Liputan6.com, Jakarta - Kasus keracunan massal setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan warga di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mulai menemukan titik terang. Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap sejumlah temuan yang diduga menjadi pemicu insiden tersebut.
Berdasarkan investigasi awal dan pengecekan rekaman kamera pengawas (CCTV) oleh tim BGN bersama Pemerintah Kabupaten Batang, ditemukan adanya pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) dalam pengolahan makanan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bawang.
Makanan MBG yang disajikan kepada para penerima manfaat diketahui telah diolah jauh lebih awal dari ketentuan. Proses pengolahan bahkan dilakukan mulai pukul 19.30 WIB pada malam sebelumnya.
Advertisement
Temuan tersebut diungkapkan Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang BGN, Hadirya. Ia menyebut jeda waktu antara pengolahan hingga distribusi makanan yang terlalu panjang merupakan pelanggaran serius terhadap SOP.
Hadirya menduga kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan makanan membusuk atau terkontaminasi sebelum dikonsumsi ratusan penerima manfaat MBG.
Dari investigasi awal melalui pengecekan CCTV, Hadirya melihat adanya proses pengolahan makanan yang dilakukan lebih awal, yakni mulai pukul 19.30 WIB.
"Ini merupakan hal yang fatal, karena sesuai SOP, pengolahan makanan seharusnya baru dilakukan setelah pukul 02.00 dini hari," tandas Hadirya saat memberikan keterangan usai meninjau dapur SPPG Bawang, Jumat (25/9/2026).
Selain persoalan waktu pengolahan yang tidak sesuai SOP, BGN dan Pemkab Batang juga menemukan sejumlah kelemahan fisik pada bangunan dapur SPPG Bawang.
Hadirya menyebut sejumlah temuan tersebut meliputi sekat dinding bangunan yang belum solid. Selain itu, sistem pengelolaan limbah dan sanitasi di SPPG tersebut juga belum memenuhi persyaratan teknis.
Akibat insiden keracunan massal yang dikategorikan sebagai suspek berat, BGN mengambil langkah dengan menutup sementara operasional SPPG Bawang yang dikelola Yayasan Bela Batang Berkah selama 30 hari.
"Apabila dalam evaluasi lanjutan tingkat pusat ditemukan unsur-unsur pelanggaran berat, tidak menutup kemungkinan SPPG Bawang ini akan dikenakan sanksi pemberhentian operasional secara permanen," tegas Hadirya.
Â
Santunan Korban Keracunan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357664/original/011887400_1790274804-IMG-20260924-WA0077.jpg)
Menanggapi insiden keracunan massal MBG yang mayoritas menimpa anak-anak sekolah hingga balita, Penjabat (Pj) Bupati Batang M. Faiz Kurniawan memastikan pemerintah daerah bergerak cepat menangani seluruh korban.
"Kita tidak dalam posisi mencari siapa yang salah atau skor politik. Prioritas utama adalah penanganan medis korban. Seluruh biaya perawatan para korban keracunan ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Daerah," terang Faiz.
Untuk meringankan beban ekonomi keluarga korban keracunan MBG, Dinas Sosial Kabupaten Batang tengah menghitung skema pemberian santunan bagi keluarga yang mendampingi pasien.
"Keluarga yang terpaksa libur bekerja demi mendampingi anaknya yang dirawat akan kita berikan santunan harian, diperkirakan antara Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per KK per hari," jelasnya.
Pemkab Batang bersama BGN berjanji melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola dan pengawasan dapur MBG di wilayah tersebut. Langkah itu dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terulang dan kepercayaan masyarakat terhadap program MBG dapat dipulihkan.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357442/original/090884500_1790248073-cek_fakta_pupr.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357195/original/038011000_1790236151-HOAX__23_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5372348/original/034637900_1759740027-meteor_jatuh.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261105/original/086134600_1781680485-BSU_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357663/original/002037400_1790274804-IMG-20260924-WA0076.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)