Nahtadia Ubah Nasib Lewat Usaha Ayam Petelur

Nahtadia kembangkan usaha ayam petelur dengan Kupra BRI. Hasilnya kini dirasakan untuk menambah kapasitas usaha dan kebutuhan keluarga.

Diterbitkan 21 Juni 2026, 08:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nahtadia tak bisa menyembunyikan senyum saat bercerita perkembangan usahanya. Tiga tahun menjalankan usaha ayam petelur dengan dukungan pinjaman Kupedes Rakyat (Kupra) BRI, dia mulai merasakan hasilnya.

Keuntungan usaha tak hanya digunakan untuk menambah jumlah ayam. Sebagian juga dipakai untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Salah satu yang paling dia ingat adalah saat bisa membeli televisi baru berukuran 43 inci. Televisi itu menggantikan TV lama yang ukurannya jauh lebih kecil.

“Dulu TV-nya kecil. Sekarang sudah bisa beli yang 43 inci,” ujar wanita 28 tahun itu saat berbincang dengan Liputan6.com di kandang ayamnya kawasan Cibodas, Jonggol, Selasa, 16 Juni 2026.

Hasil usaha juga membantu biaya pendidikan anak-anaknya. Anak pertamanya akan naik ke kelas dua SD. Sementara adiknya bersiap masuk PAUD. Kebutuhan seragam dan perlengkapan sekolah bisa dipenuhi dari penghasilan usaha.

Selain itu, Nahtadia juga mulai memiliki tabungan dalam bentuk ternak. Saat ini, dia memiliki dua ekor kambing yang dititipkan kepada orang lain.

"Baru dua sih, tapi alhamdulillah sudah bisa kebeli," katanya.

 

Buka Usaha Setelah Resign dari Pabrik

Sebelum menjadi peternak ayam petelur, Nahtadia bekerja di sebuah pabrik tas. Sementara itu, suaminya menjalankan usaha warung kecil.

Pagi hari, sang suami berjualan di lingkungan sekolah. Saat malam tiba, warung berpindah ke depan lapangan badminton yang ramai pengunjung.

Menu yang dijual mulai dari kopi, gorengan, minuman dingin, hingga jajanan anak sekolah. Saat itu, kehidupan keluarga mereka ditopang dari dua sumber penghasilan. Nahtadia bekerja di pabrik, sedangkan suaminya berjualan.

Namun, rutinitas di pabrik membuat Nahtadia mulai berpikir untuk mencari jalan lain.

"Kalau di pabrik banyak tekanan. Saya mikir lebih baik usaha sendiri, sedikit-sedikit dari rumah. Yang penting anak juga bisa terurus," katanya.

Keinginan itu akhirnya terwujud pada 2023. Setelah pandemi berlalu, dia memutuskan memulai usaha ayam petelur. Lingkungan sekitar ikut memberi pengaruh. Beberapa tetangga lebih dulu menjalankan usaha serupa sehingga dia bisa belajar banyak, mulai dari pengelolaan kandang hingga perawatan ayam.

Seiring berjalannya usaha, kebutuhan modal pun bertambah. Pada akhir 2023, Nahtadia mengenal BRI melalui tetangga dan diperkenalkan kepada mantri BRI. Dia kemudian mengajukan pinjaman Kupedes Rakyat sebesar Rp 35 juta dengan tenor tiga tahun.

Dana tersebut digunakan untuk membangun kandang dan memenuhi kebutuhan usaha, termasuk pakan ternak. Saat itu, populasi ayam yang dipeliharanya sudah mencapai sekitar seribu ekor.

Dari usaha yang dimulai di halaman rumah itu, Nahtadia kini fokus mengembangkan peternakan ayam petelurnya. Warung yang dulu menjadi sumber penghasilan keluarga pun sudah tidak lagi beroperasi. Kini, usaha ternak ayam menjadi tumpuan utama keluarga.

 

Omzet Tembus Rp 48 Juta per Bulan

Dalam sehari, omzet penjualan telur Nahtadia rata-rata mencapai sekitar Rp 1 juta atau sekitar Rp 30 juta dalam sebulan. Namun, menurutnya, angka tersebut bukan keuntungan bersih. Pendapatan usaha sangat bergantung pada harga telur yang fluktuatif dan biaya operasional yang cukup besar.

"Kalau lagi bagus, omzet kotor bisa sampai Rp 48 juta sebulan. Tapi itu belum dipotong biaya pakan dan kebutuhan lainnya," jelasnya.

Dari seluruh biaya usaha, pakan menjadi pengeluaran terbesar. Dalam sebulan, Nahtadia bisa menghabiskan lebih dari Rp 30 juta hanya untuk membeli pakan ayam. Selain itu, ada biaya perawatan kandang dan kesehatan ternak yang juga harus diperhitungkan.

Setelah dikurangi berbagai biaya, keuntungan bersih yang diperoleh rata-rata sekitar Rp 9 juta per bulan.

Meski begitu, Nahtadia tetap optimistis. Dia menilai permintaan telur masih cukup tinggi. Bahkan, dia tidak perlu repot mencari pembeli karena para agen datang langsung ke peternakannya.

Agen-agen tersebut berasal dari berbagai daerah, seperti Cileungsi, Bekasi, hingga Depok. Selain itu, warga sekitar juga kerap membeli telur langsung dalam jumlah kecil untuk kebutuhan rumah tangga.

Harga jual telur ke agen mengikuti harga pasar atau Pinsar. Saat ini, telur dijual sekitar Rp 24 ribu per kilogram. Sementara untuk pembeli eceran di lingkungan sekitar, harganya sekitar Rp 26 ribu per kilogram.

Dalam sehari, agen biasanya mengambil sekitar dua peti telur dari kandangnya. Dengan permintaan yang terus ada, Nahtadia mengaku belum berencana memperluas pemasaran ke daerah lain.

"Telurnya saja masih kurang. Stok yang ada sekarang sudah terserap," katanya.

 

Diminati Agen

Rudi merupakan salah satu agen langganan Nahtadia yang rutin mengambil telur dari peternakannya sejak 2024. Meski memiliki banyak pilihan pemasok, Rudi memilih membeli telur dari kandang Nahtadia karena kualitas dan kesegarannya lebih terjamin.

Menurutnya, telur yang diambil langsung dari kandang memiliki kualitas yang lebih baik karena masih segar. Selain itu, jarak peternakan Nahtadia di Cibodas dengan tempat usahanya di Klapanunggal juga cukup dekat sehingga memudahkan proses distribusi.

"Kalau ambil langsung dari kandang sudah terjamin fresh telurnya. Jaraknya juga dekat dari Klapanunggal," ujar Rudi.

Sebagai agen, Rudi mengaku tidak mengambil keuntungan terlalu besar. Dia lebih memilih menjual telur sesuai harga pasaran agar pelanggan tetap puas dan terus berbelanja kepadanya.

"Kita kan agen, jadi tidak ngambil untung banyak. Harga pasaran saja, yang penting pelanggan puas," katanya.

Dalam sekali pengambilan, Rudi membawa sekitar 30 peti telur. Pasokan tersebut tidak hanya berasal dari kandang Nahtadia, tetapi juga dari beberapa peternak lain di kawasan Cibodas untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang terus berdatangan.

 

Alasan Nahtadia Pakai Kupra

Menurut Kepala Unit BRI Jonggol, Oki Nurcahyadi, proses pengajuan pinjaman yang dilakukan Nahtadia pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan debitur lainnya. Namun saat itu, ada satu kendala yang membuatnya tidak bisa mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Nahtadia diketahui masih menikmati fasilitas pinjaman modal kerja dari bank lain. Kondisi tersebut membuatnya tidak memenuhi persyaratan untuk memperoleh KUR yang merupakan program kredit bersubsidi pemerintah.

Namun, kebutuhan modal usahanya tetap bisa dipenuhi melalui fasilitas Kupedes Rakyat BRI.

"Pada saat itu Ibu Nahtadia masih memiliki fasilitas modal kerja dari bank lain sehingga tidak bisa menggunakan KUR. Karena itu, pembiayaan kami arahkan ke Kupra," ujar Oki.

Dia menjelaskan, perbedaan utama antara KUR dan Kupra terletak pada jaminan kredit. KUR umumnya dapat diakses tanpa agunan tambahan sesuai ketentuan yang berlaku. Sementara Kupra menggunakan jaminan sebagai salah satu syarat pengajuan.

Meski memiliki skema yang berbeda, KUR dan Kupra sama-sama bertujuan memberikan akses permodalan bagi pelaku usaha untuk mengembangkan bisnisnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6