Usai Santap MBG, 11 Siswa SD di Gowa Sakit Perut hingga Muntah

Tiga dari 11 siswa SD di Gowa sempat dirawat di puskesmas setelah mengeluhkan sakit perut dan mual.

OlehFauzan
Diterbitkan 24 September 2026, 22:56 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak 11 siswa SD Inpres Sanging-Sanging, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, mengalami gejala sakit perut hingga muntah usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis (24/9/2026) siang.

Berdasarkan data yang diterima Liputan6.com, delapan siswa mendapatkan perawatan secara mandiri oleh keluarganya, sedangkan tiga siswa lainnya sempat dibawa ke Puskesmas Pattallassang untuk mendapatkan penanganan medis.

Camat Pattallassang, Andi Pangeran Zubair, membenarkan adanya tiga siswa yang sempat dirawat di fasilitas kesehatan tersebut. Namun, ia memastikan kondisi mereka telah membaik dan diperbolehkan pulang.

“Yang tiga dibawa ke Puskesmas sudah ditangani dan sudah kembali ke rumahnya,” kata Pangeran kepada awak media, Kamis (24/9/2026).

Laporan awal dari pihak puskesmas menyebutkan para siswa mengalami sejumlah gejala, mulai dari sakit perut, mual, hingga nyeri pada bagian ulu hati. Mereka kemudian mendapatkan perawatan medis.

Meski demikian, penyebab pasti keluhan yang dialami para siswa masih dalam penyelidikan. Menurut Pangeran, selain mengonsumsi makanan MBG, para siswa juga mengonsumsi air galon yang tersedia di lingkungan sekolah.

“Dari komunikasi dengan pihak SPPG, di kelas juga ada air galon. Jadi belum bisa dipastikan apakah ini karena makanan MBG atau air galon,” jelasnya.

Untuk mengungkap penyebab kejadian tersebut, sampel makanan yang dikonsumsi siswa telah dibawa untuk diperiksa di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).

 

Polisi Bertindak

Pihak kepolisian melalui Bhabinkamtibmas juga telah berkoordinasi dengan pihak sekolah, pengelola yayasan penyedia MBG, serta Puskesmas Pattallassang guna mengumpulkan informasi dan melakukan penanganan awal.

Selain menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG juga akan dilakukan, termasuk menelusuri kondisi bahan makanan, proses pengolahan, hingga aspek kebersihan tempat penyediaan makanan.

“Termasuk prosesnya, bahannya, dan tempatnya harus dicek kebersihannya,” ujar Pangeran.

Hingga saat ini, belum ada informasi yang memastikan makanan yang disajikan dalam kondisi basi maupun adanya masalah pada lauk dan sayuran yang dikonsumsi para siswa.

“Itu sementara saya suruh cari tahu dulu, belum ada informasi terkait itu,” pungkasnya.