Sehari Bersama Suku Naulu di Pelosok Maluku, Bersahaja Meski Hidup Tanpa Cahaya

Mereka punya ciri khas. Selalu memakai ikat kepala warna merah.

Diterbitkan 01 Juni 2026, 05:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ibu-ibu Kampung Rohua, Desa Sepa, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah, lebih sibuk dari biasanya. Mereka berkumpul di satu rumah penduduk. Meramu daging kurban jadi hidangan lezat.

Daging sapi memang bukan lauk rutin warga di sana. Nyaris setiap hari, ikan laut tak pernah absen di meja makan.

"Nasib warga kepulauan," kata mereka tersenyum saat bertemu Liputan6.com pada Jumat (29/6/2026) lalu.

Sementara anak-anak Kampung Rohua tampak serius berlatih di bawah tenda. Mereka ingin menampilkan sebuah tarian. Di kampung pesisir itu, perayaan Idul Adha tak sekadar penyembelihan hewan kurban. Biasanya, mereka membuat beragam perlombaan untuk seluruh warga. Dari anak-anak hingga dewasa. Seperti lomba lari, sepak bola hingga panjat tebing. Persis kemeriahan jelang Hari Kemerdekaan 17 Agustus.

"Di sini kalau Idul Adha enggak kalah meriah dengan 17-an," kata salah satu warga.

 

Warga Kampung Adat Hidup Tanpa Sekat

Di antara kerumunan warga yang memadati tanah lapang untuk menyaksikan pentas tarian, sekumpulan pria dengan ikat kepala merah mencuri perhatian. Semua mengenakan kain sarung setinggi betis. Dua simbol yang melekat dengan keseharian mereka.

Meski penampilannya berbeda dengan warga pada umumnya, tak sedikit pun terlihat sekat di antara mereka. Berbaur dan bersilaturahmi antartetangga.

"Beliau-beliau adalah warga adat dari Suku Naulu," kata Amin, tokoh agama di kampung itu.

Suku Naulu adalah masyarakat adat yang menetap di Pulau Seram, Maluku Tengah. Mereka hidup berbaur dengan masyarakat. Meski dalam kesehariannya, Suku Naulu masih mempertahankan tradisi para leluhur secara kuat.

Jurnalis Liputan6.com berkesempatan mengunjungi kampung adat Suku Naulu. Permukiman Suku Naulu tersebar di Kampung Rohua. Bahkan jumlahnya, lebih banyak dari penduduk biasa. Tak jarang, mereka juga ditunjuk sebagai kepala dusun di sana. Sebab, sebelum banyak pendatang, konon Suku Naulu sudah lebih dulu ada di sana.

"Jadi mereka orang asli di sini. Bahkan mereka mayoritas kalau di kampung kita," ujar Amin.

Tak hanya memiliki simbol tertentu dalam berpakaian, Suku Naulu juga memiliki bahasa yang berbeda dengan warga pada umumnya. Sebenarnya, beberapa masyarakat adat bisa berbahasa Indonesia. Tetapi kurang lancar, karena memang jarang digunakan.

 

Setiap keluar rumah, pria dewasa Suku Naulu akan mengenakan ikat kepala merah. Ikat merah itu dipakai sebagai pembeda dengan warga pada umumnya. Sementara untuk wanita sudah menikah diwajibkan mengenakan sarung setiap hari.

"Tabea" kata rombongan yang tiba di kampung adat.

Pada tokoh di kampung menyambut baik. Mereka mempersilakan masuk. Suatu kehormatan karena tak sebarang orang bisa masuk ke rumah adat. Bahkan untuk memotret perkampungan adat harus meminta izi terlebih dahulu.

"Ikat merah ini tanda berani. Waktu zaman peperangan ikat itu menjadi simbol identitas, sudah dewasa baru boleh pakai ikat merah," kata salah satu tokoh saat ditanya makna dari penutup kepala yang dipakai.

 

Menjaga Tradisi Leluhur, Hidup Tanpa Pencahayaan

Sehari-hari, mereka beraktivitas seperti biasa. Mencari makan dengan berkebun dan nelayan. Perbedaan hanya pada cara mereka menjalani keseharian. Rumah-rumah Suku Naulu, mayoritas masih terbuat dari susunan papan atau bambu. Sementara bagian atapnya dari daun sagu yang tersusun rapi.

Rumah-rumah itu gelap sepanjang hari walaupun daerah sekitarnya sudah dialiri listrik. Mereka memang belum mengenal cahaya. Hunian tanpa cahaya adalah tradisi para leluhur yang masih dijaga kuat.

"Menurut leluhur sudah seperti itu, meskipun sekarang sudah ada penerangan, sejak dulu dia punya lampu enggak bisa pakai," kata Ketua Adat Suku Naulu di Kampung Rohua.

Sebagai gantinya, mereka membuat pencahayaan sendiri dengan cara tradisional dari kayu. Pencahayaan itu biasanya hanya dinyalakan malam hari.

Suku Naulu di Kampung Rohua terdiri dari lima marga. Di Dusun Rohua, mayoritas suku adat yang menetap bermarga Soumory. Menurut ketua adat, setiap marga memiliki larangan berbeda. Utamanya dalam hal makanan dikonsumsi. Misal, ada yang tidak boleh menyantap daging.

"Dan itu harus benar-benar dipatuhi pantangannya," ujarnya.

Ada tradisi lainnya yang harus dijalani para wanita dewasa Suku Naulu. Selain wajib mengenakan kain setelah menikah, mereka juga akan dipisahkan dengan suaminya ketika baru melahirkan. Mereka akan menghuni rumah khusus di kampung adat khusus ibu baru melahirkan dan bayinya.

"Waktunya tiga bulan. Jadi setelah melahirkan langsung masuk ke rumah ini, tidak boleh kembali ke rumahnya."

 

Toleransi Antar Warga hingga Berkah Hewan Kurban

Tahun ini, masyakarat adat Suku Naulu bahagia. Mereka ikut menikmati hewan kurban sumbangan warga Kampung Rohua. Total ada tiga hewan kurban distribusi Dompet Dhuafa untuk warga di sana. Daging sudah disembelih diletakkan di anyaman daun kelapa yang disebut Kamboti.

"Kami sebut ini hadiah untuk mereka, karena kita bersaudara juga. Sama-sama kami di sini semua merayakan kurban," ujar Amin.

Tokoh adat semringah menyambut pemberian. Bahkan rombongan Dompet Dhuafa yang melakukan penyerahan hewan kurban diperkenankan masuk ke dalam rumah adat.

"Kami anggap ini sebagai rezeki, karena makanan kan rezeki," kata Ketua Adat setempat.

Masyarakat adat merasa sangat tersentuh. Kebaikan hari itu, katanya, menunjukkan kerukunan antar umat muslim dan masyarakat adat di Kampung Rohua terjalin indah.

"Terima kasih atas kita semua punya kerukunan umat muslim. Di hari kurban kita bisa dapat bagian," ujarnya tersenyum.

Sebelum menyudahi silaturahmi hari itu, ketua adat bergurau. Daging kurban yang diberikan ibarat kejutan. Di tengah tangkapan ikan laut yang lagi berkurang akibat cuaca, daging kurban menjadi jawaban persoalan.

"Makasih atas kurbannya, kita mau goreng. Kebetulan juga tangkapan ikan sepi," kelakarnya disambut tawa pada rombongan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6