Strategi Pemerintah Cegah Asap Karhutla Menyebar ke Negara Tetangga

Pemerintah pun menanti kemunculan awan hujan untuk menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Diterbitkan 10 Agustus 2026, 19:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Pemerintah menanti awan hujan untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atasi karhutla.
  • Berbagai upaya penanganan karhutla disiapkan, termasuk helikopter dan sumber air darat.
  • Penanganan karhutla penting cegah asap lintas negara, diperkuat saat El Nino.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago mewaspadai asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyebar hingga ke negara tetangga. Pemerintah pun menanti kemunculan awan hujan untuk menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai salah satu upaya mengendalikan kebakaran.

Dia mengatakan berdasarkan perkiraan cuaca, terdapat peluang kemunculan awan hujan dalam beberapa hari hingga 18 Agustus 2026. Kondisi tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk menjalankan OMC.

“Semoga dalam minggu ini sampai dengan tanggal 18 Agustus yang akan datang kita menemukan awan hujan agar kita bisa melakukan OMC,” ujar Djamari dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (10/8/2026).

Menurut dia, operasi udara menjadi salah satu upaya efektif untuk menangani karhutla. Namun, OMC hanya dapat dilakukan jika terdapat awan hujan yang dapat dimodifikasi.

Pemerintah tetap menyiapkan sejumlah langkah penanganan lainnya. Sekitar 43 helikopter dikerahkan untuk operasi udara, sementara 10 hingga 15 pesawat fixed wing dapat disiapkan sesuai kebutuhan.

Selain pemadaman dari udara, pemerintah menyiapkan sumber air di darat, termasuk menggunakan flexible tank yang dapat diisi dari berbagai sumber. Pembuatan sumur juga menjadi opsi untuk memenuhi kebutuhan air di wilayah yang sulit mendapatkan pasokan.

Dia mengatakan pengendalian karhutla penting dilakukan untuk mencegah asap menyebar ke wilayah lain, termasuk melintasi batas negara.

“Asap kita itu bisa ke mana-mana,” ujarnya.

Dia mengatakan pemerintah memperkuat penanganan karhutla untuk mengantisipasi dampak asap terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Sejumlah kementerian dan lembaga dilibatkan, antara lain Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, BNPB, BMKG, dan Polri.

“Kami menekankan betul upaya-upaya di lapangan. Upaya ini bukan hanya sekadar bagaimana pemadaman api, bagaimana menjaga lingkungan, upaya juga kesehatan,” katanya.

 

Cuaca Penentu Karhutla

Menurut Djamari, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor penting dalam penanganan karhutla. Indonesia saat ini menghadapi ancaman El Nino kuat yang dapat membuat kondisi lebih kering dan memperpanjang musim kemarau.

“El Nino terkuat itu adalah satu keadaan di mana keadaan itu sangat membuat kita kering dan mudah sekali terbakar,” katanya.

Pemerintah juga meningkatkan pengawasan terhadap tempat pembuangan akhir (TPA) untuk mencegah munculnya sumber kebakaran baru. TPA diminta terus dibasahi agar tidak mudah terbakar dalam kondisi cuaca yang kering.

“Jadi kita jaga betul supaya disirami, supaya basah, supaya juga tidak mudah terbakar,” ujarnya.

Selain itu, Djamari mengawasi aktivitas masyarakat yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk membuang puntung rokok sembarangan di kawasan rawan karhutla.

Menko Polkam menegaskan penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan berbagai unsur terkait. Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas sekaligus mengurangi risiko asap menyebar ke wilayah lain hingga lintas negara.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6