Sebagai kelas menengah, Farhan merasakan betul sulitnya hidup di Indonesia. Tak pernah mendapat bansos karena dianggap mampu, tapi uang terus dikuras untuk bayar pajak. Dirinya berharap, pemerintah mau memperhatikan juga kelas menengah seperti dirinya. Jika terus dibiarkan tanpa relaksasi in this economy, tak menutup kemungkinan mereka juga akan downgrade, turun kelas menjadi kelas bawah alias jatuh ke menjadi masyarakat miskin

 

Downgrade Status Pernikahan

Zaka dan Farhan mungkin masih lebih beruntung jika dibandingkan dengan seorang perempuan muda asal Tangerang Selatan yang enggan disebut namanya. Dia mengaku bukan lagi downgrade barang-barang tapi juga downgrade status di KTP, dari menikah menjadi cerai. Perempuan berusia 22 tahun itu mengaku memilih cerai dengan suaminya lantaran faktor ekonomi.

"Ya mungkin baiknya begini," katanya singkat.

Tingginya tingkat perceraian karena faktor ekonomi menjadi momok bagi pasangan muda saat ini. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, yang dirilis Februari 2026 menyebutkan, faktor ekonomi menjadi penyebab perceraian nomor dua paling banyak secara nasional, angkanya menyentuh 105.727 kasus.

Analisa KLYLabs

Downgrade yang terjadi di masyarakat juga tergambar nyata di dunia maya. Tim KLYLabs Liputan6.com menelusuri percakapan di media sosial terkait fenomena tersebut. Hasilnya menunjukkan, warganet mulai menghitung ulang pengeluaran, dari kendaraan hingga skincare, demi menjaga kebutuhan dasar tetap terpenuhi. Pada dasarnya masyarakat kita memang tidak selalu berhenti membeli ketika menghadapi tekanan biaya hidup.

Sebaliknya, mereka cenderung mencari pilihan yang lebih murah dengan tetap mempertahankan fungsi utama barang atau layanan yang dibutuhkan.

Mari kita bedah satu per satu.

Tim KLYLabs Liputan6.com telah mengolah dataset mencakup 565 mention, terdiri dari 439 komentar Instagram dan 126 post TikTok. Percakapan tersebut berasal dari 435 akun komentator Instagram dan 121 akun TikTok, dengan total 17,3 juta plays pada post TikTok yang dianalisis.

Dalam percakapan Instagram, ditemukan narasi trading down menjadi tema yang paling banyak muncul, yakni 134 komentar atau sekitar 30,5 persen. Narasi berikutnya adalah keluhan terkait kebijakan dan pajak sebanyak 54 komentar, tekanan ekonomi 31 komentar, solidaritas dan resiliensi 29 komentar, serta narasi skeptis atau counter-narrative sebanyak 25 komentar.

Bentuk penyesuaian konsumen pun cukup beragam. Salah satunya terlihat dari perubahan moda transportasi. Seorang pengguna Instagram, @sefti_yohana_permasita, menulis, “Dulu bawa roda 4 ke kantor, skrg naik kereta karena kendaraan sudah berpindah tangan..”

Pengguna lain, @atiekb, menceritakan perubahan pilihan produk perawatan diri. “Dulu rajin facial dan beli skincare dokter, sekarang cukup beli skincare drugstore,” tulisnya.

Sementara @faridakahardi menggambarkan penyesuaian pada kebiasaan berbelanja dengan mengatakan, “Down grade gue emak milineal, batasin cek out keranjang belanja.”

Percakapan lain bahkan menunjukkan penyesuaian pada kendaraan dan biaya bahan bakar. “Dari mobil isi pertamax ke pertalite sampe ke motor isi pertalite semoga kehidupan selalu dicukupkan Allah SWT,” tulis @ariyulizare.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa downgrade tidak selalu berarti berhenti mengonsumsi, melainkan mengganti pilihan ke tingkat yang dianggap lebih sesuai dengan kemampuan.

Data monitoring menunjukkan, dari 176 komentar Instagram yang memuat perilaku konsumsi secara konkret, sebanyak 154 komentar atau 88 persen menggambarkan substitusi, baik mengganti merek, varian, kategori, maupun kemasan. Sementara 22 komentar lainnya menunjukkan pengurangan, penundaan, atau penjualan tanpa pengganti.

Kendaraan menjadi salah satu area yang paling banyak mengalami penyesuaian. Dari 151 komentar dengan pola “dari X ke Y”, sebanyak 86 komentar atau 57 persen berkaitan dengan kendaraan dan bahan bakar. Alternatif yang muncul antara lain berpindah dari mobil ke motor, memilih kendaraan yang lebih murah, hingga mengganti Pertamax dengan Pertalite.

Menariknya, downgrade tidak selalu dibicarakan secara negatif. Salah satu post TikTok dari akun @elson.lo dengan 1,2 juta plays, 64.500 likes, 1.747 komentar, dan 11.700 shares menyebut bahwa downgrade lifestyle bukan sesuatu yang memalukan, tetapi dapat menjadi cara untuk meningkatkan tingkat tabungan dan mulai berinvestasi.

Namun, sentimen negatif tetap cukup kuat dalam percakapan yang dianalisis. Dari 439 komentar Instagram, 193 atau 44 persen dikategorikan netral, 160 atau 36 persen negatif, dan 86 atau 20 persen positif.

Sentimen negatif terutama didorong oleh frustrasi terhadap pajak, kebijakan, tekanan harga dan biaya hidup, serta pengalaman downgrade yang dirasakan sebagai kehilangan.

Dengan demikian, fenomena downgrade dalam sampel percakapan ini tidak semata-mata menunjukkan konsumen berhenti membeli. Pola yang lebih dominan adalah menghitung ulang nilai. Kebutuhan tetap dipenuhi, tetapi merek, kelas produk, ukuran, kendaraan, maupun frekuensi konsumsi disesuaikan.

Dalam konteks tersebut, konsumen tampaknya mulai menempatkan fungsi di atas gengsi dan biaya di atas status. Namun, laporan ini juga mencatat bahwa penyesuaian tersebut tidak seluruhnya merupakan pilihan sukarela. Tekanan harga, pajak, bahan bakar, cicilan, hingga penurunan pendapatan turut menjadi faktor yang disebut dalam percakapan.

Pada akhirnya, apa yang terjadi di dunia nyata juga tercermin di dunia maya. Pada keduanya itu masyarakat kelas menengah benar-benar terus terjepit. Ke bawah dianggap orang mampu, ke atas dibilang belum cukup kaya, namun pajak terus ditarik.

Di tengah kondisi yang terus menghimpit itu, mekanisme downgrade menjadi jalan keluar alamiah. Fenomena downgrade adalah bukti nyata bahwa di tengah himpitan in this economy, bertahan hidup jauh lebih penting daripada mengurus gengsi.

 

Untuk mengetahui lebih lengkap hasil riset KLYLabs tentang fenomena downgrade, klik laman berikut ini.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6